Website counter
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Februari 2010

Persiapan Pulang


By : Richard T.G.R

Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Matius 24 : 42

Baca : Matius 25 : 1 – 13


Beberapa waktu yang lalu saya pergi ke Kota Solo selama satu hari. Karena hanya satu hari, saya membawa beberapa pakaian yang saya taruh dalam sebuah tas kecil. Hal berbeda akan saya lakukan kalau pulang ke Kota Majenang. Saya akan membawa satu tas ransel besar untuk membawa pakaian yang akan saya pakai di sana selama satu minggu. Kalau saya pergi ke Kota Padang untuk menjadi tim relawan korban gempa, saya tentu tak hanya membawa pakaian sebanyak mungkin, namun juga obat-obatan, makanan instant, dan tenda, sebanyak yang mampu saya bawa karena saya tak tahu berapa lama tinggal di Kota Padang. Intinya, semakin lama atau beresiko kita pergi ke suatu tempat, maka persiapan kita akan semakin detail dan lengkap.

Kalau untuk bepergian ke luar kota atau luar negeri saja kita memiliki persiapan, bagaimana persiapan kita pergi ke rumah Tuhan? Suka tidak suka, mau tidak mau, satu hari kelak kita akan mati, hanya saja kita tidak tahu kapan waktu dan caranya. Selama hidup di dunia, saat kita pergi ke suatu tempat kita tentu mempersiapkan segala sesuatu yang bersifat duniawi seperti kesehatan, uang, pakaian, dll. Namun untuk pergi ke surga, kita tentu harus menyiapkan hal-hal yang bersifat rohani seperti iman kita, dan cara hidup kita menjadi seorang Kristen. Tuhan sangat berharap kita menjadi lima gadis bijaksana yang memiliki persiapan dini. Jangan anggap karena kita masih muda, kaya atau sehat, kita bisa berbuat dosa seenaknya dan bertobat di waktu tua.

Hari kematian atau hari kedatangan Tuhan itu seperti pencuri dan kita tidak bisa menebak kapan Dia datang atau memanggil kita pulang walaupun ada ramalan berkata bumi akan kiamat pada tahun 2012. Hal terbaik yang harus kita lakukan sekarang adalah selalu gunakan waktu yang kita punya untuk memuliakan nama-Nya di manapun atau apapun pekerjaan kita. Sudahkah Anda siap pergi ke rumah Tuhan?


* Di muat di Renungan Harian Spirit Woman – Januari 2010
 

Abide With Me


By : Richard T.G.R

Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Tetapi mereka sangat mendesak-nya, katanya: "tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Lukas 24 : 28 – 29

Baca : Lukas 24 : 13 – 35


Tinggal sertaku hari telah senja. Gelap makin turun, Tuhan tinggallah. Lain pertolongan tiada kutemukan, maha penolong tinggal sertaku. Hidupku surut ajal mendekat, nikmat duniawi hanyut lenyap, tiada yang tahan, tiada yang teguh. Kau yang abadi tinggal sertaku. Aku perlukan Dikau tiap jam, dalam cobaan Kaulah yang kupegang. Siapa penuntun yang setaraMu, siang dan malam tinggal sertaku.” Sebait lagu di atas merupakan lagu penghiburan di kala papa saya meninggal dunia (28 Agustus 2009) beberapa waktu lalu. Belakangan saya baru tahu bahwa lagu tersebut merupakan lagu lama yang di buat pada tahun 1847 oleh Henry F. Lyte yang berjudul Abide With Me.

Di tinggal untuk selama-lamanya oleh orang yang saya kasihi, merupakan sesuatu yang tidak mudah saya terima. Di mata saya, papa merupakan sosok yang selalu berusaha memenuhi kebutuhan kami anak-anaknya, termasuk saya agar bisa sekolah di Semarang. Saat saya sedang berbeban berat, papa selalu memberikan nasehat-nasehat yang menguatkan. Kalau hari ini saya bisa menjadi penulis, itu semua bisa terjadi karena dukungan doa dan motivasi dari papa, walaupun tidak kelihatan. Rasa kehilangan yang saya rasakan kurang lebih sama dengan para Murid Yesus saat Dia mati. Para murid kehilangan guru yang selama ini bersama-sama mereka, mengajar mereka, berjalan ke sana ke mari, ngobrol, makan, dan tidur bersama mereka. Namun, setelah tiga hari berlalu, Tuhan menggenapi janji-Nya bahwa Ia hidup kembali. Dukacita berganti menjadi sukacita karena Yesus hidup.

Kalau hari ini, ada diantara kita mengalami kesedihan karena kehilangan orang yang kita kasihi, ingatlah bahwa Tuhan selalu bersama-sama kita walaupun Dia tak kelihatan. Dia akan selalu ada menemani kita dalam segala keadaan, dan satu hari kelak kita akan bertemu Dia muka dengan muka dan juga orang-orang yang kita kasihi, kalau kita tetap setia mengikut Tuhan.


* Di muat di Renungan Harian Spirit Girls – Januari 2010
 

Mangga dan Jagung


By : Richard T.G.R

By : Richard T.G.R
Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, ..... yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah. Yeremia 17 : 8

Baca : Yeremia 17 : 7 – 8 dan Matius 25 : 14 – 30


Bagi kita yang suka berkebun atau bercocok tanam, tahukah kita perbedaan antara menanam pohon jagung dan pohon mangga? Mungkin kita akan menjawab bahwa menanam jagung lebih mudah dan lebih cepat berbuah sedangkan menanam mangga membutuhkan waktu yang lama untuk berbuah dan perawatannya harus telaten. Jawaban itu benar, namun ada satu lagi jawaban. Pohon jagung sebaik apapun mutunya, ia hanya akan menghasilkan buah sekali setelah itu mati, sedangkan pohon mangga bisa berbuah berkali-kali pada musimnya untuk waktu yang cukup lama. Memang secara perawatan lebih mudah jagung, namun secara hasil pohon mangga lebih banyak menghasilkan buah dan harga buahnya lebih mahal daripada harga setongkol jagung.

Hari ini, dengan cara apa kita mengelola sumber daya yang Tuhan? sumber daya berupa talenta, uang, dan waktu kita, sudahkan semua itu di gunakan untuk terus menerus menghasilkan buah, atau hanya sekali berbuah setelah itu mati? Dalam hal keuangan, apakah gaji yang kita dapat setiap bulan langsung habis untuk kebutuhan sehari-hari atau gaji itu sebagian kita gunakan untuk usaha sampingan? Dalam hal pelayanan, sudahkah talenta kita digunakan sehingga menghasilkan banyak buah atau talenta tersebut kita kubur dan tidak di kembangkan? Dalam hal waktu, sudahkan kita menggunakan waktu kita secara efisien untuk bekerja melayani Tuhan dan mencari nafkah atau waktu kita sia-siakan untuk malas-malasan?

Tuhan ingin kita berbuah banyak dalam mengikut Dia. Tidak mudah untuk bertumbuh secara cepat. Seperti pohon mangga, kita harus rela meluangkan waktu untuk memberi perhatian dan perawatan supaya firman yang Tuhan tanamkan dalam hati bertumbuh dengan baik. Kita harus telaten membasmi hama-hama penganggu yaitu dosa-dosa dan kebiasaan yang tidak berkenan dihadapan Tuhan. Kita harus bertahan menghadapi angin dan hujan masalah dalam hidup. Saat bertahan menghadapi semua itu, pada waktunya akan kita dapati kita bertumbuh menjadi orang Kristen yang kuat dan berbuah dengan baik. Jadilah seperti pohon mangga yang terus berbuah lebat dan kuat dalam menghadapi alam.


* Di muat di Renungan Harian Spirit Motivator – Maret 2009

Self Control


By : Richard T.G.R

Taruhlah sebuah pisau pada lehermu, bila besar nafsumu! Amsal 23 : 2

Baca : Amsal 23 : 1 – 5


Saat baru bekerja beberapa bulan menjadi karyawan di sebuah perusahaan farmasi, akhir bulan adalah hari yang menyenangkan bagi saya karena menerima gaji. Setiap menerima gaji, keinginan hati saya adalah pergi ke mall, membeli kebutuhan sehari-hari, atau membeli buku karena saya suka membaca buku. Namun sangat di sayangkan, waktu itu saya tak bisa mengelola keuangan secara bijak sehingga gaji yang harusnya cukup sampai akhir bulan bahkan lebih, sering habis di tengah bulan. Hal ini bisa terjadi karena saat belanja, saya justru belanja sesuatu yang sebetulnya tidak perlu. Saya membeli sesuatu yang di diskon besar-besaran, membeli barang elektronik atau pakaian yang sebetulnya tak di butuhkan, atau mentraktir teman karena dompet masih tebal. Beruntung saya lalu belajar mengendalikan keinginan hati untuk tidak beli ini beli yang kurang penting sehingga bisa menabung dan perpuluhan. Pengeluaran saya pun di gunakan untuk sesuatu yang bermanfaat.

Banyak orang memiliki problem yang dahulu saya alami, sulit mengatur keuangan padahal gaji lumayan gede. Supaya pengeluaran dan pemasukan kita seimbang, apakah kita perlu bersikap kikir? Apakah kita harus mencari tambahan penghasilan? Kikir jangan, namun mencari penghasilan boleh selama kita bisa membagi waktu, dan yang paling penting kita harus memiliki penguasaan diri. Banyak diantara kita yang mungkin saat ini bergaji 10 juta, 30 juta atau bahkan 100 juta, namun kok bisa terlilit hutang dan tak mampu mencukupi kebutuhan keluarga? Ada juga karyawan yang bergaji di bawah dua juta bisa memenuhi kebutuhan hidup anak istrinya, bahkan bisa menabung padahal ia hidup di Jakarta. Kuncinya bukan pada uangnya namun bagaimana kita menggunakannya. Penguasaan diri adalah salah satu kunci sukses untuk kita bisa berhasil dalam hal apapun. Kendalikan keinginan hati kita dalam menggunakan uang atau harta kita sehingga segala kebutuhan kita terpenuhi dan nama Tuhan di muliakan. 


* Di muat di RHK Aletea – Januari 2010
 

Jadilah Teladan


By : Richard T.G.R

Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita -- dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah.
Kisah Para Rasul 9 : 36

Baca : Kisah Para Rasul 9 : 36 – 43


Tuminah bukanlah nama seorang pengusaha kaya raya baru, bukan pula seorang artis yang sedang naik daun, bukan juga seorang pendeta yang memenangkan ribuan jiwa. Tuminah hanyalah salah satu orang yang bekerja di dapur umum Kota Padang untuk memberi makan para korban gempa. Tuminah pun sebetulnya salah satu korban gempa. Rumah kontrakannya rata dengan tanah dan ia pun terpaksa tinggal di tenda darurat. Namun ia tak mau larut dalam kesedihan. Ia mengabungkan diri dengan para relawan begitu dapur umum dibuka dan membantu memasak nasi, mie instant atau sarden kalengan. Tuminah senang dengan tugasnya. Baginya menolong orang lain adalah sesuatu yang menyenangkan walau harus berlelah-lelah tanpa mendapat upah. Kisah Tuminah hanyalah sepenggal kisah di antara ratusan kisah para relawan yang sekuat daya menolong para saudara kita di Sumatra Barat.

Tidak ada yang bisa menggantikan "kehidupan" sebagai alat paling efektif untuk memberitakan Injil. Bagaimana Yesus membawa pertobatan? Dengan teladan hidup-Nya yang di bagikan. Bagaimana gereja mula-mula memberitakan Injil? Dengan kehidupan murid-murid Yesus yang dibagikan juga. Bagaimana dengan hidup kita hari ini? Bukan masalah jabatan kita pendeta, pengerja, atau karyawan, bukan juga masalah sudah berapa lama kita dibaptis dan lahir baru, namun sudahkah hidup kita menjadi inspirasi dan teladan orang lain?

Hari ini banyak sekali orang Kristen kita jumpai dan tak sedikit pula orang non nasrani sesungguhnya ingin mengenal Yesus. Namun sayang, banyak hidup orang Kristen tidak menjadi teladan yang baik. Banyak orang Kristen hari ini hanya hebat secara teori Alkitab, namun kehidupan sehari-harinya tak beda jauh dengan orang dunia sehingga orang tidak respek saat mengajak mereka bergabung. Penginjilan paling efektif adalah dari hidup Anda sendiri, sudahkah hidup Anda menjadi garam dan terang dunia?

Seleksi


By : Richard T.G.R

Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.
Matius 24 : 13

Baca : Matius 24 : 3 – 14


Mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita semua akan menghadapi seleksi dalam berbagai hal. Seleksi di mulai saat kita pertama kali di buahi dalam kandungan. Kita harus berlomba dengan ribuan sel sperma lain untuk bisa membuahi sebuah sel telur. Kalau kita hari ini seorang atlit, kita harus di seleksi melalui suatu perlombaan sebelum berhasil mendapatkan piala dan menjadi juara. Saat kita melamar pekerjaan, kita harus berkompetisi dengan para pelamar lain sebelum kita dinyatakan di terima bekerja. Seleksi adalah ujian paling jujur bagi semua mahluk hidup di muka bumi. Seleksi akan membuat kita menunjukkan kemampuan terbaik dan bertahan menghadapi kerasnya hidup.

Di dalam Kekristenan, Tuhan juga melakukan hal yang sama. Hari ini kita tahu banyak sekali orang Kristen di sekitar kita, banyak gereja memiliki jemaat berjumlah ribuan orang, namun apakah itu jaminan bahwa kita semua yang mengaku Kristen dan datang ke gereja pasti kelak masuk surga? Tidak selalu. Bukan jaminan bahwa orang yang kelihatan rohani, aktif kegiatan gereja, omongannya selalu berbau-bau rohani, pasti masuk surga. Matius 7 : 21 dengan tegas menulis : "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." Kalau hari ini kita hanya rohani di gereja namun perbuatan kita sehari-hari bertolak belakang dengan Firman Tuhan, kita sudah pasti gagal dalam seleksi yang Tuhan berikan.

Lalu, bagaimana caranya kita bisa lulus seleksinya Tuhan, padahal ujian di dunia itu tidak kita ketahui sampai kapan waktunya? Bisa saja ujian itu hanya satu tahun, lima tahun, atau satu minggu karena kita tak tahu berapa lama lagi kita akan hidup. Bertahanlah sampai akhir, itulah jawaban yang Tuhan berikan. Walaupun dunia bengkok dan rusak karena dosa, mari kita hidup dalam kekudusan seperti yang Tuhan perintahkan sampai Dia memanggil kita pulang.

Penghargaan


By : Richard T.G.R



Aku tidak memerlukan hormat dari manusia. Yohanes 5 : 41

Baca : Yohanes 5 : 19 – 47


Siapa sih orang di dunia ini yang tak butuh penghargaan? Jujur harus di akui, apapun yang kita perbuat, kita tentu berharap orang lain menghargai jerih payah kita dan memujinya. Bagi yang suami-suami, kita tentu sangat bahagia kalau memiliki istri dan anak yang dengan tulus memuji kita sebagai kepala keluarga yang baik karena sudah bekerja keras memenuhi nafkah keluarga dan membimbing mereka. Sebagai seorang anak, kita tentu sangat bangga saat orangtua memuji karena suatu prestasi yang telah kita capai, katakanlah kita berhasil lulus kuliah. Sebagai seorang istri, kita tentu sangat bahagia, saat suami dengan tulus memuji masakan kita.

Penghargaan itu penting, namun seberapa penting penghargaan di mata kita? Ada orang yang menggangap bahwa penghargaan adalah sesuatu yang sangat berharga, bahkan melebihi apapun sehingga dia akan sangat terluka harga dirinya saat orang lain tidak menghargai apa yang dia perbuat. Apapun orang rela lakukan demi mengejar penghargaan, ikut berbagai kompetisi, menyumbang uang untuk acara amal secara besar-besaran sampai di liput media, atau sibuk dengan segala macam kegiatan gereja. Tanpa sadar banyak orang lupa apa sebenarnya tujuan utama dia hidup, namun mencari penghargaan semu. Banyak orang mau beramal atau menolong orang bukan karena tulus memberi, namun supaya dia mendapat pujian dan di liput media.

Apakah hari ini Anda juga mengejar penghargaan yang sia-sia dari manusia? Kalau ya, belajarlah dari Yesus. Tidak ada penghargaan yang Yesus raih selama hidup-Nya. Yesus hanya populer dikalangan orang miskin, pelacur, orang sakit, penduduk Samaria, pemungut cukai dan orang-orang rendahan lainnya. Yesus dimusuhi para pemimpin. Di akhir hidup-Nya Yesus mati dengan sangat menyedihkan. Namun, kita tahu bahwa sekarang Yesus menjadi figur nomor satu yang sangat mengubah dunia. Jangan pernah sia-siakan hidup Anda untuk mengejar penghargaan dari manusia, namun kejarlah visi Anda dalam Kristus.










Failure


By : Richard T.G.R

Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat. II Korintus 12 : 10


Baca : Roma 8 : 18 – 30


Siapakah motivator terhebat? Sebagian Anda mungkin akan menjawab Andrie Wongso. Jawaban Anda benar, namun bukan dia. Anda mungkin akan berkata Mario Teguh, jawaban Anda tidak salah, namun bukan dia yang terhebat. Anda mungkin mengambil nama motivator dari luar negeri, James Gwee atau Zig Ziglar, jawaban Anda tepat tetapi bukan mereka. Lalu siapa dong? Motivator terhebat adalah kegagalan Anda sendiri. Kegagalan Anda tidak banyak mulut namun menunjukkan dengan jujur di area mana Anda lemah dan harus berubah.

Kegagalan adalah motivator terhebat, saya sendiri pernah merasakannya. Saat saya pertama kali menulis, saya harus berkali-kali menerima kegagalan di tolak redaksi dan memperbaiki tulisan. Sekarang saya sudah jauh lebih baik walaupun bukan yang terbaik. Banyak orang sukses belajar dari kegagalan. Petrus harus berkali-kali gagal sebelum menjadi seorang rasul yang berani. Thomas Alfa Edison harus ribuan kali gagal sebelum berhasil menciptakan bola lampu. H.C Andersen berkali-kali ditolak tulisannya sebelum sukses dengan dongeng-dongengnya yang terkenal. Walt Disney berkali-kali di tolak sebagai illustrator dan berhutang makan sebelum sukses menciptakan tokoh kartun Mickey Mouse. Ketika seseorang bertemu dengan kegagalan, satu-satunya cara yang paling logis adalah bangkit kembali dan melakukan sesuatu dengan lebih baik.

Tahukah Anda mengapa buku-buku motivasi dan seminar-seminar motivasi laris manis walaupun harus merogoh kocek lumayan mahal? Karena banyak orang merasa gagal dan takut gagal. Ironisnya, banyak orang baca buku motivasi atau mengikuti seminar motivasi, namun sedikit sekali yang benar-benar bangkit dan berhasil sukses. Hal ini bisa terjadi karena sebagian besar orang tak mau berubah dan hanya menjadi pendengar yang baik. Tuhan memberikan kita kebebasan untuk menjadi orang sukses atau orang gagal, manakah yang Anda pilih?

Trust


By : Richard T.G.R

Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.
Yohanes 14 : 11

Baca : Yohanes 14 : 1 – 14


Apa yang akan Anda lakukan kalau seorang sahabat atau teman satu kos, mendadak meminjam uang untuk membayar kos atau membeli makan karena belum mendapat kiriman dari kampung halaman? Kalau kita ada uang lebih, biasanya kita akan memberikan apa yang ia butuhkan tanpa banyak embel-embel. Kita tidak perlu bukti diatas kertas, tidak ada jatuh tempo pembayaran. Kita mau memberikan, karena kita percaya sahabat atau teman kita akan membayarnya karena kita mengenal dia. Lain cerita kalau kita baru kenal seseorang sehari atau dua hari dan mendadak ia meminjam uang kita, sangat kecil kemungkinan kita memberikan pinjaman. Kalaupun kita berikan, kita tentu meminta bukti hitam di atas putih dan kapan pastinya duit itu kembali, kalau perlu KTP atau SIM nya kita pegang.

Kalau kita bisa percaya pada seorang sahabat karena mengenal dia dalam waktu yang cukup lama, bagaimana rasa percaya kita pada Tuhan? Mengucapkan kata "saya percaya Yesus" itu mudah, semua orang bisa. Membuktikan kita percaya Yesus itu yang susah. Percaya Yesus itu baik sangat mudah, saat kita tidak mengalami masalah berat dan segala sesuatu berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tetap percaya Yesus itu baik saat keuangan minus, mengalami sakit penyakit kronis, banyak hutang, di putus pacar, mengalami masalah berat bertubi-tubi, itulah percaya yang sejati.

Diantara kita, mungkin ada yang sudah menjadi Kristen sejak kecil, sepuluh tahun lalu, atau lima tahun lalu, namun sudahkah kita benar-benar percaya Yesus selalu beserta kita? Kalau kita masih suka lemah rohani, ngambek atau marah saat Tuhan ijinkan masalah demi masalah datang, kita berarti belum sungguh-sungguh percaya pada Tuhan. Kita sekedar percaya hanya di mulut bukan di hati. Kalau hari ini Anda sedang mengalami beban berat, sakit penyakit atau krisis keuangan, inilah saatnya Anda membuktikan kepercayaan Anda pada Tuhan. Tuhan berikan Anda masalah pasti tak akan melebihi kekuatan yang Anda punya. Ia akan berikan jalan keluar asal Anda mau percaya dan berusaha untuk mengatasinya.


* Di muat di Renungan Harian Spirit Girls – Oktober 2009



Mengatur Tuhan


By : Richard T.G.R

Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat? Yesaya 40 : 13

Baca : Yesaya 40 : 12 – 31


Sebagian kita tentu pernah naik pesawat terbang, namun tentu tak seorangpun diantara kita begitu kurang kerjaan datang kekabin pilot dan mengajari pilot terbang menggunakan jalan pintas untuk bisa sampai tempat tujuan. Saat naik mobil di darat, mungkin Anda sering mengajari sopir melalui jalan pintas menuju rumah atau mall bila buru-buru, namun jangan lakukan itu di pesawat. Anda akan dianggap penumpang yang menyebalkan, pengacau dan salah-salah saat mendarat Anda akan berurusan dengan pihak kepolisian.

Dalam menjalani kehidupan setiap hari, tanpa sadar kita sering bersikap seperti seorang penumpang yang sok tahu mengajari pilot yang mengemudikan pesawat, saat kita meminta sesuatu kepada Tuhan. Kita sering mengatur Tuhan untuk melakukan ini itu dalam hidup kita. "Tuhan, aku maunya nikah sama cowok yang ganteng, tajir, baek hati, dan selalu sayang sama aku" atau "Please deh Tuhan, saya maunya kayak gini, kenapa Engkau tidak mengabulkannya!" atau "Tuhan, pokoknya saya ingin besok cuaca cerah agar acara pestanya lancar." Itulah sebagian ungkapan yang kita umbar saat meminta sesuatu pada Tuhan. Tuhan bukanlah orangtua kandung kita yang harus kita debat habis-habisan bila mereka tidak memberikan apa yang kita mau, Tuhan bukan presiden yang butuh para menteri dan penasehat untuk membuat suatu keputusan, Tuhan bukan pembantu yang bisa seenaknya kita suruh-suruh melakukan ini itu.

Mari kita belajar untuk berserah pada Tuhan dengan sepenuh hati. Kita percaya rencana Tuhan adalah damai sejahtera, amin, namun dalam tindakan kita, sudahkah kita benar-benar percaya atau mengatur Dia untuk melakukan ini itu yang sesuai kehendak kita? Jawablah dengan jujur dan bertobatlah bila sementara ini kita suka mengatur Tuhan. 


* Di muat di Renungan Harian Spirit Girls – Oktober 2009
 

Mei Tian Geng Hao


By : Untung Budiono

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. II Timotius 3 : 16

Baca : Mazmur 1 : 1 – 6


Sebagai orang Kristen, setiap hari kita tentu melakukan saat teduh, salah satunya melalui renungan breakthrough yang kita baca saat ini. Ada dari kita yang sudah rutin saat teduh sejak beberapa tahun silam, beberapa bulan lalu atau mungkin baru saat ini karena baru saja di baptis. Entah sudah lama atau baru saja kita rutin bersaat teduh, tahukah kita apa manfaat terpenting dari saat teduh? Saat saya bertanya pada beberapa orang, jawaban mereka beragam. Ada yang menjawab supaya bisa mengenal Tuhan, tahu sejarah Alkitab dan nabi-nabi, tahu janji Allah, membaca surat cinta Tuhan, membaca buku pedoman hidup dari Tuhan dan sekedar rutinitas.

Dari berbagai jawaban itu, manfaat terpenting dari saat teduh adalah kehidupan Anda semakin lebih baik. Membaca Alkitab tanpa mempraktekkan isinya sama saja dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, namun membaca dan melakukan apa yang ada dalam Alkitab merupakan tanda Anda murid Yesus yang sejati. Coba perhatikan hidup Anda setahun yang lalu dengan sekarang ketika rutin saat teduh? Kalau dahulu Anda punya banyak kelemahan, sekarang kelemahan Anda jauh lebih sedikit. Katakanlah dahulu Anda gampang kuatir atau pemarah, namun saat Anda merenungkan Firman Tuhan dan melakukannya, hidup Anda sekarang tidak kuatir lagi akan hari esok dan memiliki kesabaran.

Saat teduh bukan sekedar rutinitas, namun salah satu makanan rohani yang membuat karakter dan cara hidup Anda seharusnya semakin lebih baik. Kalau tahun kemarin dan tahun ini hidup Anda selalu sama padahal setiap hari saat teduh, Anda harus mengecek hati Anda mengapa Anda tidak bertumbuh baik secara rohani ataupun karakter. Mei Tian Geng Hao = hari esok harus lebih baik. Sudahkah hidup Anda lebih baik daripada kemarin?


* Di muat di Renungan Harian Spirit Girls – Januari 2010

Jangan Serakah

By : Richard T.G.R

Orang yang loba, menimbulkan pertengkaran, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, diberi kelimpahan. Amsal 28 : 25

Baca : I Samuel 2 : 27 – 36


Kecintaan terhadap segala sesuatu yang berlebihan selalu mendatangkan petaka. Seorang perempuan bernama Wanda Oughton di New Jersey, AS, harus membayar denda lebih dari 350.000 dollar AS karena di tuduh menelantarkan 150 ekor kucing di apartemennya. Oleh pengadilan setempat, ia diputuskan bersalah karena melakukan kekerasan terhadap kucing dan gagal menyediakan tempat penampungan yang layak untuk kucing-kucingnya. Kasus ini berawal pada bulan Maret 2009 saat petugas setempat menemukan kotoran kucing berceceran di ruang-ruang apartemen Oughton yang bernilai 1 juta dollar AS. Apartemen yang sebenarnya mahal dan mewah itu tentu saja berubah menjadi sangat kumuh dan bau karena Oughton tak pernah membersihkannya. (*Sumber : Harian Kompas, 13 July 2009).

Tamak, loba, serakah dan sejenisnya selalu menimbulkan masalah. Kalau kita tamak dan merugikan orang lain, kita mungkin hanya membayar denda seperti Wanda Oughton, atau masuk bui seperti para koruptor. Namun ceritanya menjadi lain kalau kita serakah akan berkat Tuhan seperti yang keluarga imam Eli lakukan. Korban bakaran yang seharusnya diberikan untuk Tuhan, justru diambil secara paksa oleh kedua anak imam Eli yaitu Hofni dan Pinehas, imam Eli tidak pernah menghukum mereka dan hanya menasehati. Akibatnya Tuhan murka dan menghukum seluruh keturunan imam Eli. Imam Eli dan kedua anaknya mati, sedangkan keturunannya kelak akan mengemis kepada penganti Eli hanya demi sekerat roti.

Apapun sifat serakah yang kita punya dan terus kita lakukan sampai hari ini, buang sifat itu secepat mungkin. Gila kerja, gila perempuan, gila makan, gila shoping, apapun jenisnya, jangan biarkan itu menjadi saingan Tuhan dan mencuri kasih kita yang utama kepada Tuhan. Belajarlah mencukupkan diri dalam segala hal dan jadikan hobi sebagai sampingan, bukan berhala yang membuat kita terikat padanya.


* Di muat di Renungan Harian Spirit Girls – Desember 2009

Kebersihan Rohani


By : Richard T.G.R

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh. Mazmur 1 : 1

Baca : Mazmur 1 : 1 – 6


Pada bulan Juli tahun 1994, negara Zaire terkena wabah Kolera yang membunuh hampir 50.000 ribu penduduk dalam sekejab. Bantuan dari berbagai organisasi dunia tak mampu berbuat banyak pada waktu itu sehingga memakan korban jiwa sangat banyak. Kolera adalah penyakit infeksi bakteri dalam usus. Gejala pertama adalah sakit perut dan diare. Penderita Kolera bisa mengeluarkan cairan tubuh sebanyak lima belas liter dalam sehari, dehidrasi inilah yang paling mematikan. Keadaan alam Afrika yang kering dan terbatasnya air bersih membuat ribuan penderita kolera tidak tertolong. Kolera sebetulnya mudah di cegah dengan cara memakan sayuran yang steril dan minum air bersih. Kalau kita tetap mengkonsumsi makanan dan minuman yang kurang bersih maka jangan harap penyakit itu sembuh.

Apa yang kita makan menentukan siapa jati diri kita, kerohanian kita pun tak jauh berbeda. Hari-hari ini makanan rohani seperti apa yang kita masukan dalam hati kita? Apakah kita mengkonsumsi makanan rohani yang tidak bersih seperti kebencian, marah, tidak mau terbuka, dll? Tuhan dalam firman-Nya mengajarkan kepada kita untuk senantiasa memasukkan hal-hal yang benar agar kerohanian kita selalu sehat. Coba kita merenung sejenak, kalau kita setiap hari tidak mau makan sayur atau buah namun makan Fast food terus-menerus. Dalam beberapa hari ke depan kita tentu merasa tubuh tidak sehat, begitu pula dengan kerohanian. Kalau setiap hari kita memasukan ke pikiran hal-hal buruk, cepat atau lambat rohani kita akan sakit lalu mati. Hal-hal buruk seperti pornografi, percabulan, narkoba, perselingkuhan bisa masuk dalam pikiran tinggal bagaimana pilihan kita, menolaknya atau menerimanya.

Hari ini kalau sebagian kita merasa tidak sehat secara rohani dan membaca renungan ini, Anda belum terlambat untuk sembuh. Sama seperti penyakit kolera yang bisa sembuh dengan hanya memasukan makanan dan minuman yang bersih, masukkan hal-hal yang bersih dan kudus dalam hati Anda. Masukan dalam hati sukacita dan ucapan syukur walau krisis ekonomi melanda, masukan kesabaran saat pelanggan atau bos marah-marah, masukkan penguasaan diri saat teman kantor mengajak berbohong atau melakukan tindakan asusila. Kalau kita selalu memasukkan hal-hal yang baik dalam hati dan tubuh kita, rohani dan jasmani kita pasti sehat senantiasa.


* Di muat di Renungan Harian Spirit Girls – Mei 2009

Hormati Orang Tuamu

By : Richard T.G.R

Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. Ulangan 5 : 16

Baca : Matius 15 : 14


Acara Kick Andy yang ditayangkan di Metro TV merupakan program yang banyak mengangkat kisah nyata di seputar kita. Kesuksesan Kick Andy tentu tak lepas dari Host acara itu sendiri yaitu Andy F. Noya. Dengan piawai ia bisa membawa penonton untuk melihat kenyataan dan makna hidup dari sudut pandang yang positif. Di balik kesuksesan Andy, ternyata dulu ia termasuk anak yang malu dengan keadaan orang tuanya sendiri. Andy F. Noya dibesarkan dalam keluarga yang ayahnya bekerja menjadi tukang reparasi mesin tik, suatu pekerjaan yang tak bisa dibanggakan bagi seorang anak di masa ia sekolah. Ia malu dan sedih saat teman-temannya sekolah membanggakan pekerjaan orang tuanya dan mengejek pekerjaan orang tuanya. Namun saat dewasa, ia sadar bahwa ia bisa sukses seperti sekarang tak lepas dari kerja keras ayahnya yang bekerja mencari nafkah untuk ia bisa makan dan sekolah.

Tak semua kita dilahirkan dalam keluarga yang berada. Mungkin kita dibesarkan dan diasuh dari hasil kerja orang tua yang notabene bukan orang tua yang kaya. Pekerjaan orang tua kita mungkin hanya kuli pasar, tukang sapu jalanan, tukang becak, dan aneka pekerjaan lain yang mungkin membuat kita malu mengakuinya. Dalam masa sekolah, kita akan sangat risih kalau ada seseorang yang bertanya apa pekerjaan orang tua kita. Teman-teman mungkin kerap mengejek karena pekerjaan orang tua sehingga tak mustahil kita kerap melampiaskan kemarahan pada orang tua. kita memaki orang tua kita sendiri dan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hanya demi membalas sakit hati yang teman-teman kita lakukan. Bukan salah orang tua mempunyai pekerjaan yang dipandang sebagian orang sebagai pekerjaan hina. Dalam hati kecil mereka, orang tua kita sendiri tentu ingin mempunyai pekerjaan yang lebih layak, namun apa daya mencari pekerjaan yang terhormat itu susah.

Sehina apapun pekerjaan orang tua kita, mereka mau bekerja seperti itu supaya kita bisa makan, sekolah dan menjadi orang sukses. Mereka rela bekerja keras agar kita memperoleh hidup yang lebih baik. Hormatilah orang tua kita, jangan marah atau benci karena pekerjaan orang tua kita menjadi bahan ejekan teman. Berterima kasih atas segala jerih payah orang tua. Kalau hari ini kita merasa pernah menyakiti orang tua hanya karena ejekan teman-teman, bertobatlah dan minta ampun. Berkat Tuhan turun bagi anak yang menghormati orang tuanya.


* Di muat di Renungan Harian Spirit Girls – Februari 2009

Jangan Takut Bermimpi

By : Richard T.G.R



Pada suatu kali bermimpilah Yusuf, lalu mimpinya itu diceritakannya kepada saudara-saudaranya; sebab itulah mereka lebih benci lagi kepadanya. Kejadian 37 : 5



Baca : Kejadian 37 : 1 – 11





Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia, kalimat tersebut adalah pembuka lagu film Laskar Pelangi yang booming di akhir tahun 2008. Dalam mencapai target yang ingin diraih, terlebih dahulu kita harus berani bermimpi walaupun mungkin orang di sekitar kita akan mentertawakan dan menghina kita. Dengan berani bermimpi maka kita akan lebih memiliki semangat hidup daripada menjadi orang yang tidak berani bermimpi dan hanya menjadi orang yang mengikut arus.



Tokoh Alkitab yang berhasil menjadi orang sukses adalah Yusuf. Membaca kisah hidupnya akan kita temui mimpi Yusuf terlalu tinggi dan tidak masuk akal. Yusuf bermimpi orang tua dan saudara-saudaranya sendiri datang menyembah dia. Mimpi itu diceritakan pada orang tua dan saudara-saudaranya sehingga saudara-saudaranya semakin membenci dia dan orang tuanya menegor dia untuk mimpi yang dianggap terlalu tidak masuk akal. Untuk selanjutnya kita semua tahu Yusuf yang di cap tukang mimpi, dijual sebagai budak oleh saudaranya sendiri. Ia harus melalu banyak masa-masa pahit saat di negeri Mesir. Menjadi budak, penjaga kuda, narapidana, merupakan pekerjaan yang sangat tidak enak yang harus Yusuf alami. Namun diakhir cerita kita tahu Yusuf akhirnya menjadi orang nomor dua di Mesir setelah Firaun. Ayahnya dan saudara-saudara kandungnya akhirnya datang menyembah dia seperti mimpi yang ia alami. Ia menjadi orang yang menyelamatkan banyak bangsa.



Jangan takut bermimpi, kejar dan capai apa yang kita inginkan. Semakin tinggi mimpi yang ingin di capai, tentu makin tinggi resiko yang harus berani kita tanggung. Hari ini banyak orang tidak berani bermimpi menjadi orang sukses dan berhasil karena mereka takut jatuh dan lebih memilih mengikut arus. Saat kita takut jatuh dan sakit saat meraih mimpi, maka kita hanya menjadi orang yang biasa-biasa saja dan tak spesial. Yusuf hanya akan tetap menjadi gembala kambing atau budak kalau ia tidak berani mewujudkan mimpinya dalam dunia nyata. Wujudkan mimpi kita dengan mengandalkan Tuhan dan bekerja keras. Akan ada proses yang tidak menyenangkan saat kita berjuang mencapai mimpi tersebut, namun saat impian itu terwujud kita akan menjadi orang yang mewarnai dunia. Walau dunia tidak seindah surga seperti kata Nidji, kejar dan wujudkan mimpi kita menjadi kenyataan.


* Di muat di Renungan Harian Spirit Motivator – Maret 2009

Seratus Rupiah

By : Richard T.G.R

Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Lukas 16 : 10

Baca : Lukas 16 : 10 – 12


Kalau Anda berjalan dan menemukan koin seratus rupiah, apa yang biasa Anda lakukan? Sebagian besar kita tentu merasa gengsi mengambilnya. Mending kalau nemu uang logam yang lima ratus atau seribu rupiah, ini cuma seratus? Seratus rupiah memang kelihatan sangat tidak berarti di tengah jaman krisis seperti sekarang. Seratus rupiah mungkin hanya bisa untuk beli sebuah permen atau di berikan pengamen waktu kita makan diwarung. Walau kecil, seratus rupiah bisa memberi makan pengamen atau pengemis jalanan, karena mereka tekun mengumpulkannya sedikit demi sedikit. Selisih seratus rupiah bahkan bisa menjadi masalah besar bagi kita yang bekerja dalam bidang Akuntansi karena akan sangat berpengaruhi dalam perhitungan untung rugi. Kita harus rela mengecek satu demi satu di mana selisihnya.

Perbuatan-perbuatan baik kecil yang terkadang di pandang remeh orang-orang sekitar kita hampir sama seperti nasib uang seratus rupiah. Kelihatannya sangat tidak berarti namun menjadi berkat besar suatu hari kelak. Saat kita setia melakukan suatu firman Tuhan yang kelihatan sangat kecil, tanpa sadar kita membuat Tuhan memberi kepercayaan kepada kita untuk menerima berkat yang lebih besar. Mungkin hari ini perbuatan baik kita hanya sebatas bisa memberi seratus rupiah untuk pengamen, memberi segelas air untuk orang yang kecelakaan di depan rumah kita, menolong seorang nenek yang menyeberang jalan, atau memberikan tempat duduk kita pada ibu hamil disebuah bus kota yang sesak, namun Allah Bapa melihat semua perbuatan baik itu.

Satu hari kelak di saat yang tepat, Tuhan akan memberikan berkat yang besar dalam hidup Anda kalau tetap setia dalam perkara-perkara kecil. Mari jalani setiap hari dengan hidup setia dalam segala perkara walaupun perkara itu dipandang remeh oleh orang-orang sekitar kita.


* Di muat di Renungan Harian Spirit Girls – Mei 2009

Berharga di matanya

By : Richard T.G.R



Ketika Simon melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata : “ Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Matius 5 : 8


Baca : Matius 5 : 1 – 8

Dai Yuan adalah jenderal dari Dinasti Jin Barat, bangsa Cina. Dia lahir dalam keluarga yang terhormat. Banyak anggota keluarganya yang bekerja sebagai pegawai, namun sebelum menjadi jenderal, dia memilih jalan hidup sebagai pemimpin perampok di daerah Yangzhou. Suatu hari Dai Yuan dan anak buahnya berencana merampok perahu pejabat yang akan lewat sungai pada malam hari. Setelah mempersiapkan semuanya, mereka melakukan aksinya malam itu. Saat anak buahnya naik ke atas dan mulai merampok perahu, Dai Yuan masuk ke dalam kabin kapal. Saat masuk, ia kaget karena melihat Lu Ji, seorang pejabat tinggi dinasti Jin memandang lurus padanya dengan sangat tenang. Keduanya lalu berbicara mengenai keadaan Negara. Lu Ji lalu mengajak Dai Yuan untuk meninggalkan pekerjaan sebagai perampok dan menjadi seorang tentara yang membela Negara. Pada mulanya Dai Yuan menolak ajakan Lu Ji karena merasa dirinya tak layak, namun setelah di bujuk akhirnya dia mau menjadi tentara. Satu tahun kemudian Dai Yuan sudah menjadi Jenderal yang hebat dan berjasa besar. (*Buku :Values For Succes – Honour)


Banyak dari kita berpikir seperti Petrus atau Dai Yuan yang merasa tak layak untuk melayani Tuhan karena berdosa. Padahal kalau kita mau merenung sejenak, siapakah orang di dunia ini yang tidak berdosa ? entah itu orang yang kaya raya atau orang yang miskin, entah Pendeta atau penjahat yang mendekam di penjara semuanya mempunyai dosa. Tuhan tidak memilih kita untuk menjangkau jiwa – jiwa yang hilang saat kita sudah suci tanpa dosa. Dia memilih kita semua dengan masing – masing talenta yang telah kita miliki. Talenta yang kita miliki bisa untuk memuliakan atau Mendukakan Tuhan. Cara pandang Tuhan mungkin bisa di gambarkan seperti Lu Ji saat memilih Dai Yuan yang notabene perampok menjadi tentara. Lu Ji tidak melihat pekerjaan Dai Yuan perampok, namun talentanya yang pandai mengatur strategi dan jago berperang yang bisa di gunakan untuk membela dan membangun negaranya.

Seberapa buruk dan tidak berharganya hidup Anda, Tuhan bisa memakai Anda. Apapun profesi yang sekarang Anda jalani, percayalah Anda bisa di pakai sebagai alat-Nya untuk menjangkau jiwa – jiwa. Cuma satu hal yang Anda perlu perbuat, lakukan perintah-Nya dan gunakanlah hidup Anda untuk kemuliaan Tuhan.


* Di muat di Renungan Harian Spirit Motivator – Mei 2008

Belas Kasihan

By : Richard T.G.R

Tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat. Mazmur 37 : 26

Baca : Mazmur 37 : 21 – 27


Dalam perjalanan berangkat atau pulang kerja, acapkali kita melihat kecelakaan terjadi di jalan. Dalam kecelakaan tersebut bisa kita amati berbagai karakter orang yang ada di sekitar tempat kejadian. Ada orang yang buru-buru menolong, ada yang tidak peduli dan berlalu begitu saja, bahkan ada pula orang yang tega mengambil kesempatan dalam kesempitan. Suatu kali saat bersepeda di jalan raya, saya mengalami kecelakaan karena terjatuh. Dalam keadaan masih kaget dan kesakitan, seorang ibu tua yang berjualan di pinggir jalan menolong saya. Dia memberikan minyak tawon untuk mengobati luka saya dan memberikan segelas aqua kecil untuk di minum, itu semua dia berikan gratis. Mungkin secara materi pemberiannya tak begitu berarti, namun bagi saya perhatian dan pemberian yang dia berikan nilainya jauh lebih besar di bandingkan nilai uang akan harga barang tersebut.

Sebagai murid Yesus, apa saja yang sudah kita lakukan untuk sesama yang membutuhkan bantuan? Saat mengetahui teman sakit dan harus menjalani perawatan di rumah sakit, sudahkah kita menengoknya dan memberikan penghiburan? Saat tahu tetangga tak punya uang untuk membeli beras, sudahkah hati kita tergerak untuk menolong? Saat teman satu kost tidak mempunyai uang karena orang tuanya belum bisa mengirim uang untuk biaya hidupnya, tergerakkah hati kita untuk membantu atau tak ambil pusing dengan keadaannya? Banyak orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan belas kasihan. Banyak orang yang kesusahan membutuhkan uluran tangan kita, walaupun orang tersebut tidak pernah kita kenal dan mungkin tidak akan pernah bisa membalas belas kasihan yang kita berikan.

Tuhan sepanjang pelayanan-Nya di dunia senantiasa mengajar murid-murid-Nya untuk mengasihi. Tak hanya mengajar, Ia pun mempraktekkan bentuk kasih sepanjang hidup-Nya. Saat kematian hampir menjemput, Ia tetap mengasihi semua orang, bahkan orang-orang yang membenci dan menyalibkan-Nya. Renungan hari ini mengingatkan Anda untuk meneladani Kristus. Dalam kekurangan dan kemiskinan, Dia tetap mengasihi orang-orang di sekitar-Nya. Sudahkah Anda mengasihi sesama seperti Kristus sudah mengasihi Anda? jangan hanya diam saat tahu seseorang membutuhkan bantuan, tapi bantulah dia. Belas kasihan kita tidak harus selalu berbentuk uang. Perhatian, senyuman, dan kata-kata yang menghibur pun sangat membantu dan menguatkan.


* Di Muat di Renungan Harian Spirit Motivator – Oktober 2008

Gengsi

By : Eva K. D

Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. I Timotius 6 : 10

Baca : I Timotius 6 : 6 – 10


Meski kita semua tahu bahwa harta benda, jabatan, dan uang bukanlah satu-satunya jalan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain, kita juga semakin melihat bahwa materi sudah menjadi tolak ukur untuk banyak situasi. Seakan sudah menjadi pelecehan sosial dan psikologis atas harga diri kita, bila kita tidak mengikuti arus gaya hidup di masyarakat. "Gengsi gua nggak beli blackberry, sementara temen-temen kantor pada pake," kata seorang teman ketika saya bertanya mengapa mengganti Hp N-95 nya yang dianggap jadul dengan BB. Tak heran banyak orang tak malu-malu menyetujui banyak aplikasi kartu kredit atau korupsi supaya mendapat pengakuan dan kantong tebal.

Setiap kita bisa saja terjebak dalam situasi dilematis untuk jaga "gengsi", terutama kita yang bekerja di bagian public figure. Pertanyaannya : maukah Anda mengambil uang yang bukan hak Anda bila nama keluarga Anda ternoda? Maukah Anda menyalahgunakan jabatan demi uang dan mati masuk neraka? Di sisi lain kita juga bisa melihat dan bertanya-tanya : demi apa para Marinir kita setia menjaga pulau-pulau terluar dengan gaji yang sangat minim? Demi apa seorang polisi jujur tidak mau terima sogokan sehingga jarang naik pangkat dan tak kunjung kaya? Demi apa seorang PNS yang jujur sampai pensiun tidak mau menerima uang cap dan membiarkan anak istrinya hidup dengan uang pas-pasan? Apa beda kita dengan Nelson Mandela, Martin Luther atau Mahatma Gandhi? Bukankah kita juga mengerti arti kejujuran?

Gengsi justru bisa didapat saat Anda memegang teguh semua perintah Tuhan walaupun seluruh dunia menentang Anda. Gengsi akan menjadi milik Anda bila bersikap ksatria dan berani bertanggung jawab atas apapun kesalahan yang Anda perbuat. Gengsi yang sejati akan Anda peroleh saat Tuhan berkata Anda pantas masuk kerajaan-Nya yang kekal karena setia melakukan perintah-Nya sampai akhir. Gengsi seperti apa yang Anda kejar saat ini?


* Di muat di Renungan Harian Spirit Girls – Februari 2010

Naik Darah


By : Richard T.G.R

Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar. Amsal 14 : 17

Baca : Amsal 14 : 29


Pasangan dari Norwell, West Monroe, ini memang tidak sabaran. Hanya karena tidak sabar dengan lambannya pelayanan di restoran cepat saji KFC, mereka lalu menghina seorang laki-laki yang meminta mereka berhenti berteriak-teriak demi ketenangan anak-anak yang juga berada dalam antrean. Pasangan ini lalu di tahan setelah para saksi mata mengatakan kepada polisi bahwa mereka akhirnya memukuli lelaki itu ketika mereka meninggalkan restoran. Polisi mengatakan, Jared Garfagna (31) dari Marshfield meninju lelaki itu tepat di kepalanya. Tidak hanya itu, pasangannya, Sarah Mohn, juga menendang laki-laki itu. Korban terluka di pelipisnya. Mohn bahkan didakwa dengan tuduhan penghinaan dan melukai orang lain dengan senjata berbahaya. Kedua orang ini terpaksa harus berurusan dengan pengadilan hanya gara-gara tidak sabar menikmati dua potong ayam goreng.

Pengalaman di atas kiranya menjadi bahan renungan buat kita yang memiliki temperamen gampang naik darah. Walaupun situasi kadang tidak menggenakan dan kita seakan diperlakukan tidak adil, tetap sabar adalah sesuatu yang harus kita lakukan. Lebih baik kita menahan diri sejenak daripada melampiaskan kemarahan yang berujung merugikan diri sendiri. Mari kita belajar sabar mulai dari hal-hal kecil seperti bersabar saat mengantri di bank, bersabar saat menghadapi omelan pelanggan atau bos, bersabar saat bos tak kunjung mentransfer gaji kita, bersabar saat anak-anak kita berbuat nakal, dll. Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Miliki sikap sabar dalam segala sesuatu yang kita hadapi. Semakin kita bisa bersabar, itu tandanya kita semakin bijaksana. Jangan biarkan amarah membuat Anda bertindak membabi buta, namun belajarlah mengungkapkan kemarahan Anda dengan melakukan cara yang positif dan tidak merusak.


* Di muat di Renungan Harian Spirit Woman – Januari 2010