Website counter

Sabtu, 08 Oktober 2011

Ayo Tertawa


Baca : Mazmur 118 : 24 – 29
Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat. Amsal 15 : 13

Tertawa memiliki banyak sekali manfaat. Selain membuat otot-otot wajah menjadi rileks, pikiran tenang, menggurangi stres dan memecahkan suasana yang kaku, ternyata tertawa bisa membantu menurunkan berat badan. Menurut sebuah studi yang dimuat dalam Internasional Journal of Obesity, tertawa terbahak-bahak bisa membantu Anda membakar lebih banyak kalori. Selama 90 menit, 45 orang menonton film atau acara komedi. Kemudian, denyut nadi dan kalori yang terbakar diukur. Tertawa terbahak-bahak ternyata meningkatkan angka kedua jenis pengukuran tersebut sampai 20%, dibandingkan menonton dengan tenang. Jadi jangan malas untuk sesekali melihat film komedi atau mentertawakan hal-hal lucu yang Anda atau rekan kerja alami.

Tuhan dalam beberapa firman-Nya secara tersirat menganjurkan kita untuk bisa tetap tertawa walaupun dalam kondisi-kondisi yang sulit. Tuhan kerap kali ijinkan kita mengalami kejadian yang membuat kita malu, namun membuat banyak orang tertawa terbahak-bahak saat menyaksikannya dengan tujuan kita bisa menghibur orang lain. Saat kita melihat orang lain bertingkah lucu dan konyol, itu tandanya Tuhan memberikan kita kesempatan untuk tertawa. Masalah dan tantangan akan selalu ada sehebat apapun kita berusaha hidup dengan baik, namun dengan bisa tetap tertawa maka jasmani dan rohani kita akan tetap sehat. Tuhan tak pernah ingin kita bermuram durja sepanjang hari hanya karena ulah rekan kerja yang menjengkelkan atau ban kendaraan kita bocor di siang hari yang terik sehingga dengan berpanas-panas ria kita menuntunnya ke tukang ban. Tuhan ingin kita menikmati hari ini dan berusaha menganti kemuraman itu dengan bisa tertawa.

Hidup kita di dunia ini singkat, oleh karena itu isi setiap hari yang kita punya dengan tindakan-tindakan yang positif. Masalah akan selalu datang silih berganti, namun kita bisa menghadapi setiap hari dengan penuh ucapan syukur dan sukacita bila kita tak hanya fokus pada masalah, namun juga peduli pada hal-hal lucu di sekitar kita. Sudahkah Anda tertawa hari ini? • Richard T.G.R

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Wanita – Rabu, 12 Oktober 2011
Pertanyaan    : Sudahkah Anda tertawa hari ini?
Aplikasi          : Tertawalah agar Anda sehat jasmani dan rohani.
Doa                 : Tuhan, ajari aku untuk bisa tetap tertawa dalam menjalani hari demi hari. Amin

Belajar Memberikan yang Terbaik


Baca : II Korintus 8 : 1 – 15
8:5 Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami. (II Korintus 8 : 5)

Magdalena Go adalah nama gembala gereja saya di Majenang sewaktu saya kecil. Ketika TK, Tante Go, demikian saya memanggilnya, mengajak saya ikut sekolah minggu. Papa dan Mama yang waktu itu tak pernah ke gereja mengijnkan. Dengan sepeda tuanya, saya dibonceng ke gereja. Ketika saya SD, gereja berlangganan majalah Cip Cop yang dijual kepada anak-anak, namun saya tak  bisa membeli karena almarhum Papa bukanlah orang yang mampu. Karena tahu saya suka membaca, tante Go memberikan gratis sampai saya lulus SD. Tante Go bukanlah orang kaya dan gereja pun kala itu masih kecil, namun ia membayar buku itu dari sebagian gajinya. Dalam pergaulan pun beliau terkenal pluralisme. Walau kedua orangtua saya bukan jemaat gerejanya, beliau kadang berkunjung. Dengan umat muslim pun beliau mudah bergaul sehingga dalam acara-acara keagamaan beliau selalu diundang. Tante Go meninggal pada tahun 2002. Saya hari ini bisa menjadi seorang Kristen dan penulis renungan karena andil beliau yang mengenalkan Tuhan sejak saya kecil.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, Almarhum Tante Go mengajarkan kepada saya dan kita semua untuk belajar memberikan yang terbaik. Untuk memberikan yang terbaik kita tak harus menunggu kaya terlebih dahulu, atau cerdas terlebih dahulu, namun berilah apa yang bisa kita beri dengan sukacita. Memberikan yang terbaik dari kelebihan kita itu mudah, namun memberikan yang terbaik dari kekurangan kita, itulah yang luar biasa dan membuat Tuhan bersukacita. Jemaat Makedonia bisa memberikan lebih sekalipun mereka kekurangan karena hati mereka penuh dengan kasih. Tuhan Yesus memuji persembahan janda yang hanya dua peser karena itulah persembahan terbaiknya.

Persembahan terbaik tidak ditentukan dari seberapa mahal atau seberapa berkualitas pemberian kita, namun dari seberapa tulus dan sukacita kita berusaha memberikan yang terbaik. Mari kita selalu berikan yang terbaik untuk Tuhan maupun orang-orang di sekitar kita. • Richard T.G.R

Catatan          : Renungan ini dimuat di RHK Aletea – Selasa, 11 Oktober 2011
Pertanyaan    : Persembahan terbaik apa yang sudah saya berikan?
Aplikasi          : Selalu berikan yang terbaik kapan pun.
Doa                 : Tuhan, mampukanlah aku untuk selalu memberi dengan sukacita dan tulus hati. Amin.

Tanah Kering


Baca : Lukas 19 : 1 – 10
Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."(Lukas 19 : 1 – 10 )

Menurut Anda, bisakah membuat sebuah biji tumbuh di tanah yang kering kerontang? Pasti tidak karena tanahnya keras sehingga biji tak mampu menembus dan tak ada air di tanah itu. Agar sebuah tanah yang kering bisa kita tanami dengan biji yang kelak bertumbuh menjadi sebuah pohon, kita harus terlebih dahulu membuat tanah itu basah dan subur. Caranya dengan menyiraminya dengan air dan diberi pupuk. Setelah tanah itu basah dan tak lagi keras, barulah biji kita tanam dan kemudian bertumbuh.

Sama seperti tanah kering yang harus terlebih dahulu dibuat basah dan subur agar bisa ditanami dengan biji, hati manusia pun sama. Memang benar di dunia ini banyak orang bebal, banyak orang yang menganggap firman Tuhan barang murahan, banyak orang yang hatinya sangat keras sehingga sulit sekali kita menginjili mereka. Tak sedikit diantara kita memilih mundur saat tahu orang itu hatinya keras dan tak mau menerima firman Tuhan dan bertobat. Kalau saat ini kita menghadapi orang yang keras hati dan ingin kita jadikan murid Yesus, belajarlah dari apa yang Yesus lakukan kepada Zakheus. Di jaman Zakheus, ada banyak orang beragama dan taat melakukan perintah Tuhan seperti para imam, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Namun kenapa Zakheus waktu itu tak mau bertobat? Karena orang-orang beragama pada waktu itu menolak Zakheus, mereka tak mau mengasihinya. Beda sekali dengan Yesus. Yesus memperlakukan Zakheus sebagai seorang sahabat dengan mengundang diriNya sendiri datang ke rumah Zakheus. Hati Zakheus yang semula keras menjadi lembut karena Yesus memperlakukannya dengan penuh kasih.

Sampai hari ini banyak orang yang hatinya keras dan kering sesungguhnya membutuhkan Tuhan. Tugas kita untuk memenangkan mereka dengan terus menerus membagikan kasih kepada mereka. Memang butuh waktu lama untuk menggubah hati yang keras menjadi lembut. Namun kalau kita tak jemu-jemu mengasihi, pasti kita mampu memenangkan mereka. Mari kita menangkan sebanyak mungkin orang yang hatinya keras dengan terus menerus menyirami mereka dengan kasih, bukan dengan penghakiman. • Richard T.G.R

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Spirit Next – Minggu, 9 Oktober 2011
Pertanyaan    : Apakah aku sabar mengasihi orang yang tidak tahu terima kasih?
Aplikasi          : Jangan pernah berhenti menabur kasih.
Doa                 : Tuhan, ajar aku terus menyirami sesamaku dengan kasih. Amin.