Website counter
Tampilkan postingan dengan label Tanggung Jawab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanggung Jawab. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 April 2013

Jam Gandhi

Baca : Mazmur 90 : 1 – 12
Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. (Mazmur 90 : 12)

Ketika Mahatma Gandhi tinggal dan belajar di Inggris, saudara lelakinya mengirimi jam poket yang terbuat dari emas. Ketika Gandhi memutuskan untuk tidak lagi memakai pakaian dan bergaya hidup Inggris, ia kembali memakai pakaian India yang sangat sederhana, namun ia tetap memakai jam poket tersebut. Gandhi percaya bahwa itu adalah hal paling berguna yang ia miliki. Gandhi membawa jam poket itu selama hidupnya. Ia paham begitu banyak hal yang harus dikerjakan sehingga tak boleh ada waktu terbuang sedikitpun. Ia menyetel alarm jam itu pukul 4 pagi setiap hari dan menyimpan segala sesuatu dengan rapi sehingga ia tidak perlu membuang waktu untuk mencari apa yang dibutuhkan. Gandhi menganggap bahwa keterlambatan adalah hal yang tidak pantas sehingga ia mengisi setiap menit dalam hidupnya dengan hal yang berguna.

Girls, ketahuilah bahwa waktu adalah aset yang sangat berharga dan tak ternilai harganya. Meski waktu kita sepertinya sangat banyak dan bisa kita gunakan sesuka hati, namun sebetulnya waktu hidup kita sangat singkat. Firtu bicara umur kita paling banyak delapan puluh tahun. Seandainya bisa lebih pun biasanya udah sakit-sakitan dan berpantang makan ini dan itu. Udah jarang banget kita temukan orangtua yang umurnya di atas tujuh puluh tahun masih sehat dan lincah. Kebanyakan udah duduk di kursi roda dan untuk makan pun harus disuapi. Nah, mumpung masih muda, yuk kita hitung kegiatan apa aja yang udah kita lakuin. Apakah kita lebih banyak menghabiskan waktu buat kegiatan yang nggak jelas manfaatnya atau hanya demi memuaskan kedagingan seperti suka tidur, suka nonton sinetron, suka makan, dan bergosip. Musa ngajarin kita menghitung hari agar ngerti bahwa waktu yang udah berlalu itu nggak bisa kembali. Kalau kita santai-santai ngerjain sesuatu yang produktif di masa muda, jangan salahkan siapapun kalau kita menderita di masa tua.

Gandhi dikenang dunia sebagai sosok yang melakukan perlawanan tanpa kekerasan dan bapak negara India karena sangat menghargai waktu. Sebagai generasi muda masa kini, mari sama-sama menghargai waktu berapapun usia kita saat ini. • Richard

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Spirit Girls – Minggu, 28 April 2013
Pertanyaan    : Apa saja kegiatan utamaku sehari-hari?
Aplikasi          : Hargai waktu.
Doa                 : Tuhan, ajar kami menghitung hari-hari kami agar beroleh hati yang bijaksana. Amin.

Jumat, 27 Juli 2012

Dibatasi Waktu

Baca : Mazmur 90 : 1 – 12
Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. (Mazmur 90 : 12)

Seminggu yang lalu aku janjian ketemuan ama temanku pukul 6 sore, sedangkan pukul setengah 6 sore aku harus ambil uang mengajar di satu tempat yang jaraknya bolak-balik makan waktu satu jam, dan aku belum makan. Dua acara ini cukup mendadak, yaitu pukul lima aku memutuskan melakukannya sekaligus. Karena waktu sangat terbatas, aku ngebut dari tempatku ke tempat aku ambil uang. Dalam dua puluh menit aku sampai dan uang bisa kuambil. Bergegas aku makan di warung nasi goreng terdekat, makan waktu 20 menit. Aku lalu ngebut lagi ke tempat temenku, makan waktu 20 menit. Tiga acara berhasil aku selesaikan, karena aku sadar waktu sangat berharga dan terbatas.

Guys, dalam momen tertentu, kita bisa santai dan boros menggunakan waktu. Biasanya kita santai karena nggak ada batas waktu atau nggak ada acara penting. Namun klo kita harus melakukan beberapa tindakan penting dalam waktu yang terbatas, seperti yang aku alami, nggak mungkin banget deh kita santai-santai. Andaikata waktu itu sebetulnya nggak cukup kalau ditempuh dengan cara biasa, maka kita akan ngebut dalam bertindak. Penting  nggak penting kegiatan kita hari ini, waktu sebetulnya sangat berharga dan waktu yang udah berlalu nggak bakalan bisa kembali. FirTu dengan sangat jelas nulis umur kita itu sangat terbatas. Paling banyak delapan puluh tahun. Kalau masih hidup, biasanya badan udah loyo, sakit-sakitan, dan beberapa organ tubuh nggak berfungsi maksimal. Ada sih beberapa orang yang cukup beruntung masih sehat sampai sembilan puluh tahun lebih, tapi itu jarang banget.

Guys, mumpung kita masih kuat, masih muda, lagi kuat-kuatnya, yuk isi hidup kita dengan melakukan sebanyak mungkin tindakan positif, bukannya santai-santai main game berjam-jam or males belajar. Dipakai nggak dipakai, waktu jalan terus, oleh karena itu gunakan waktu yang kamu punya sebaik mungkin untuk kemuliaan Tuhan dan demi kebaikan dirimu sendiri. • Richard T.G.R

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Spirit Next – Rabu, 18 Juli 2012
Pertanyaan    : Apakah aku gunakan waktumu dengan produktif?
Aplikasi          : Gunakan waktu yang ada untuk kegiatan produktif.
Doa                 : Terima kasih untuk waktu yang boleh aku miliki Tuhan. Amin.

Senin, 12 Maret 2012

Lempar Tanggung Jawab

Baca : Kejadian 16 : 1 – 16
Lalu berkatalah Sarai kepada Abram: "Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu; akulah yang memberikan hambaku ke pangkuanmu, tetapi baru saja ia tahu, bahwa ia mengandung, ia memandang rendah akan aku; TUHAN kiranya yang menjadi Hakim antara aku dan engkau." (Kejadian 16 : 5)

Dalam kehidupan sehari-hari, kadang kita temui ada orang-orang yang tidak mau bertanggung jawab untuk keputusan dan tindakan yang sudah ia perbuat. Kita bisa menemukan orang jenis ini di mana saja, entah di tempat kerja, gereja, lembaga pemerintahan, bahkan keluarga kita sendiri. Mengapa orang tidak mau bertanggung jawab? Karena tidak mau kelihatan salah dan tak mau repot membereskan kegagalan atau kerusakan yang terjadi karena keputusannya.

Dalam Kejadian 16 kita bisa belajar akibat dari melempar tanggung jawab. Sarai sudah mendapat janji dari Tuhan bahwa satu saat ia pasti memiliki anak. Namun seiring berjalannya waktu Sarai mulai ragu bahwa anak itu lahir dari rahimnya sehingga ia menyuruh Abraham menikahi Hagar. Di sinilah masalah muncul. Hagar mengandung dan akhirnya memandang rendah Sarai. Sarai yang merasa terhina tidak mau mengakui bahwa penghinaan atas dirinya bisa terjadi karena keputusannya sendiri. Ia menuding Abraham yang harus bertanggung jawab atas penderitaan yang ia tanggung. Kalau saja dari semula Sarai tak membujuk Abrahan memperistri Sarai, tentu ia tak perlu menanggung malu dan Hagar mengalami penindasan yang kelak berujung pengusiran Hagar dan Ismael.

Kalau kita mau bertanggung jawab untuk suatu masalah yang mendatangkan keuntungan bagi kita, mengapa kita tak mau atau melempar tanggung jawab untuk masalah yang mendatangkan kecelakaan atau penderitaan bagi kita? Tanggung jawab berarti kita mau melakukan apa yang harus kita lakukan, termasuk hal-hal yang merugikan diri kita. Berani berbuat maka harus berani pula bertanggung jawab. Marilah kita menjadi murid Yesus yang mau bertanggung jawab untuk apapun keputusan yang sudah kita buat. • Richard T.G.R

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Spirit Woman – Senin, 05 Maret 2012
Pertanyaan     : Apakah aku mau bertanggung jawab dalam segala hal?
Aplikasi          : Bertanggung jawab untuk segala keputusan kita.
Doa                : Tuhan, ajar aku menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Amin.

Jumat, 09 Desember 2011

Hak dan kewajiban

Baca : Lukas 17 : 7 – 10
Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. (Lukas 17 : 8)

Sewaktu kita masih duduk di bangku sekolah dasar, kita pasti belajar tentang hak dan kewajiban. Hak adalah sesuatu yang selayaknya kita terima sedangkan kewajiban adalah tanggung jawab yang harus kita lakukan. Untuk bisa menerima hak, kita harus melakukan kewajiban. Kewajiban adalah syarat untuk kita menikmati hak.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, hidup kita dipenuhi berbagai macam hak dan kewajiban. Tanpa perlu kita bahas satu per satu, kita sesungguhnya sudah tahu mana yang menjadi kewajiban kita dan mana yang menjadi hak kita. Namun lucunya kadang ada beberapa orang di antara kita hanya fokus pada hak saja, namun mengabaikan kewajiban. Kita menuntut perusahaan memberikan kenaikan gaji dan tunjangan ini itu, namun kita melakukan kewajiban setengah-setengah. Kita menuntut berkat pada Tuhan, namun kita tidak melakukan kewajiban kita sebagai muridNya. Kita menuntut anak kita jadi cerdas dan juara sekolah, namun kita tak mau mendampinginya belajar dan memberikan sarana yang ia butuhkan.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, lakukan kewajiban Anda terlebih dahulu secara maksimal, maka barulah Anda bisa menikmati hak. Jangan jadikan alasan gaji kita kecil, tuntutan kerja terlalu berat atau fasilitas yang tak memadai sebagai alasan kita tidak melakukan kewajiban, namun jadikan kekurangan dan beban itu sebagai sarana untuk kita melakukan yang terbaik dalam kewajiban kita. Lakukan dahulu kewajiban kita, maka barulah kita pantas mendapatkan hak kita. {rtgr}

Catatan          : Renungan ini dimuat di RHK Aletea – Kamis, 8 Desember 2011
Pertanyaan    : Sudahkah aku melakukan kewajiban sebelum meminta hakku?
Aplikasi          : Lakukan dahulu kewajiban.
Doa                 : Tuhan, ajar aku melakukan kewajiban sebaik mungkin sebelum menuntut hak. Amin.

Sabtu, 10 September 2011

Jangan Sembunyi

Baca : Kejadian 3 : 1 – 24
Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. (Kejadian 3 : 8)

Pertengahan tahun 2011 lalu, berita tanah air dihebohkan oleh ulah seorang istri mantan petinggi Polri yang diduga ikut terlibat dalam kasus suap. Supaya urusan ini jelas, KPK memintanya untuk datang ke kantor KPK dan memberikan keterangan sebagai saksi. Namun sang istri ini tak hadir dengan alasan sedang berobat ke luar negeri karena menderita penyakit lupa berat. Begitu berat penyakit lupanya sampai-sampai si istri lupa pulang ke tanah air dan keluarganya pun seakan lupa ia sekarang sedang berada di negara mana. Akibat tak kunjung muncul dengan alasan sakit lupa, KPK menaikkan statusnya menjadi tersangka, dan meminta bantuan Interpol untuk mencari dan menangkapnya. Lalu apa alasan sederhana si istri lupa pulang dan pihak keluarga tak mau memberitahu di mana keberadaannya? Takut menerima hukuman. Kalau tidak bersalah kenapa takut pulang, betul tidak?

Keluarga yang dikasihi Tuhan, kisah di atas adalah satu kisah yang nyata-nyata terjadi di negara kita. Sekarang bagaimana dengan hidup kita sendiri? Apakah kita tanpa sadar juga suka sembunyi-sembunyi dengan Tuhan karena kita melakukan suatu dosa atau kesalahan yang kebetulan belum diketahui orang lain? Mungkin kita bukan koruptor, tidak merugikan negara, tidak merugikan perusahaan tempat kita bekerja, tidak merugikan gereja tempat kita beribadah, namun apakah kita menyembunyikan satu dosa dan tak mau mengakuinya kepada Tuhan? Kita begitu senang menuding kesalahan dan dosa orang lain, ada pula segelintir orang yang menghakimi seakan-akan dirinya sendiri sudah benar. Cobalah kita mengoreksi diri sendiri, jangan-jangan kita pun menyimpan dosa. Kisah manusia jatuh dalam dosa adalah contoh bahwa sembunyi tak akan pernah menyelesaikan masalah. Hidup kita tak akan tenang sampai kita mengakui dosa itu kepada Tuhan.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, damai sejahtera hanya bisa kita dapat kalau kita mau terbuka dan mengakui dosa. Jangan pernah ″menyimpan bangkai″ karena bau busuknya pasti akan tetap tercium juga. Jadilah seorang Kristen yang berani bertanggung jawab atas setiap kesalahan dan dosa yang kita buat. • Richard T.G.R

Catatan          : Renungan ini dimuat di RHK Aletea – Jumat, 30 September 2011
Pertanyaan    : Apakah aku menyembunyikan dosa?
Aplikasi          : Jadilah pribadi yang berani bertanggung jawab.
Doa                 : Tuhan, ajar aku mau terbuka dengan-Mu. Amin.