Website counter
Tampilkan postingan dengan label Nasionalisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasionalisme. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 November 2010

Supersales Person


Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Matius 25 : 15

Bacaan : Matius 25 : 14 – 30

Orang Singapura terkenal kreatif mengelola berbagai komoditas untuk dijual. Walaupun negaranya kecil, dikepung hutan beton dan pusat perdagangan, orang Singapura tak kurang akal untuk menjual sesuatu yang terkesan tidak lazim namun bermutu. Di Underwater World, SeaWorld-nya Singapura di Pulau Sentosa, ada layanan refleksiologi ikan. Ahli refleksiologi akan memijat kaki pengunjung sesudah kulit mati di sekitar kaki dibersihkan oleh ikan. Pengunjung pertama-tama merendam kakinya di kolam berisi ikan Turkish dari jenis Garra rufa. Ikan ini sejenis ikan sapu-sapu yang gemar memakan kulit-kulit mati, ganggang, dan lumut. Mereka akan membersihkan kulit mati di kaki pengunjung. Setelah itu pengunjung menjalani pemijatan di kaki. Biaya untuk mendapatkan layanan ini berkisar Sin $ 35 untuk layanan selama 40 menit.

Keluarga yang Dikasihi Tuhan, kalau Singapura yang negara kecil saja begitu cerdik mengelola berbagai peluang yang ada, bagaimana dengan kita? Kita hidup di negara yang besar dan sangat kaya dalam hal sumber daya alam. Tongkat kayu kalau ditaman saja bisa tumbuh, kata koes plus. Namun pertanyaannya, maukah kita menyingsingkan lengan baju untuk memaksimalkan talenta kita dengan menggunakan segala peluang dan sumber daya yang tersedia disekitar kita? Sampai hari ini kita lihat kemiskinan ada dimana-mana di berbagai wilayah Indonesia dan hanya sedikit orang yang berhasil hidup sejahtera. Hal ini bisa terjadi karena banyak orang tidak mampu memanfaatkan sumber daya alam dan justru merusaknya. Hati kita sedih saat mendengar pemerintah terpaksa membeli kedelai dan garam dari luar negeri padahal tanah Indonesia sangat luas plus subur dan memiliki lautan dimana-mana.

Keluarga yang Dikasihi Tuhan, sebagai orang Kristen mari kita sama-sama membangun Indonesia. Mari kita contoh dua orang yang dipercaya memegang lima talenta dan dua talenta. Kita kembangkan dan maksimalkan apapun dan berapapun talenta yang Tuhan berikan untuk kesejahteraan diri kita sendiri, kesejahteraan keluarga kita, kesejahteraan kota kita dan kesejahteraan bangsa Indonesia. • Richard T.G.R

Jumat, 01 Oktober 2010

Bangsa Berbudaya Tinggi

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. Yeremia 29 : 7

Bacaan : Matius 5 : 13 – 16

Indonesia terkenal sebagai bangsa yang ramah tamah serta memiliki toleransi dan budaya yang tinggi. Pernyataan ini berulang kali kita dengar baik dari orang-orang Indonesia sendiri maupun orang-orang asing yang berkunjung ke negeri Zamrud Khatulistiwa ini. Kita bangga dengan pernyataan ini. Namun seiring berjalannya waktu, pernyataan ini seakan menjadi slogan kosong belaka. Banyak peristiwa sehari-hari yang kita alami dan lihat, membuat kita mulai ragu-ragu akan sebutan bangsa yang ramah. Sering kita dengar perusakan gereja dan jemaatnya, ada golongan suatu agama yang selalu mendapat tekanan dari agama lain padahal mereka masih satu agama hanya beda aliran. Di jalanan, sudah biasa kita lihat pengendara motor dan mobil tidak memiliki toleransi kepada pesepeda atau pejalan kaki. Pejalan kaki sendiri seenaknya menyebrang jalan dan tak mau menggunakan jembatan penyebrangan sehingga tanpa sadar suka menimbulkan kemacetan dan kecelakaan. Para pedagang kaki lima dengan seenaknya berdagang di badan jalan sehingga membuat jalan semakin sempit dan otomatis macet. Beberapa wakil rakyat kita di DPR sana sibuk bicara ini dan itu namun tindakannya untuk menyejahterakan rakyat minim sekali.

Bangsa yang berbudaya tinggi adalah bangsa yang bertingkah laku baik. Misalnya : berjalanlah disebelah kiri; apabila menyeberang berdirilah di sebelah kanan orang yang harus dilindungi (orangtua, anak-anak atau perempuan); berikan kesempatan kepada orang yang keluar lebih dahulu; jika menaiki tangga berjalanlah di belakang orang yang dilindungi atau jika menuruni tangga, berjalanlah di depan orang yang harus dilindungi, memberi salam hormat atau tersenyum kepada orang lain. Untuk menjadi bangsa yang berbudaya, kita harus mau memulainya dari diri sendiri. Menyalahkan orang lain, keadaan atau pemerintah tak akan menggubah keadaan. Untuk mengubah negara, Anda harus mau terlebih dahulu menggubah diri sendiri. Anda adalah garam dan terang dunia di Indonesia. Jangan hanya menjadi penonton atau tukang kritik yang rajin mengkritik dan mencaci pemerintah, namun tidak melakukan tindakan positif apa-apa. Jadilah pribadi yang berbudaya tinggi. Melalui perbuatan baik dan luhur yang Anda lakukan dalam kegiatan sehari-hari, banyak orang akan terinspirasi dan mereka akan memuliakan Bapamu yang di sorga. • Richard T.G.R

Indonesia Raya

Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" Lukas 10 : 29

Bacaan : Lukas 10 : 25 – 37

Beberapa waktu lalu saya mengajar salah seorang murid saya yang duduk di kelas VI SD untuk menyanyi lagu Indonesia Raya. Saya sangat kaget waktu tahu dia "kurang hapal" lagu nasional tersebut. Saya lalu bertanya mengapa dia tidak hapal. Bukannya setiap upacara dia harus menyanyikan lagu itu, bukahkah seharusnya hapal? Anak ini dengan polos menjawab dia lebih suka menghapalkan lagu-lagu pop yang sedang tren seperti ST 12, Sherina, atau BCL. Ini gawat sekali pikir saya. Kalau sejak anak-anak saja dia tidak hapal lagu kebangsaan negaranya sendiri, bagaimana caranya dia bisa mencintai tanah airnya dalam tindakannya nyata. Negara tetangga kita, Singapura, bisa begitu maju dan rakyatnya dengan bangga berkata "I’am Singapura", karena setiap hari murid-murid sekolahnya wajib mendengarkan dan menyanyikan lagu kebangsaannya. Tak hanya itu, setelah dewasa mereka harus ikut wajib militer selama beberapa tahun. Sehingga tak heran rasa nasionalismenya tinggi sekali.

Bagaimana dengan penduduk Indonesia? Jujur harus mau kita akui, masih banyak penduduk Indonesia sangat rendah rasa cinta tanah airnya. Hal ini terbukti dari ulah orang-orang terhormat yang rajin korupsi, beberapa anggota DPR yang rajin bolos sidang, para penebang liar yang mengunduli hutan-hutan Indonesia dan para pengemplang pajak. Nah, lalu seberapa dalam rasa cinta kita kepada Tuhan? Kalau kita sungguh-sungguh mencintai Tuhan, tentu kita akan melakukan apapun yang Tuhan perintahkan. Kisah ahli Taurat yang bertanya siapakah sesamaku manusia menunjukkan bahwa orang ini hanya tahu teori namun tak mau praktek. Sebagai orang Kristen, sudahkah kita mengasihi Tuhan dan sesama sebagai bukti kita mencintai Tuhan, tak hanya bisa berteori dan hapal firman?

Rasa nasionalisme yang sejati tak cukup hanya dengan kita hapal lagu kebangsaan, namun tindakan kita sehari-hari juga harus menunjukkan kita mencintai Indonesia seperti memakai produk-produk buatan Indonesia dan tidak korupsi. Mencintai Tuhan sepenuh hati tak cukup hanya kita hapal isi Alkitab dan tahu firman-Nya, namun tindakan kita sehari-hari juga harus menunjukkan bahwa kita mengasihi Tuhan dan sesama. • Richard T.G.R

Rabu, 14 April 2010

Polisi Tidur

By : Richard T.G.R

Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. Roma 13 : 4

Bacaan : Roma 13 : 1 – 7


Ketika memasuki perkampungan yang padat penduduk, kita akan biasa menemui dan melalui polisi tidur. Polisi tidur membuat laju kendaraan kita mau tidak mau diperlambat supaya goncangan saat kita melindasnya tidak begitu terasa. Lha, gimana kalau kita tetap ngebut? Ya, bersiap-siaplah benjut (benjol) dan bisa saja kita terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Polisi tidur sengaja di buat supaya kita hati-hati berkendara karena di sekitar tempat itu ramai dan sempit.

Baru-baru ini, setiap hari kita disuguhi berita mengenai beberapa pejabat negara terlibat kasus penyalahgunaan wewenang. Orang yang harusnya menegakan hukum, justru terbukti melanggar hukum dan menilep uang rakyat. Indonesia yang negaranya kaya raya dan berlimpah ruah dalam hal kekayaan alam, penduduknya sebagian besar miskin dan kelaparan serta tak mampu membayar ongkos berobat ke rumah sakit. Hal ini terjadi karena banyak pejabat negara yang korup dan mengambil uang rakyat untuk kepentingannya sendiri. Dari kasus demi kasus yang terbongkar, nilai uang yang di korup jumlahnya fantastis, lebih dari satu milyar rupiah. Sungguh ironis karena banyak penduduk Indonesia gajinya hariannya kurang dari Rp 20.000.

Nah, karena banyak orang yang sudah muak dengan hukum, timbul rencana boikot pajak dan pelanggaran hukum lainnya. Banyak orang berkata : "ngapain bayar pajak, ngapain taat hukum. Karena aparatnya sendiri mengkorupsi uang rakyat, pagar makan tanaman". Sekarang, bagaimana tindakan kita sebagai orang Kristen? Apakah kita juga ikut terprovokasi untuk melanggar hukum? Apakah terbesit dalam benak kita untuk tak mau bayar pajak atau memanipulasi pajak? Apa kata Firman Tuhan? Tuhan ingin kita taat kepada pemerintah, bayarlah apa yang harus kita bayar kepada pemerintah, bayarlah pajak kepada yang berhak menerima cukai, berilah hormat kepada orang yang berhak menerima hormat. Walaupun para penegak hukum dan pemerintah mungkin memerintah dengan tidak baik dan membuat rakyat susah, bukan wewenang kita untuk menghakimi. Sebuah pemerintahan bisa berdiri atas kehendak Tuhan. Tuhanlah yang kelak akan menjadi hakim atas para pemimpin negara kita. Bagian kita sebagai warga negara adalah taat hukum sama seperti kita mentaati Firman Tuhan.

Kamis, 08 April 2010

Usaha + Kreatif + Doa = Solusi


By : Richard T.G.R

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. Yeremia 29 : 7

Bacaan : Yeremia 29 : 7


Masalah air tak lagi menyusahkan warga Dusun Banyumeneng I, Giriharjo, Panggang, Gunung Kidul. Bak penampungan air warga selalu terisi sehingga mereka tak perlu lagi menempuh jarak 1,5 km ke sungai air Kali Gede ketika kemarau. Dahulu, urusan mengambil air menjadi lama dan melelahkan karena kondisi berbukit dan jalan setapak yang tak beraspal. Kalau malas dan tak mau cape, pilihannya membeli air. Satu tangki berisi 5.000 liter air ditebus Rp 125.000. satu tangki itu biasanya habis dalam tiga pekan dengan syarat irit. Bagi para petani kecil, ongkos itu mahal. Harapan muncul setelah Dusun Banyumeneng I menjadi lokasi proyek pengangkatan air bertenaga surya (Solar Water Pumping System) atas prakarsa mahasiswa Teknik Fisika UGM. Proyek dibangun pertengahan tahun 2008 dan 2009 memanfaatkan 2 kloter mahasiswa peserta kuliah kerja nyata (KKN) bersama masyarakat. Dana pembangunan hampir Rp 200 juta merupakan hasil lomba tingkat dunia, Mondialogo Engineering di India, yang diikuti mahasiswa Teknik Fisika tahun 2006.

Pada lomba yang disponsori UNESCO dan Daimler, perusahaan otomotif terkemuka Jerman itu, tim Teknik Fisika UGM yang bekerja sama dengan Curtin University of Technology Australia, menyabet juara pertama dan berhak atas hibah 20.000 euro. Ajang lomba itu untuk menjaring ide kreatif mahasiswa yang akan diaplikasikan pada proyek yang berkeseinambungan di masyarakat. Namun, tetap berpijak pada pemanfaatan teknologi. Cara kerja yang dikembangkan para mahasiswa untuk mengangkat air sebenarnya sederhana. Panel surya yang diletakkan di puncak bukit dusun itu akan menangkap panas matahari. Setidaknya, dalam sehari, 4,5 jam matahari bersinar terik. Sel surya akan menggubah panas menjadi energi listrik. Jika cuaca terik, listrik yang dihasilkan mencapai 1.200 watt-peak. Listrik akan menggerakkan pompa bertekanan tinggi di bawah kaki bukit yang digunakan untuk menyedot air.

Pompa bertipe submersible pump merek Lorentz Jerman itu tergenang di dalam sumber air. Tipe pompa seperti itu kuat menyedot air. Apalagi untuk mengangkat air setinggi 88 meter (vertical) melalui pipa yang ditanam sejauh 1,6 kilometer menuju bak penampunga utama dengan debit 5 – 7 liter per detik. Dari bak tersebut, air lalu dialirkan lagi ke enam bak penampungan di bawahnya. Enam bak penampungan tersebut berjarak puluhan meter dari rumah warga. Air memang tak selamanya mengucur karena sistem mutlak bergantung pada sinar matahari. Sore hingga pagi panel surya tentu tak mendapat suplai sinar matahari. Namun, sejauh ini bermanfaat nyata bagi warga. Sejak air mengalir ke bak-bak rumah warga, kebiasaan warga mulai berubah. Warga bisa memakai banyak air seperti untuk mencuci dan mandi. Airnya bagus, bening, seperti air tanah. Warga cukup memberikan iuran Rp 15.000 per bulan untuk berlangganan.

Jaman dan teknologi semakin canggih, sudahkah Anda menggunakan teknologi yang Anda kuasai untuk menolong sesama? Kini teknologi sudah ramah lingkungan, seperti mengolah sampah menjadi energi listrik, sinar matahari sebagai tenaga listrik, minyak jarak untuk bahan bakar, dll. Tak ada alasan untuk kita berkata tak bisa memberikan sumbangsih untuk negara. Mengutip kata-kata John F. Keneddy, jangan bertanya apa yang sudah negara berikan untukmu, namun bertanyalah kepada dirimu sendiri apa yang sudah kamu lakukan untuk negara? Jangan pernah bertanya kepada Tuhan apa yang sudah Dia lakukan untukmu, namun bertanyalah kepada dirimu sendiri, apa yang sudah kamu lakukan untuk Tuhan? Melalui kata-kata yang positif, cara kerja yang jujur, senyum yang ramah, kita sesungguhnya turut membangun Indonesia. Kalau kita cukup beruntung punya skill lebih, kembangkan itu untuk kesejahteraan masyarakat, karena Tuhan menempatkan kita di Indonesia untuk membangun Indonesia.

Sumber : Harian Kompas, Selasa, 6 April 2010

Senin, 05 April 2010

Pajak


By : Richard T.G.R

Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat. Roma 13 : 7

Bacaan : Roma 13 : 1 – 7 dan Lukas 20 : 20 – 26


Beberapa waktu yang lalu, berita menggenai pengelapan uang pajak oleh salah seorang pegawai Ditjen pajak menjadi hot issue. Seorang pegawai biasa, bisa memiliki uang di berbagai bank sekitar 25 miliar, memiliki rumah yang mentereng di kawasan perumahan elit, gonta-ganti mobil mewah dan sempat kabur ke Singapura walaupun pada akhirnya pulang ke Indonesia untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya dan membeberkan siapa saja yang terlibat dalam skandal ini. Sangat mengejutkan, banyak aparat negara terlibat sehingga mereka di pecat secara tidak hormat dan menjalani hukuman yang berlaku.

Nah, sebagai rakyat Indonesia yang taat bayar pajak, bagaimana respon Anda? Apakah Anda ngambek dan tak mau bayar pajak karena merasa percuma aja bayar, lha uangnya di kantongi oleh oknum tertentu, atau Anda tetap setia bayar pajak karena pajak di pungut untuk membangun negara? Kalau hari ini Anda berniat tak bayar pajak atau memanipulasi SPT Anda, urungkan niat itu karena Tuhan tak ingin Anda menjadi warga negara yang tidak taat. Setiap pemerintahan, seburuk apapun aparatnya, kita harus tetap menghormati dan melakukan apa yang menjadi kewajiban kita karena suatu negara dan pemerintahannya bisa berdiri atas kuasa Tuhan. Kalau kita tidak taat kepada aturan negara, kita juga tidak taat kepada Tuhan.

Untuk mempertegas rasa nasionalisme pada negara, Yesus menjabarkan itu dalam sekeping uang dinar. Kalau hari ini kita hidup di dunia, taatlah pada pemerintah dan bayarlah apa yang harus kita bayar kepada pemerintah. Kalau kita mengaku taat kepada Kristus, bayarlah dan lakukan apa yang Yesus perintahkan. Pajak yang kita bayar di gunakan untuk membangun negara dan secara tidak langsung manfaatnya juga Anda rasakan, oleh karena itu bayarlah pajak sebagai bukti Anda seseorang yang taat kepada Tuhan dan negara.

Senin, 29 Maret 2010

Lestarikan Budaya Indonesia


By : Richard T.G.R

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. Yeremia 29 : 7

Bacaan : Yeremia 29 : 7


Kalau hari ini kamu ditanya, ekstrakulikuler apa yang kamu suka, akan banyak jawaban yang kamu berikan. Kamu mungkin akan menjawab : basket, beladiri, badminton, break dance atau tari modern, dll. Nah, sekarang kalau kamu di tanya lagi, maukah kamu ikut kegiatan seni tradisional seperti memainkan gamelan, belajar tari kuda lumping atau tari Sunda? Wah, saya percaya sebagian kamu akan menolak. "Kalau saya sih lebih baik tari modern ala Jacko atau breakdance ala Breatney Spears. Tari tradisional, enggak deh. Ntar dikira ndeso alias kampungan." Jawab seorang murid smp yang pernah saya wawancarai.

Sangat menyedihkan karena tanpa sadar kita kurang mencintai budaya kita sendiri. Saat orang luar negeri justru semangat belajar budaya Indonesia, kita justru malu menggunakannya. Saat kamu berkunjung ke Yogya, akan kamu dapati bule-bule sangat semangat belajar Bahasa Jawa, kita yang orang Indonesia asli untuk menulis honocoroko cuma bisa-bisaan. Membedakan kromo alus dan kromo ingil kadang tidak bisa. Kalau kamu berkunjung ke daerah Desa Karangjati, Kecamatan Susukan, Banjarnegara, Jawa Tengah, di sana akan kamu dapati sebuah padepokan seni Banyubiru. Siapa yang belajar di sana? Para remaja Singapura. Kita baru ribut mengklaim itu budaya Indonesia saat negara lain mengaku-aku itu budaya mereka. Saat kita di ajak menggunakan budaya sendiri, kita tidak mau.

Sebagai putra-putri Indonesia, mari kita bertanya pada diri kita sendiri, sudahkah kita mencintai Indonesia? Kalau kamu menjawab ya, cintailah budaya dan produk-produk Indonesia. Kalau orang luar negeri begitu bersemangat ingin mempelajari budaya Indonesia, mengapa kita enggan memakai budaya kita yang luar biasa banyaknya?

Senin, 08 Februari 2010

Mencintai Indonesia


By : Richard T.G.R

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. Yeremia 29 : 7

Baca : Yeremia 29 : 7 – 13


Beberapa bulan yang lalu, para petani garam di negeri kita mengalami panen. Umumnya, kalau kita sedang panen, kita tentu bahagia karena mendapatkan hasil yang banyak, namun ini tidak berlaku bagi petani garam. Waktu mereka panen, mereka sedih karena hasil kerja keras mereka dihargai sangat murah. Harga satu kilo garam di hargai cuma kurang dari 100 rupiah, padahal harga garam dipasar, yang biasa kita beli untuk memasak, berkisar sekitar 2500 – 3000 rupiah per kilo. Kenapa harga garam para petani dihargai begitu murah? Ada banyak sebab, salah satunya impor garam. Para petani kita tidak kuat bersaing harga dengan garam yang di beli dari luar negeri.

Sebagian kita mungkin berpikir, ngapain sih repot-repot mikirin masalah garam, namun ini penting. Sebagian kita tanpa sadar memiliki mentalitas tidak mencintai produk dalam negeri. Apa sih beda garam lokal sama garam luar? Sama-sama asin, kan? Lalu ngapain kita impor? Tanyakan pada rumput yang bergoyang, kata Ebiet G. Ade. Ambillah contoh sederhana, kalau Anda di suruh beli baju batik atau baju terbaru yang di pakai Britney Spears, mana yang Anda pilih? Sebagian pasti memilih model baju Britney, biar gaul gitu lho. Kita gengsi memakai sandal buatan Cibaduyut karena takut di cap kampungan, padahal mutu sandal kita tak kalah dari sandal buatan luar negeri. Kita begitu bangga makan di MD atau Pizza Hut, namun gengsi makan nasi pecel di pinggir jalan. Tak beran, karena mentalitas kita yang kurang mencintai barang buatan negeri sendiri, para produsen barang negeri kita merana di negeri sendiri.

Mencintai Indonesia bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan mengkonsumsi produk dalam negeri. Tuhan melahirkan kita di Indonesia agar kita bisa membangun dan menjadikan Indonesia sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Jadilah anak-anak Tuhan yang mencintai Indonesia tak hanya dengan omongan, namun juga dengan perbuatan.


* Di muat di Renungan Harian Spirit Girls – Desember 2009