Website counter
Tampilkan postingan dengan label Kebahagiaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebahagiaan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Mei 2013

Pesawat Andhika

Baca : Mazmur 139 : 1 – 24
Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. (Mazmur 139 : 13)

Aku punya seorang kawan bernama Andhika yang hobi mengoleksi model pesawat terbang. Di lemari kaca ruang tamunya, tertata rapi puluhan model pesawat terbang komersil maupun militer. Ada pesawat F-16, Airbus 300, sampai pesawat terbang model lama yaitu pesawat Mustang. Aku lalu bertanya padanya, gimana cara membuatnya ya.

Andhika lalu menjelaskan bahwa si pembuat pesawat model lebih dahulu menggambar sendiri polanya. Lalu ia membuat satu bentuk jadinya dari kayu. Setelah itu barulah ia membuat cetakannya dari bahan silikon. Kalau cetakan silikon sudah jadi, cetakan siap diisi dengan bahan fiber. Setelah fibernya kering, miniatur pesawat kasar sudah terbentuk. Pesawat ini lalu dihaluskan dengan pengamplasan dan pendempulan. Setelah pesawat sudah halus betul, pesawat lalu diberi cat dasar. Kemudian diberi cat warna sesuai pesanan. Terakhir, pesawat diberi logo berbentuk gambar atau huruf.

Jagoan Kristus, ketahuilah bahwa Tuhan membentuk tubuhmu dengan cara yang ajaib. Sembilan bulan dalam kandungan ibu, Tuhan membentuk buah pinggangmu dan menenunmu. Kamu adalah spesial dan tiada duanya karena tak ada manusia yang persis sama sepertimu, sekalipun kamu punya saudara kembar. Tuhan sudah tahu kelak wajahmu seperti apa, tinggimu berapa, kamu ngomong pakai bahasa apa, kemampuanmu apa, kekuranganmu apa, dan sebagainya. Tuhan lebih mengenalmu daripada dirimu sendiri, sehingga jangan pernah komplain pada Tuhan kenapa aku dilahirkan dengan rambut keriting, kenapa aku punya kulit kuning, kenapa aku kidal, atau kenapa hidungku pesek. Tuhan merancangmu dengan badan dan aneka kemampuan untuk tujuan yang sangat baik, sehingga jangan iri kalau kamu merasa temanmu lebih gagah atau cantik, lebih pintar atau kaya, karena pasti ada sisi baik dirimu yang tidak dimiliki temanmu. • Richard

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Spirit Junior – Sabtu, 18 Mei 2013
Pertanyaan    : Apakah saya menghargai diri sendiri?
Aplikasi          : Hargai diri sendiri.
Doa                 : Tuhan, terima kasih untuk tubuhku. Amin.

Tak Pernah Puas

Baca : I Tawarikh 16 : 23 – 36
Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. (I Tawarikh 16 : 34)

Kalau kita mengamati pemberitaan media massa cetak maupun elektronik, sebagian kita mungkin tidak habis pikir kenapa ya orang mau korupsi. Orang yang saya maksud di sini bukan orang miskin yang mendadak dapat jabatan, lho. Namun orang-orang yang notabene terhormat, punya aset berlimpah, punya perusahaan, dan ada pula yang kedudukannya tinggi di pemerintahan. Apakah segala yang dimilikinya masih kurang? Kita tidak tahu alasan mereka, yang kita tahu KPK dengan tegas usut kasus KKN mereka tanpa pandang bulu dan tetapkan mereka sebagai tersangka agar dihukum.

WANITA, sesungguhnya tanpa perlu kita tanya pada mereka, kita sebetulnya tahu apa alasan mereka melakukan tindak korupsi. Sederhana, karena mereka tak pernah puas. Mengapa tidak puas? Karena sulit bersyukur dan selalu membanding-mbandingkan keadaannya dengan orang lain. Misalnya, gaji kita sekarang dua juta dan cukup buat membayar segala kebutuhan hidup, ditambah masih bisa nabung. Namun karena iri melihat rekan sepelayanan yang kerja di tempat lain dengan gaji lima juta plus dapat tunjangan ini dan itu, kita tidak puas dan iri hati. Ujung-ujungnya kita salahkan Tuhan dan berkata Dia tidak adil. Kalau tidak dibereskan, kita bisa melakukan tindak kriminal seperti korupsi, mencuri, atau yang ekstrim adalah jual diri. Firman Tuhan menasehati kita agar selalu mengucap syukur dalam segala hal (I Tesalonika 5 : 18). Kalau kita praktekkan, pasti kita tidak mungkin iri hati dan suka protes sama Tuhan karena merasa kurang ini dan itu.

WANITA, kalau kita bersyukur atas apa yang kita miliki, kita pasti akan sering mengeluh karena akan selalu ada orang yang punya sesuatu yang lebih mahal atau lebih baik daripada yang kita miliki. Bersyukurlah bukan karena apa yang kita miliki, namun bersyukurlah karena kita mempunyai Tuhan yang selalu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. • Richard

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Wanita – Senin, 27 Mei 2013
Pertanyaan    : Apakah saya merasa puas dengan apa yang saya punyai saat ini?
Aplikasi          : Kuasai hati kita.
Doa                 : Tuhan, terima kasih atas segala sesuatu yang boleh kami pakai dan terima dari Engkau. Amin.

Selasa, 30 April 2013

Berkatmu Berkatku

Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya. (Amsal 10:22)

Profesional, seorang kawan berkunjung ke rumah saya dan kami ngobrol ke sana ke mari. ″Apa rahasia kamu bisa menjadi seorang penulis?″ tanya kawan saya. ″Kenapa kamu ingin tahu?″ saya balik bertanya sebelum menjawab pertanyaannya. ″Karena saya ingin bisa berhasil seperti kamu. Tinggal duduk enak-enak di depan komputer, bisa santai, pemasukan besar,″ jawabnya. Saya lalu katakan rahasianya simple, yaitu mau latihan terus dan suka belajar, terutama belajar tentang hidup secara langsung. ″Wah, sulit juga ya. Aku paling males membaca buku dan belajar dari hidup orang lain,″ ucapnya. ″Kalau gitu kamu tidak bisa menikmati rejeki saya,″ sahut saya.

Ada sebagian orang yang semangat melihat hidup orang lain karena di matanya pekerjaan orang itu berhasil, pendapatannya besar, bisa mencukupi kebutuhan, dan terkesan enjoy aja. Namun saat orang itu menceritakan hal-hal yang harus dia lakukan lebih dulu untuk bisa mengalami apa yang orang itu alami, biasanya mereka mundur. Kenapa? Karena mereka hanya ingin hasilnya namun tak mau prosesnya. Mereka ingin enaknya, namun tak mau susahnya. Mereka ingin berkat orang lain, namun tak mau ikut menanggung suka duka mencapainya. Apapun pekerjaan kita saat ini, berkat yang kita nikmati sebetulnya berasal dari Tuhan, jadi jangan iri kalau melihat saudara kita lebih diberkati. Kalau kita merasa kekurangan dan tidak diberkati, coba koreksi diri lebih dahulu. Apakah selama ini saya sudah giat bekerja, apakah selama ini saya mencintai pekerjaan saya, apakah selama ini saya kembangkan talenta saya?

Profesional, semua pekerjaan sangat menyenangkan dan kita pasti menuai berkat yang cukup, bahkan berlimpah, kalau kita mengerjakannya dengan hati gembira. Rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau, namun kalau kita mencintai pekerjaan, kita tidak akan pernah iri dan ingin menikmati berkatnya orang lain, karena setiap kita memiliki berkatnya sendiri-sendiri. Richard

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Profesional – Minggu, 14 April 2013
Pertanyaan    : Apakah saya mencintai pekerjaan saya?
Aplikasi          : Kerjakan segala sesuatu dengan hati riang.
Doa                 : Terima kasih Tuhan untuk pekerjaan dan berkat-Mu yang boleh saya nikmati saat ini.

Korban Iklan

Baca : Amsal 21 : 20 – 23
Harta yang indah dan minyak ada di kediaman orang bijak, tetapi orang yang bebal memboroskannya. (Amsal 21 : 20)

Os Hilman, penulis buku laris ″Nine to Five Window″ sekaligus pengusaha di bidang periklanan, menjelaskan tentang dunia periklanan secara detail. Seorang pembuat iklan, khususnya iklan di televisi, harus bisa menciptakan sebuah kesadaran bahwa barang atau jasa yang ditawarkan itu merupakan sebuah kebutuhan yang sangat mendesak dan harus segera dipenuhi oleh mereka yang melihat iklan tersebut. tidak peduli apakah hal tersebut sebenarnya merupakan keinginan dan bukan kebutuhan, iklan yang berhasil adalah iklan yang berhasil mengubah persepsi pemirsa dari keinginan menjadi kebutuhan.

WANITA, kalau mau jujur kita semua sebetulnya korban iklan. Tidak percaya, coba ingat masa kecil kita. Saat lihat iklan tentang makanan ringan atau tempat rekreasi, pasti kita merengek-rengek kepada orangtua minta dibelikan atau pergi ke sana. Setelah dewasa, tanpa sadar sebagian kita masih membawa kebiasaan itu, yaitu minta dibelikan tas atau perhiasan kepada suami karena melihat iklan. Waktu gajian, sebagian kita paling tidak tahan untuk tidak membeli tas, pakaian, atau aksesoris berlabel diskon, padahal barang-barang itu sebetulnya tidak kita butuhkan. Di tengah budaya konsumerisme seperti ini, sebagai wanita bijak kita harus sadar mana yang kebutuhan dan mana yang keinginan. Kuncinya adalah pada pengendalian diri. Tuhan sebetulnya memberkati semua kita, namun sayangnya kita kadang berkekurangan bukan karena Tuhan kurang cukup memberi tetapi karena kita boros. Karena tidak memiliki pengendalian yang benar, kita menuruti rayuan iklan. Bukan salah iklannya, namun salah kita yang menjadikan keinginan sebagai kebutuhan.

Sadarilah bahwa kalau kita menuruti keinginan, kita tak akan pernah puas. Sudah punya tas tiga, pinginnya lima. Sudah punya lima, pinginnya sepuluh. Sudah punya dua Hp bagus, pingin beli dua Hp baru lagi. Hasilnya kita tak pernah puas sedangkan dompet ″jebol″ terus.  Bijaksanalah dalam mengelola setiap berkat yang Tuhan percayakan ke dalam tangan kita. Kendalikan keinginan kita sehingga kita mampu mencukupkan diri dalam segala hal dan tidak hidup berkekurangan. • Richard

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Wanita – Senin, 29 April 2013
Pertanyaan    : Apakah saya selalu menuruti keinginan daging?
Aplikasi          : Bijaksana dalam mengelola berkat.
Doa                 : Tuhan, didik kami untuk mampu mengendalikan diri dalam mengelola keinginan dan kebutuhan. Amin.

Kamis, 31 Januari 2013

Sortir dan Buang

Baca : Filipi 4 : 2 – 9
Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. (Filipi 4 : 8)

Setiap hari sebagian kita membawa tas untuk bekerja atau kuliah. Jika ada waktu luang, cobalah bongkar isi tas kita. Ternyata, kadang-kadang separuh dari isi tas itu adalah barang-barang yang sudang tidak kita perlukan seperti struk ATM yang sudah buram, bungkus tisu, agenda yang jarang dibaca, recehan yang kotor, ballpoint yamg sudah macet, camilan yang tinggal separuh, kumpulan tagihan kartu kredit, dan sebagainya. Meski mungkin ringan, tetapi umumnya barang-barang yang tidak diperlukan membebani tas kita. Sebaiknya sortir dan buang barang-barang yang sudah tidak berguna tersebut.

Dalam menjalani hidup, sering tanpa sadar pikiran kita pun selalu dibebani hal-hal yang tidak penting atau usang seperti masa lalu yang buruk, rasa marah iri dan dengki kepada rekan kerja, kegagalan menyakinkan orang tertentu, atau rasa malu. Efeknya, hari ini kita tidak berani melakukan sesuatu yang seharusnya kita lakukan dan membuat kita semakin sukses. Paulus menasehati kita memikirkan segala sesuatu yang baik bukan tanpa alasan, namun supaya nyaman dengan hidup kita sendiri dan mencintai berbagai peristiwa yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita. Kalau dalam pikiran kita hanya memberikan ruang bagi segala sesuatu yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, maka dalam tindakan nyata pun pasti kita menghasilkan hal-hal tersebut. Namun kalau pikiran berisi kemarahan, kecemasan, kegagalan, malu, dan aneka hal negatif, jangan heran kita akan melakukan tindakan negatif dan menuai hasil negatif. Kita pun membuang cukup banyak energi untuk hal-hal yang sebetulnya tidak perlu diurus dan seharusnya sudah dibuang jauh-jauh hari.

Mari koreksi isi pikiran, melakukan sortir dan buang segala beban pikiran yang selama ini menghambat kita untuk maju jasmani dan rohani. Jangan pernah berikan ruang bagi hal-hal negatif yang membuat kita kurang puas dengan kondisi yang ada, namun berikan sebanyak mungkin ruang untuk berbagai hal positif yang Tuhan berikan. • Richard T.G.R

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Spirit Woman – Sabtu, 15 Desember 2012
Pertanyaan    : Apakah saya selalu membersihkan pikiran saya?
Aplikasi          : Selalu koreksi pikiran.
Doa                 : Tuhan, bimbing kami untuk selalu menjaga pikiran kami. Amin.