Website counter

Sabtu, 25 Juni 2011

Apa Motivasimu?


Baca : Matius 25 : 1 – 30
Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Matius 25 : 16

Sudah hampir enam tahun saya menjadi guru privat untuk anak-anak les dan sudah tak terhitung banyaknya anak berhasil lulus atau naik kelas selama saya bimbing. Meskipun tidak semuanya naik berhasil naik atau lulus karena ternyata ada dua orang anak didik saya yang gagal naik kelas, saya bangga bisa menjadi guru. Selama 6 tahun perjalanan saya menjadi guru, saya mengamati bahwa setiap orangtua murid sangat berharap anaknya bisa mendapat nilai terbaik dan naik kelas, sehingga mereka rela bekerja keras untuk membayar uang les yang jumlahnya tidak sedikit. Namun sayang tak semua anak mereka memenuhi harapan orangtuanya karena motivasi mereka ikut les berbeda-beda. Ada anak yang ikut les karena terpaksa, takut dengan amarah orangtua jika tidak belajar. Sehingga saat saya ajar mereka biasanya bertingkah seenaknya dan kadang malah mengajak saya bermain, atau malah sibuk sendiri melakukan sesuatu yang bagi dia menyenangkan.

Ada anak yang ikut les karena ia takut tidak naik kelas dan menjadi bahan olok-olokan. Sehingga ia tetap mau belajar dan patuh saya suruh ini dan itu, namun ia kurang aktif bertanya atau belajar buku-buku yang terkait dengan apa yang dipelajarinya. Jenis yang terakhir adalah ada anak yang memang sadar diri butuh bimbingan guru privat sehingga mereka benar-benar serius belajar supaya naik kelas dan menjadi anak yang berprestasi dalam bidang tertentu. Saya pernah mengajar anak jenis ini, dan ia sangat suka memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis sehingga saya kadang kelabakan dan mencari referensi ilmu dari buku bacaan atau internet agar bisa menjawab pertanyaan. Ia pun gemar membaca buku seperti saya sehingga tak heran pengetahuannya di atas rata-rata anak seusianya.

Motivasi yang berbeda jelas membawa dampak yang berbeda. Sekarang bagaimana dengan motivasi kita melakukan segala sesuatu, baik dalam bekerja, dalam berkeluarga, dalam melayani Tuhan atau dalam bidang apapun yang kita geluti? Apakah motivasi kita hanya sekedar menyambung hidup dalam melakukan sesuatu, atau kita sadar betul bahwa hasil yang kelak kita peroleh akan membuat hidup kita lebih baik sehingga kita sungguh-sungguh? Banyak orang hari ini memiliki mimpi besar. Ingin punya pasangan yang seimbang, ingin menjadi anak Tuhan yang rohani, ingin sukses dalam karier, ingin sukses dalam pelayanan, dll. Mereka pun berusaha mati-matian untuk capai semuanya itu. Namun ada sebagian yang gagal di tengah jalan karena memiliki motivasi yang keliru, sama seperti hamba yang memiliki satu talenta. Mereka kerja atau melayani karena terpaksa, bukan sadar diri bahwa apa yang mereka kerjakan membawa berkat untuk diri sendiri atau keluarga. Atau bisa juga mereka mati-matian bekerja untuk memenuhi nafsu duniawi sehingga tak heran Tuhan selalu mengagalkan keinginan mereka.

Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing, apakah motivasiku melakukan segala sesuatu? Apakah cenderung untuk menyenangkan diri sendiri, motivasi terpaksa, atau karena kita ingin memuliakan Tuhan. Motivasi kita adalah bahan bakar untuk kita bisa menggubah mimpi jadi kenyataan. Oleh karena itu isi diri kita dengan motivasi berkualitas nomor satu sehingga kita bisa melesat dan berhasil melewati segala macam tantangan yang ada sampai berhasil. Berikan yang terbaik untuk Tuhan dan sesama, maka Tuhan pun akan memberikan yang terbaik untuk kita. • Richard T.G.R

Pertanyaan     : Apa motivasiku sebenarnya?
Aplikasi          : Miliki motivasi yang berkualitas sehingga mendapat hasil berkualitas.
Doa                 : Tuhan, ampuni aku bila selama ini memiliki motivasi yang salah. Amin.

Minggu, 05 Juni 2011

Pengorbanan


Baca : I Samuel 25 : 1 – 35
Nama orang itu Nabal dan nama isterinya Abigail. Perempuan itu bijak dan cantik, tetapi laki-laki itu kasar dan jahat kelakuannya. Ia seorang keturunan Kaleb. I Samuel 25 : 3

Sewaktu masih kecil sampai duduk di bangku SMA, saya memelihara kucing. Ketika saya masih duduk di kelas 3 SD, kucing saya melahirkan dua orang anak yang membuat saya sukacita. Satu hari, saya iseng menganggu dua anak kucing yang sedang makan makanan yang saya sediakan. Tanpa saya duga, induk kucing yang semula jinak kepada saya marah dan langsung mencakar tangan saya sampai berdarah. Saya kaget dan langsung saja tangan saya memukul induk kucing itu sampai terjatuh. Dengan mimik kesakitan, induk kucing itu lalu mengigit leher anaknya dan memindahkannya menjauhi saya. Almarhum Papa saya yang kebetulan melihat perbuatan saya kemudian memanggil dan menasehati saya agar jangan menganggu anak-anak kucing dan memukul kucing. Induknya marah dan mencakar tangan saya karena ia melindungi anak-anaknya dan rela berkorban agar anak-anaknya tidak celaka. Saya pun akhirnya mengerti dan kemudian membelai-mbelai induk kucing yang tadi saya pukul.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, cinta adalah pengorbanan. Kalau kita berkata mencintai Tuhan atau seseorang, namun kita tak mau berkorban, itu bukan cinta. Bicara masalah pengorbanan, mari kita belajar dari Abigail. Marilah kita berandai-andai menjadi Abigail yang hidup bersama Nabal yang kasar dan jahat kelakuannya. Nabal itu suka menampar kita, memaki-maki kita dengan kata-kata kasar, selingkuh dengan perempuan lain, dan masa bodoh dengan perasaan kita. Bagaimana perasaan kita sebagai seorang istri? Sakit hati dan menderita? Betul, namun Alkitab mencatat Abigail justru membela Nabal. Ketika Daud dan pasukannya hendak menghabisi Nabal, Abigail segera datang menghampiri dan memohon ampunan. Abigail tahu suaminya brengsek dan tak pantas dibela, namun ia rela berkorban dan merendahkan diri dihadapan Daud karena ia mengasihi suaminya. Abigail berusaha selalu memberikan yang terbaik untuk Nabal walaupun Nabal tidak memberikan yang terbaik untuknya.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, apakah ada kekecewaan dan kepahitan dalam hatimu mengenai pasanganmu? Apakah Anda merasa sudah tak sanggup lagi berkorban untuk istri, suami, atau anak-anak Anda? Mari kita mencontoh teladan Abigail dengan mengambil komitmen untuk mempertahankan dan membangun keluarga, bukan menghancurkannya. • Richard T.G.R

Catatan          : Renungan ini dimuat di RHK Aletea – Kamis, 30 Juni 2011
Pertanyaan    : Apakah aku masih mau mencintai?
Aplikasi          : berkorbanlah, karena itu bukti dari kasih.
Doa                 : Tuhan, berikan aku kekuatan untuk selalu mampu berkorban. Amin.

Integritas


Baca : Kejadian 39 : 1 – 23
Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia. Kejadian 39 : 10

Semua orang pasti ingin berhasil dalam apapun perkara yang dikerjakannya. Dalam meniti karier, kita pasti ingin berhasil. Dalam membina rumah tangga, kita pasti ingin berhasil. Dalam mendidik anak, kita ingin berhasil. Dalam bergaul, kita ingin berhasil. Dalam mengikut Tuhan, kita ingin berhasil. Dalam pertumbuhan karakter, kita ingin berhasil. Namun mengapa ada orang yang bisa berhasil dalam segala hal, setengah berhasil, sedikit berhasil, dan sama sekali tidak berhasil? Bukankah mereka memiliki waktu yang sama dan kesempatan yang sama? Jawabannya hanya satu kata yaitu integritas. Seseorang yang dikatakan berhasil dalam segala hal bukan berarti ia tidak pernah mengalami kegagalan atau penderitaan. Justru orang yang berhasil dalam segala hal paling banyak mengalami kegagalan dan penderitaan dalam segala hal.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, saya yakin kita semua percaya Yusuf adalah orang yang berhasil dalam segala hal, karena firman Tuhan pun menulis hal ini. Pada kenyataannya Yusuf banyak mengalami penderitaan seperti menjadi budak, difitnah istri Potifar dan menjadi narapidana. Namun Yusuf tetaplah orang yang berhasil dalam hal karena ia memiliki dan mempertahankan integritasnya sebagai seorang pengikut Tuhan. Yusuf tak biarkan keadaan meracuni imannya, namun ia tetap berdiri teguh. Integritas Yusuf terbukti saat berulangkali istri Potifar mengajaknya tidur. Marilah kita bayangkan berdiri di posisi Yusuf, setiap hari ada wanita cantik menggoda kita dan selalu ada kesempatan. Tidak ada yang melihat kita selingkuh selain Tuhan, Yusuf pun memiliki kekuasaan penuh di rumah itu. Walau pun enak dan menyenangkan, Yusuf selalu menolak karena tahu itu dosa. Yusuf lebih memilih menderita demi integritasnya dan Tuhan yang ia sembah, daripada mencicipi kenikmatan sesaat namun Tuhan meninggalnya. Hasilnya Tuhan memuliakan hidupnya dan apapun yang dikerjakannya selalu berhasil.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, integritas seseorang kelihatan bukan saat ada banyak orang mengawasi, namun saat tak ada satu pun orang mengawasi. Anda ingin seperti Yusuf yang berhasil dalam segala hal? Belajarlah tidak kompromi dengan dosa dan berdiri teguh mempertahankan iman. Selalu katakan tidak pada godaan dosa yang datang dalam berbagai bentuk. • Richard T.G.R

Catatan          : Renungan ini dimuat di RHK Aletea – Minggu, 26 Juni 2011.
Pertanyaan    : Apakah aku memiliki integritas?
Aplikasi          : Jadilah pribadi yang berintegritas.
Doa                 : Tuhan, berikan aku kekuatan agar bisa menjadi seseorang yang berintegritas. Amin.