Website counter

Jumat, 31 Mei 2013

Selalu Ada Waktu

Baca : Amsal 17 : 25
Amsal-amsal Salomo. Anak yang bijak mendatangkan sukacita kepada ayahnya, tetapi anak yang bebal adalah kedukaan bagi ibunya. (Amsal 10 : 1)

Sebuah iklan yang di putarkan di Malaysia, menceritakan beberapa Oma yang duduk bersama di taman dan sibuk menceritakan kehebatan anak-anak mereka satu per satu, bahkan ada beberapa Oma yang tak mau mengalah dan menyombongkan pekerjaan anaknya dan penghasilan yang mereka dapatkan. Tetapi, ada satu Oma yang hanya diam dan menikmati makanannya. Oma-oma yang lain menanyakan kabar anaknya. Lalu Oma itu tersenyum dan menjawab, anak saya baik-baik saja. Lalu terlihat sebuah mobil masuk ke taman itu, semua mata tertuju kepada mobil. Ternyata, anak Oma yang pendiam tersebut datang menjemputnya. Si Oma terlihat girang dan berpamitan dengan teman-temannya, "Itu anak saya!". Anak itu menggandeng ibunya dan menanyakan kabar, lalu mengajaknya pergi jalan-jalan. Oma-oma yang lain hanya duduk terdiam melihat pemandangan yang mengharukan tersebut.

Sebagai anak, apakah kita selalu menyediakan waktu untuk orang tua kita? Kita hari ini mungkin kaya dan memiliki jabatan yang terhormat sehingga orang tua kita bangga saat menceritakan kehidupan kita, namun hal terpenting yang sangat mereka inginkan adalah kehadiran kita menemani mereka di masa tua. Salah satu bukti kita mengasihi Tuhan adalah kita mengasihi orang tua kita, apapun keadaan mereka saat ini. Jangan beralasan kita sibuk bekerja, sibuk dengan urusan keluarga, sibuk ini atau itu, karena orang tua kita dulu selalu ada waktu untuk membesarkan kita. Tuhan yang sangat sibuk selalu ada waktu untuk mengasihi kita.

Waktu berkualitas bersama orang tua tak bisa digantikan dengan apapun. Selagi kita masih memiliki orang tua, luangkan waktu untuk menelepon atau mengajak mereka berjalan-jalan. Tuhan selalu ada waktu buat kita, mari kita balas kasih-Nya dengan memberikan waktu kita untuk mengasihi orang tua. • Richard

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Wanita – Senin, 20 Mei 2013
Pertanyaan    : Berapa banyak waktu yang kita berikan untuk orangtua?
Aplikasi          : Luangkan waktu bersama orangtua?
Doa                 : Tuhan, ajar aku menjadi anak yang berbakti pada orang tua. Amin.

Ibu Teladan

Baca : Mazmur 73 : 1 – 28
Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. (Mazmur 73 : 13)

Elang betina adalah "ibu teladan". Sebelum bertelur, ia siapkan sarang di bukit. Setelah telurnya menetas, ia beri makan anaknya dengan rajin. Jika angin kencang berhembus, sang ibu merentangkan sayapnya beri perlindungan. Suatu saat, anak elang terkejut karena jatah makanan dihentikan. Ia menangis karena lapar. Hari berikutnya, anak elang kaget lagi karena sang ibu mengibaskan sayapnya dengan keras. Rumput halus pun berhamburan keluar dari sarang, tinggal duri-duri tajam yang menusuk badan. "Ibu, tega sekali?" pikirnya. Hari berikutnya lagi, anak elang terkejut saat ia didorong keluar hingga jatuh melayang. Namun saat hampir sampai dasar jurang, sang ibu segera menyelamatkannya. Demikianlah berulang kali ia dijatuhkan, sampai ia mulai bisa terbang dan belajar mencari hewan buruan. Pada saat itu, barulah ia sadar induknya telah mengajarkannya kerasnya kehidupan.

Waktu kita baru pertama kali menjadi Kristen, Tuhan tidak akan menuntut Anda terlalu banyak untuk bertumbuh, namun saat Anda sudah lebih dari sebulan jadi Kristen, Anda akan semakin banyak dituntut. Saat ini mungkin Anda merasakan yang Asaf rasakan, Anda merasa ikut Tuhan itu percuma karena berkat yang diterima jauh lebih sedikit daripada orang yang hidup seenaknya. Percuma mati-matian melawan dosa karena orang dunia hidupnya nyaman-nyaman aja tuh, dan kelihatannya semua kebutuhannya tercukupi. Hidup di dalam Tuhan jauh lebih sulit karena harus mematuhi perintah ini dan itu, kadang mendapat tegoran dari pendeta kalau melakukan dosa. Jangan pahit dengan Tuhan karena ″pukulan-pukulan-Nya″ justru akan membuat Anda jauh lebih berkualitas.

Hidup itu keras. Itulah fakta dan kenyataan yang mau tidak mau harus kita terima. Betul Tuhan mengasihi kita, betul Tuhan memberkati kita, karena itulah Tuhan bersikap lebih keras pada kita daripada kepada orang-orang lain yang tidak mau menggenal-Nya. Sekeras apapun Tuhan mendidik Anda saat ini, tetaplah tabah dan semangat. Tetaplah berjuang agar Anda semakin dewasa dan tahan uji. • Richard

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Wanita – Sabtu, 8 Mei 2013
Pertanyaan    : Apakah saya berani menghadapi fakta Tuhan mendidik saya?
Aplikasi          : Tetaplah tabah dan semangat.
Doa                 : Tuhan, terima kasih atas didikan yang boleh aku jalani saat ini. Amin.

Bagian yang Terbaik

Baca : Lukas 10 : 38 – 42
… tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." (Lukas 10 : 42)

Saya berlangganan bakmi goreng pada seorang pedagang bakmi Jowo yang setiap sore mangkal tak jauh dari rumah saya. Pernah di satu sore, saya nanti dia tak kunjung datang. Akhirnya lewat penjual bakso, namun saya tak mau. Tak lama lewat dua penjual nasi goreng keliling, saya tak tertarik. Terakhir penjual sekoteng, saya pun tak mau. Mengapa saya tak mau membeli beberapa pilihan yang lewat, dan lebih memilih menunggu sambil sesekali tepuk sana tepuk sini karena diganggu nyamuk? Karena bagi saya bakmi Jowo langganan saya adalah yang terbaik, sehingga saya tidak tergoda saat ada beberapa pedagang yang saya tidak tahu kualitas masakannya datang.

WANITA, dalam hal yang rohani pun Tuhan sudah tunjukkan satu hal yang terbaik, yaitu mendengarkan perkataan Tuhan melalui Alkitab. Namun Tuhan tidak pernah memaksa kita untuk mematuhi-Nya seperti robot karena kita diberi kebebasan untuk memilih. Kita bebas untuk memilih hidup secara duniawi, atau hidup menurut firman Tuhan. Bukankah kita dahulu memutuskan jadi Kristen karena pilihan kita sendiri, tidak ada yang memaksa bukan? Yesus sangat menghargai Maria karena ia telah memilih bagian yang terbaik. Maria bisa saja memilih untuk sibuk membantu saudarinya Marta, atau melakukan aktifitas lain seperti mencuci, berbelanja, atau tidur, namun ia memilih duduk dekat kaki Tuhan dan mendengarkan perkataan-Nya. Tidak salah kita sibuk pelayanan, sibuk bekerja mencari uang, atau aktif dalam kegiatan organisasi masyarakat, namun hendaknya semua itu tidak membuat kita melupakan prioritas utama kita sebagai murid Yesus yaitu mendengarkan dan melakukan perkataan-Nya.

Ada banyak pilihan hidup di sekitar kita dan sebagian adalah pilihan yang baik. Tuhan senang kita fokus untuk mengerjakan sesuatu yang baik sambil kita pun fokus untuk tetap melakukan bagian yang terbaik yaitu hidup seturut kebenaran Firman Tuhan. Jangan pernah biarkan hal-hal baik yang selama ini kita miliki menggeser fokus kita pada Tuhan yang terbukti paling baik. • Richard

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Wanita – Kamis, 2 Mei 2013
Pertanyaan    : Fokus akan hal apa yang selama ini kita pilih?
Aplikasi          : Pilihlah pilihan yang terbaik yaitu fokus kepada Tuhan.
Doa                 : Tuhan, bantu aku untuk selalu menomorsatukan Engkau. Amin.