Website counter
Tampilkan postingan dengan label Knowledge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Knowledge. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Maret 2011

Persiapan Pulang


Baca : Matius 25 : 1 – 13
Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Matius 25 : 1

Presiden Polandia Lech Kaczynski (61) dan Ibu Negara Maria Kaczynska tewas dalam kecelakaan pesawat tipe Tupolev-154, yang jatuh 2 kilometer dari sebuah bandara di kota Smolensk, Rusia barat pada hari Sabtu, 10 April 2010. Turut tewas bersama presiden, 88 pejabat elit Polandia. Sedianya, Lech Kaczynski dan rombongan hendak memberikan penghormatan bersama presiden Rusia pada suatu makam tentara di kawasan Hutan Kathyn, Rusia. Apa daya, justru beliau dan rombongan wafat di negeri orang saat hendak memberikan penghormatan di tempat pemakaman.



Kematian adalah salah satu misteri kehidupan, di mana hanya Tuhan sendiri yang tahu. Kita semua sadar bahwa satu hari kelak kita akan mati, siap tidak siap, namun sudahkah kita mempersiapkan diri? Banyak orang hari ini asal-asalan atau bertindak sesuka hati karena merasa masih muda, kuat, sehat, kaya ataupun terkenal. Kita mati-matian bekerja mengumpulkan harta di bumi, namun lupa untuk mengumpulkan harta di surga. Kita rajin menimba ilmu di dunia, namun lupa berjaga-jaga masalah kematian.

Kisah 10 gadis yang menunggu mempelai kiranya menjadi pengingat kita malam ini tentang kematian. Tuhan ingin kita bertindak seperti 5 gadis bijaksana yang mempersiap diri dengan melakukan segala firman-Nya dalam kondisi apapun. Kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan, namun sesuatu yang harus kita sambut dengan penuh sukacita karena kita akan bertemu Tuhan. Mari kita akhiri hari ini dengan mengucap syukur karena masih hidup dan telah melakukan banyak perkara sepanjang hari ini • Richard T.G.R

Catatan : Renungan ini dimuat di Renungan Malam – Senin, 28 Maret 2011
Pertanyaan : Sudahkah aku mempersiapkan diri?
Aplikasi : Melakukan segala firman-Nya dalam kondisi apapun.
Doa : Tuhan, terima kasih untuk banyak perkara yang boleh aku kerjakan pada hari ini. Amin.

Rabu, 01 Desember 2010

Mari Suka Membaca


Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. II Timotius 3 : 16

Bacaan : II Timotius 3 : 10 – 17

Sebuah pertanyaan menarik dilontarkan Wakil Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih kepada peserta pembukaan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat II Angkatan XV di Badan Diklat Provinsi Jateng, di Semarang hari Kamis, 22 Juli 2010. "Coba tunjuk jari, siapa diantara Saudara yang setiap hari membaca koran?" Di luar dugaan, dari 80 pejabat eselon II yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia tersebut, hanya sekitar 10 orang yang mengacungkan jari. Tak yakin dengan kenyataan ini, Rustriningsih kembali mengulang pertanyaan yang sama, ternyata hanya 15 pejabat yang tunjuk jari. Setelah itu Rustriningsih kembali bertanya, "Coba tunjuk jari, siapa setiap hari yang nonton TV?" Hampir semua peserta serentak mengacungkan jari.

Membaca berita ini dikoran, jujur sebagai penulis hati saya sedih karena minat baca penduduk Indonesia masih sangat rendah. Berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja Sama Ekonomi, budaya baca rakyat Indonesia berada di posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur. Bahkan Indonesia jauh lebih rendah dari negeri Jiran dan Singapura. Membaca sesungguhnya adalah kegiatan yang menyenangkan sekaligus menambah wawasan, namun sudahkah itu menjadi kebiasaan Anda? Apapun pekerjaan Anda hari ini dan setinggi apapun Anda pernah mengenyam pendidikan, membaca tetaplah suatu sarana untuk kita selalu memperbaharui wawasan dan pengetahuan. Memang benar dari TV atau film kita pun bisa menambah wawasan, tetapi menonton adalah kegiatan yang cenderung enjoy, pasif, dan tidak membangun unsur konseptual.

Buku adalah jendela dunia, dan kita bisa melihat dunia kalau mau membaca buku. Alkitab pun menganjurkan kita banyak membaca walaupun secara tersirat. Bagi Anda yang malas membaca, mari mulai suka membaca. Kalau Anda merasa kurang nyaman dengan buku cetakan, Anda bisa menggunakan E-Book yang praktis dan bisa di bawa kemana-mana plus bisa memuat beribu-ribu buku elektronik didalamnya. Mari kita menjadi generasi yang cerdas dan bijaksana dengan suka membaca buku. • Richard T.G.R

* Artikel ini dimuat di Renungan Spirit Motivator – Senin, 27 Desember 2010

Senin, 26 April 2010

Bagaimana Kita Melihat Tuhan?


By : Richard T.G.R

TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya. Nahum 1 : 3

Bacaan : Nahum 1 : 1 – 8


Hubungan kita dengan seseorang sangat ditentukan dari cara kita melihatnya. Kalau selama ini kita menilai seseorang hanya dari segi intelektual atau kekayaannya, maka tindakan kita pun akan sangat berkaitan dengan dua syarat tadi. Katakanlah kita berkenalan dengan orang yang notabene hanyalah lulusan orang SMA dan anak orang tak punya, maka biasanya kita akan kurang menghormati dan tak mau bergaul dengan orang itu. Ceritanya akan lain kalau kita bertemu dengan orang lulusan S2 yang cerdas dan kaya, kita akan sangat respect dan suka bergaul dengannya. Suka atau benci kita bergaul dengan seseorang sangat di tentukan oleh cara pandang kita sendiri. Sekarang bagaimana cara pandang Anda dengan Tuhan? Selama ini Anda menganggap Tuhan sebagai apa? Berikut beberapa cara pandang orang Kristen pada umumnya mengenai Tuhan.

Gembala yang baik (Mazmur : 23 : 1 – 6)
Banyak orang Kristen melihat Tuhan sebagai Bapa yang akan selalu mencukupi segala kebutuhan dan melindungi kita kemana-mana layaknya gembala. Karena hanya melihat Tuhan dari sudut pandang gembala yang baik, banyak orang Kristen menjadi malas dan harus senantiasa di bimbing seperti domba. Mereka menganggap Tuhan akan mencukupkan segala-galanya tanpa mereka perlu bekerja keras. Memang Tuhan adalah gembala yang baik, namun jangan hanya melihat Tuhan dari sisi ini.

Bapa yang sabar (Lukas 15 : 11 – 32)
Masih ingat perumpamaan tentang anak yang hilang? Bapa si anak hilang itu adalah Tuhan kita dan kitalah anak yang hilang. Kita tahu Tuhan maha sabar sehingga tak jarang sebagian kita bersikap kurang ajar pada-Nya. Kita berbuat dosa seenaknya lalu berdoa minta ampun. Setelah diampuni sengaja berbuat dosa lagi yang sama, lalu berdoa minta ampun lagi. Begitu seterusnya. Kita menyalahgunakan kesabaran Tuhan untuk hidup dalam dosa. Ketika pendeta menegor, dengan enteng kita berkata : "Kan Tuhan maha pengampun. Dia akan mengampuni segala kesalahan kita, mengapa Anda sewot?" Kita menganggap jatuh dosa adalah sesuatu yang wajar, toh nanti Tuhan mengampuni, toh Yesus sudah mati buat saya di kayu salib. Ini namanya kita kurang ajar dan mempermainkan kesabaran Tuhan.

Pembuat mujizat (Yohanes 6 : 1 – 15)
Apa perasaan Anda melihat seandainya menjadi salah seorang Israel yang melihat sendiri Yesus memberi makan lima ribu orang hanya dengan lima roti jelai dan dua ikan? Takjub dan pasti menganggap Yesus orang sakti. Kita semua tahu Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang sangat hebat, tidak ada yang mustahil bagi-Nya sehingga banyak dari kita menyalahgunakan kuasa Tuhan. Sebagian kita tanpa sadar bersikap seperti ribuan orang Israel pada masa itu yang ingin di berkati dengan cara instant. Setelah kenyang menerima berkat Tuhan dalam bentuk firman atau berkat secara finansial, kita percaya Tuhan hanya untuk menikmati kuasa-Nya namun tak mau mengikut dan bekerja bersama-Nya. Apa akibatnya? Tuhan justru tegor kita. Bagi yang hanya sekedar Kristen follower, maka kita akan undur secara perlahan-lahan dari Tuhan. Ngapain jadi Kristen kalau melarat terus? Ngapain jadi Kristen kalau saya hidup jujur malah memiliki banyak musuh? Buat apa setia kepada Tuhan kalau saya tak kunjung dapat pendamping hidup? Tuhan memang bisa membuat mujizat, termasuk berkat finansial maupun pasangan hidup. Namun Tuhan juga ingin kita bekerja di ladang-Nya dan menjadi pelaku firman, bukan semata hanya doa minta berkat lalu urusan selesai. Tuhan tak ingin kita menjadi manusia malas yang hanya rajin berdoa namun malas bekerja dan mempraktekkan firman Tuhan.

Tuan yang tak adil (Matius 20 : 1 – 16)
Dalam suatu diskusi Alkitab, saya di tanya mengenai perumpamaan orang-orang upahan di kebun anggur. Si penanya yang sedang belajar Alkitab di gereja kami bertanya kenapa tuan itu berlaku tidak adil? Kok pekerja yang bekerja seharian dan pekerja yang hanya bekerja satu jam saja mendapat upah yang sama? Kok Tuhan lebih memberkati dia yang baru menjadi murid dua atau tiga bulan dengan berkat secara finansial sedangkan aku yang bertahun-tahun berjerih lelah mengikut Tuhan hanya mendapat berkat yang sedikit? Kenapa orang yang baru saja menjadi Kristen di hormati banyak orang, sedangkan aku yang sudah setia sekian lama di anggap biasa-biasa saja oleh jemaat? Pernahkah Anda merasa Tuhan tidak adil? Pernahkah Anda komplain kepada Tuhan mengapa dia yang baru jadi Kristen diberkati luar biasa sedangkan Anda sepertinya mendapat berkat yang biasa-biasa saja? Kita tak berhak mengatur Tuhan begini begitu semau kita, karena seringkali cara pandang kita salah dalam menilai seseorang.

Kita mungkin tidak melihat perjuangan orang yang kelihatannya lebih diberkati itu untuk menjadi Kristen. Dia rela mengorbankan banyak hal untuk ikut Tuhan sedangkan Anda mungkin suam-suam kuku. Jangan pernah membanding-mbandingkan berkat Tuhan karena Anda akan cape sendiri. Selalu akan ada orang yang lebih di berkati dan lebih sedikit di berkati di banding Anda. Menjawab tentang tuan di kebun anggur yang sepertinya tak adil, saya memberikan jawaban yang sederhana. Tuhan itu berlaku adil karena sudah sepakat masalah upah untuk bekerja satu hari (Matius 20 : 2). Kepada setiap pekerja yang bekerja baik dari pagi-pagi benar, pukul sembilan, sampai pekerja pukul lima petang, dia sudah negosiasi harga dan semuanya setuju mendapat upah seperti itu. Tuan itu tidak salah karena semua sudah sepakat masalah upah, mengapa kita menganggap dia tidak adil, di mana letak ketidakadilannya? Suka-suka dia dong mau menggaji berapa para pegawainya, dia yang pegang uang dan memberikan upah, mengapa kita yang sewot dan komplain?

Diktaktor (Matius 10 : 34 – 42)
Ketika kita menganggap Tuhan adalah diktaktor, maka hubungan kita dengannya layaknya tuan dan bawahan yang sangat kaku. Kita patuh dan melakukan segala perintah Tuhan bukan karena kita suka dan sepenuh hati melakukannya, namun karena takut di hukum. Kita sama seperti pegawai yang begitu taat masuk kerja karena takut di potong uang gaji padahal benci dengan apa yang kita kerjakan. Kita setia melakukan segala perintah Tuhan yang kelihatan sangat keras dengan terpaksa karena takut di hukum dan takut tidak diberkati. Tentu hubungan semacam ini harus kita buang karena Tuhan memang Tuan dalam hidup kita, namun Dia tuan yang baik yang memberikan reward untuk hamba yang tekun dan mau bekerja dengan sepenuh hati dan menegor hamba-Nya yang malas dan bekerja asal-asalan atau terpaksa.

Setelah melihat beberapa cara pandang di atas, bagaimana cara pandang yang benar untuk melihat Tuhan? Jangan lihat Tuhan hanya satu sisi namun lihatlah Dia dari banyak sisi. Tuhan memang gembala yang baik, namun sebagai domba-Nya kitapun harus menuruti segala macam perintah dan bimbingan-Nya dan jangan bertindak semau gue sehingga jatuh ke jurang atau di terkam singa. Tuhan kita memang maha sabar dan penuh cinta kasih, namun gunakan kasih pengampunan Tuhan untuk terus memperbaiki diri. Jangan mengulang dosa yang sama, namun perbaharui terus karakter kita agar semakin serupa dengan Kristus. Tuhan kita memang pembuat mujizat, namun mujizat kadangkala tak cukup hanya dengan doa. Mujizat adalah kombinasi antara usaha dan doa. Kalau selama ini mujizat Tuhan yang kita minta tak kunjung terjadi, mungkin kita hanya doa namun tak mau berusaha. Tuhan kita adalah Tuan yang maha kaya dan memberikan berkat sesuai apa yang baik menurut pandangan-Nya, oleh karena itu jangan kita iri hati dan komplain pada Tuhan kalau Dia memberi lebih pada orang yang kelihatannya lebih sedikit melayani di banding kita.

Tuhan kita memang kelihatan seperti diktator, Tuhan tak pernah mau kita main-main dengan firman-Nya. Namun Tuhan bukanlah penguasa yang kejam yang langsung main sikat kalau kita macam-macam. Tuhan akan menegor kita dengan berbagai cara kalau kita mulai menyimpang dalam menjalani firman-Nya. Tuhan kita memang Ayah dan kita anak-anakNya, jadi hormatilah Dia layaknya kita menghormati orang tua. Dengan melihat Tuhan dari berbagai sisi, kita akan memiliki hubungan yang intim dan benar dengan Tuhan. Kita tidak asal-asalan menjadi Kristen, namun kita menjadi Kristen yang melihat Tuhan sebagai sosok yang Maha Kuasa dalam segala posisi.

Sabtu, 13 Februari 2010

Baca Donk

By : Richard T.G.R

Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu. Amsal 4 : 13

Bacaan : Amsal 19 : 20


Negara Vietnam baru merdeka tahun 1968 dan sekarang baru memiliki populasi penduduk sekitar 80 juta jiwa. Secara luas wilayah, negara Vietnam pun jauh lebih kecil dari negara kita, namun secara sumber daya manusia ternyata penduduk Vietnam sedikit lebih cerdas di banding penduduk negara kita menurut sebuah survei. Lho kok bisa? Apa rahasianya? Pemerintah Vietnam memproduksi buku-buku bacaan 15 ribu buku setiap tahun, sedangkan Indonesia hanya 8 ribu buku setiap tahun. Minat baca rakyat Vietnam yang tinggi di tambah dukungan pemerintah yang memproduksi buku besar-besaran membuat mereka jauh lebih cerdas dan suatu saat tak menutup kemungkinan negara mereka jauh lebih maju di banding negara kita.

Untuk menjadi cerdas dan tahu banyak hal, kita mau tidak mau harus suka belajar yang salah satu caranya adalah dengan membaca. Dengan membaca buku, kamu akan selalu bisa mengulang suatu ilmu untuk di baca dan di pelajari. Dengan membaca kamu bisa menjadi juara kelas, bisa tahu berbagai macam ilmu, tahu perkembangan dunia dan teknologi. Saya sampai hari ini bisa terus menulis juga karena rajin membaca berbagai artikel baik dari buku maupun internet untuk terus up-grade pengetahuan plus wawasan. Jangan pernah malas membaca karena buku adalah sumber ilmu pengetahuan. Tuhan dan orangtuamu ingin kamu menjadi anak muda yang pintar baik secara Alkitabiah maupun pengetahuan umum, oleh karena itu rajinlah belajar. Membaca itu menyenangkan, karena itu mulailah rajin membaca. Sudahkah kamu membaca satu buku hari ini?


*Di Muat di Renungan Harian Spirit Next – Januari 2010