Website counter
Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Juni 2013

Jarak bukan Masalah

Baca : Kejadian 29 : 1 – 30
Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel. (Kejadian 29 : 20)

Seminggu yang lalu salah satu sepupu perempuan saya menikah dan dapat pasangan orang Sumatra, tepatnya dari kota Bandar Lampung. Sepupu saya asli Semarang, sedangkan pasangannya asli Bandar Lampung. Mereka saling kenal karena sama-sama kuliah di Surabaya. Waktu saya tanya kepada suaminya, apa nggak cape waktu pacaran setelah kuliah dia harus bolak-balik dari Sumatra ke Jawa, dia berkata nggak masalah. Sepupu saya kerja di Semarang, sedangkan ia memiliki usaha di Lampung. Setiap dua minggu sekali ia naik pesawat ke Semarang untuk kencan, lalu besoknya berangkat lagi. Butuh ongkos dan waktu, namun ia menganggap tidak masalah karena cinta. Terbukti pengorbanannya tak sia-sia dan ia tak pernah merasa rugi karena cinta.

Girls, cinta bisa membuat hal yang sulit terasa mudah, hal yang berat terasa ringan, hal yang mustahil menjadi mungkin, hal yang lama terasa sebentar, oleh karena itu kerjakan segala sesuatu dengan cinta. Jika saat ini kamu mulai beban bekerja, mulai beban mengasihi sanak keluarga, atau mulai beban mengasihi Tuhan dan melayani Dia, coba diam sejenak dan renungkan hal-hal apa yang membuatmu kehilangan cinta? Tanpa cinta, hal seringan apapun akan terasa berat, sehingga coba temukan rasa cintamu yang hilang. Yakub bisa tetap semangat kerja 14 tahun meski kerja jadi gembala itu nggak gampang dan penuh tantangan, karena ia ngerti upah yang ia terima adalah Rachel, orang yang dicintainya. Meski ia sempat kecewa karena ditipu Laban setelah tujuh tahun kerja, Yakub nggak ngambek dan mau kerja tujuh tahun lagi karena cinta sama Rachel. Yuk kita tiru teladan Yakub yang nggak ngambek atau lesu karena apa yang kita kejar selama ini tak kunjung jadi kenyataan.

Kerjakan apa yang bisa kita kerjakan saat ini dengan cinta, sehingga nggak bakalan ada keluhan keluar dari mulut. Jangan pernah biarkan cinta kita kepada Tuhan dan orang-orang sekeliling kita padam karena kita lebih mencintai diri sendiri. • Richard

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Spirit Girls – Jumat, 14 Juni 2013
Pertanyaan    : Apakah saya mengerjakan berbagai kegiatan dengan cinta?
Aplikasi          : Kerjakan apa yang bisa kita kerjakan dengan cinta.
Doa                 : Tuhan, ajar kami mencintai pekerjaan yang Engkau berikan. Amin.

Jumat, 31 Mei 2013

Respon yang Berbeda

Baca : Matius 21 : 28 – 32
Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. (Matius 21 : 30)

Akhir tahun 2012 lalu aku dan beberapa sohibku nonton satu film di bioskop. Kami berlima kumpul di satu rumah lalu berangkat bareng dan membeli tiket. Sebetulnya filmnya cukup bagus menurutku, namun dua orang sohibku bilang filmnya jelek. Rupanya mereka kurang suka film model fantasi dan lebih suka film perang. Alhasil mereka tak antusias saat aku dan dua sohib yang lain cerita ke sana ke mari tentang serunya film itu.

Guys, kami punya pengalaman yang sama namun punya respon yang berbeda. Kita sama-sama orang Kristen, namun bukan berarti respon kita saat dengerini FirTu bisa sama. Klo nggak percaya, coba deh amati rekan-rekanmu saat kalian ibadah bareng. Pasti ada yang ngantuk, ada yang mainan hp, ada yang tidur, ada yang ngobrol sendiri, ada yang celingak-celinguk nyari mana ya yang cakep, dan ada yang serius. Kalau hari ini FirTu disampaikan padamu, apa responmu? Apakah kamu bersikap seperti anak yang pertama, atau anak yang kedua? Apakah kamu mau melakukan FirTu itu sekalipun nggak nyaman buat dagingmu? Atau kamu di mulut berkata oke dan mau, tapi prakteknya kamu nggak sudi melakukan FirTu itu karena ganggu kenyamananmu? Respon yang benar kepada FirTu akan membawa berkat buat dirimu sendiri. Yesus ngomong bahwa orang berdosa semacam perempuan sundal aja bisa masuk sorga duluan kalau mereka tobat dan mau terima kebenaran FirTu, sedangkan orang yang hanya dengar namun nggak mau tobat akan nyesel. Pilihan hidup kita membawa akibat buat diri kita.

Hal-hal baik atau buruk bisa saja terjadi silih berganti saat kita merespon FirTu dengan benar, namun jangan pernah ngeluh atau merasa buang-buang tenaga saat kamu melakukannya. Tuhan semangat lihat kamu mau hidup seturut FirTu dan menolak berbagai keinginan daging yang memaksamu egois dan nggak mau keluar dari zona nyaman. • Richard

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Spirit Next – Selasa, 14 Mei 2013
Pertanyaan    : Apakah ucapan dan perbuatanku selaras?
Aplikasi          : Hidup seturut firman Tuhan.
Doa                 : Tuhan, ajar kami mampu memilih yang tepat. Amin.

Jangan Pilih Kasih

Baca : Kejadian 37:1-11
Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah. (Kejadian 37:4)

Salah seorang teman saya sedang pusing dengan ketiga anaknya. Kalau ditelusuri, kesalahan sebetulnya karena ulahnya sendiri. Saat ia dan istrinya menikah, ia sangat ingin punya anak laki-laki. Oleh karena itu ia tak terlalu semangat saat anak pertama dan keduanya lahir, karena perempuan. Saat anak ketiga lahir, barulah ia semangat. Di sinilah konflik mulai timbul. Saat mereka bertiga mulai beranjak besar, terlihat kasih sayang sang Ayah berbeda. Kalau si bungsu yang minta, misalnya mobil-mobilan, pasti langsung dikasih. Padahal minggu kemarin baru saja dibelikan. Sedangkan kalau kedua kakaknya minta dibelikan buku pelajaran atau alat tulis, sang Ayah tak semudah itu membelikan. Akibatnya kedua kakaknya cemburu dan bersikap kasar pada si adik karena merasa dibedakan. Si bungsu pun menderita karena ia tak pernah mendapat perlakuan baik kalau mencoba mendekat kepada kakaknya.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, anak adalah titipan Tuhan. sehingga entah kita diberi anak laki-laki atau perempuan, kasihilah mereka dengan adil. Pilih kasih selalu membawa dampak merugikan untuk orang yang kita kasihi maupun bagi diri kita sendiri. Keluarga Yakub adalah contoh nyatanya. Karena pilih kasih kepada Rachel, Rachel dibuat mandul oleh Tuhan agar Yakub adil dalam kasihnya kepada keduanya. Rachel menanggung beban psikologis karena cemburu kepada Lea yang melahirkan enam anak. Yusuf pun turut mengalami sengsara karena sikap pilih kasih Yakub. Untuk Yakub dibuatkan jubah yang maha indah, sedangkan saudara-saudaranya yang lain biasa saja. Hal ini membuat mereka sepakat membenci Yakub dan tidak mau menyapanya dengan ramah. Sehingga tak heran satu hari kelak mereka tega menjual Yusuf, yang jelas membuat Yusuf menderita secara fisik maupun batin. Sikap pilih kasih Yakub membuat anak istrinya bermasalah.

Mungkin dahulu kita adalah korban pilih kasih kedua orangtua kita, namun jangan sampai anak-anak kita mengalaminya. Kasihilah mereka dengan adil, sehingga kelak mereka menjadi saudara yang saling mengasihi dan bersatu, bukan saudara yang saling menjatuhkan. Richard

Catatan          : Renungan ini dimuat di RHK Aletea – Senin, 6 Mei 2013
Pertanyaan    : Apakah saya suka pilih kasih dalam memperlakukan orang-orang?
Aplikasi          : Jangan pilih kasih.
Doa                 : Tuhan, ajar aku tidak pilih kasih dalam mengasihi anak-anakku. Amin.

Orang Hilang

Baca : Lukas 19 : 1 – 10
Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." (Lukas 19:10)

Dalam beberapa kesempatan saat istirahat makan siang, saya menyempatkan diri melihat acara berita kriminal di salah satu stasiun TV. Di akhir acara berita itu, akan ditayangkan berita orang hilang. Salah satu berita yang tertulis di layar kaca kurang lebih seperti ini : nama : Richard, Alamat : Semarang, Jenis kelamin : laki-laki, dst. Kadang ada juga ciri khusus misalnya ia menderita keterbelakangan mental atau kakinya timpang sebelah. Saat saya renungkan hal ini, saya menyadari bahwa keluarga si orang hilang pasti sangat mengasihinya. Mereka mau susah payah minta bantuan TV dan keluar ongkos mahal. Mereka juga mungkin menghubungi pihak kepolisian. Dan pasti ada beberapa anggota keluarga rela berjalan kaki ke sana kemari sambil bertanya-tanya pada warga perihal si orang hilang.

WANITA, saya sangat percaya jika ada anggota keluarga yang kita cintai hilang, pasti kita akan mencarinya dan meminta bantuan berbagai pihak, walaupun maaf kata ia menyusahkan kita, seperti ia menderita keterbelakangan mental. Bagaimana dengan Tuhan? Tuhan juga melakukan hal yang sama. Buktinya adalah kita sendiri. Kita semua adalah manusia berdosa dan sebetulnya tak pantas dicari dan diberi pengampunan. Namun ribuan tahun lalu Tuhan rela mati dan memuridkan banyak orang agar kita semua yang hidup di jaman sekarang pun menerima pengampunan dan kasih. Waktu ada banyak orang bersungut-sungut kepada Yesus karena makan di rumah Zakheus, Yesus secara tersirat tegur mereka dengan berkata Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.

Kalau hari ini pendeta kita sedang berusaha memenangkan orang berdosa dengan rutin melakukan kunjungan ke rumahnya atau mau menerima seseorang yang terkenal pendosa untuk beribadah di gereja kita, jangan buru-buru memusuhi pendeta dengan mengatakan ia sahabat orang berdosa dan tak mau membantunya. Yesus pun sahabat orang berdosa, sehingga bantu pendeta kita dengan mau menerima orang berdosa itu dan membantunya kembali ke jalan yang benar. • Richard

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Wanita – Jumat, 31 Januari 2013
Pertanyaan    : Bagaimana sikap saya kepada orang yang menurut kita jahat?
Aplikasi          : Kasihilah orang jahat.
Doa                 : Tuhan, ajar aku mengasihi orang yang belum diselamatkan. Amin.

Selalu Ada Waktu

Baca : Amsal 17 : 25
Amsal-amsal Salomo. Anak yang bijak mendatangkan sukacita kepada ayahnya, tetapi anak yang bebal adalah kedukaan bagi ibunya. (Amsal 10 : 1)

Sebuah iklan yang di putarkan di Malaysia, menceritakan beberapa Oma yang duduk bersama di taman dan sibuk menceritakan kehebatan anak-anak mereka satu per satu, bahkan ada beberapa Oma yang tak mau mengalah dan menyombongkan pekerjaan anaknya dan penghasilan yang mereka dapatkan. Tetapi, ada satu Oma yang hanya diam dan menikmati makanannya. Oma-oma yang lain menanyakan kabar anaknya. Lalu Oma itu tersenyum dan menjawab, anak saya baik-baik saja. Lalu terlihat sebuah mobil masuk ke taman itu, semua mata tertuju kepada mobil. Ternyata, anak Oma yang pendiam tersebut datang menjemputnya. Si Oma terlihat girang dan berpamitan dengan teman-temannya, "Itu anak saya!". Anak itu menggandeng ibunya dan menanyakan kabar, lalu mengajaknya pergi jalan-jalan. Oma-oma yang lain hanya duduk terdiam melihat pemandangan yang mengharukan tersebut.

Sebagai anak, apakah kita selalu menyediakan waktu untuk orang tua kita? Kita hari ini mungkin kaya dan memiliki jabatan yang terhormat sehingga orang tua kita bangga saat menceritakan kehidupan kita, namun hal terpenting yang sangat mereka inginkan adalah kehadiran kita menemani mereka di masa tua. Salah satu bukti kita mengasihi Tuhan adalah kita mengasihi orang tua kita, apapun keadaan mereka saat ini. Jangan beralasan kita sibuk bekerja, sibuk dengan urusan keluarga, sibuk ini atau itu, karena orang tua kita dulu selalu ada waktu untuk membesarkan kita. Tuhan yang sangat sibuk selalu ada waktu untuk mengasihi kita.

Waktu berkualitas bersama orang tua tak bisa digantikan dengan apapun. Selagi kita masih memiliki orang tua, luangkan waktu untuk menelepon atau mengajak mereka berjalan-jalan. Tuhan selalu ada waktu buat kita, mari kita balas kasih-Nya dengan memberikan waktu kita untuk mengasihi orang tua. • Richard

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Wanita – Senin, 20 Mei 2013
Pertanyaan    : Berapa banyak waktu yang kita berikan untuk orangtua?
Aplikasi          : Luangkan waktu bersama orangtua?
Doa                 : Tuhan, ajar aku menjadi anak yang berbakti pada orang tua. Amin.