Website counter
Tampilkan postingan dengan label Investasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Investasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Mei 2013

Segala Sesuatu Berarti

Baca : Keluaran 20 : 3
Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun. (I Korintus 6 : 12)

Mayoritas orang dewasa menonton TV antara 20-30 jam seminggu dan kemudian menyakinkan diri sendiri bahwa mereka tidak mempunyai cukup waktu untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Mereka menipu diri sendiri dengan berkata: ″Mengapa tidak? Ini satu-satunya jalan saya dapat bersantai dan saya telah bekerja seharian penuh dan pantas saya melakukannya.″ Yang terjadi ialah bahwa satu malam lagi yang seharusnya membawa mereka satu langkah kecil lagi ke arah apa yang mereka inginkan telah berlalu. Rasionalisasinya biasanya adalah ″tadi malam tidak berarti.″

Segala sesuatu berarti! Segala sesuatu yang membawa kita ke arah apa yang kita inginkan itu benar dan segala sesuatu yang membawa kita menjauh dari apa yang kita inginkan itu salah. Sekarang marilah kita mulai menghitung berapa lama waktu kita setiap hari di depan TV dan berapa lama waktu yang kita sediakan untuk Tuhan? Berapa jam kita kuat menonton sinetron dan berapa jam kita kuat membaca Alkitab atau berdoa? Seandainya saja setiap minggu kita mampu mengurangi waktu menonton TV, tentu ada tambahan waktu yang cukup banyak untuk lebih lama berdoa dan merenungkan firman-Nya, untuk ngobrol dengan suami atau anak, untuk mengunjungi saudara-saudara seiman yang sedang sakit, atau untuk ikut seminar-seminar yang bisa meningkatkan potensi diri kita.

WANITA, tidak salah kita menonton televisi, namun menjadi pemborosan waktu yang merugikan diri sendiri jika kita menyediakan waktu lebih dari dua jam setiap hari untuk menonton TV, yang lebih banyak menceritakan kabar buruk daripada kabar baik. Kalau kita membiarkan hal ini terus terjadi, tanpa sadar kita menjadikan TV sebagai berhala, kita lebih tahan lama di depan TV daripada berdoa atau meluangkan waktu untuk mendukung saudara seiman. Kita lebih tahan lama melihat sinetron, daripada bersaat teduh dan berdoa. Jika kita kecanduan menonton TV, kurangi dari sekarang agar hidup kita lebih berarti. • Richard

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Wanita – Rabu, 29 Mei 2013
Pertanyaan    : Dalam kegiatan apa saya boros waktu?
Aplikasi          : Bijaksana dalam mengelola waktu.
Doa                 : Bantu kami Tuhan untuk bijaksana mengelola waktu. Amin.

Selasa, 30 April 2013

Mati Rasa

Baca : Matius 24 : 3 – 14
Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. (Matius 24 : 12)

Arti kata "mati rasa" adalah tidak merasakan apa apa. Kita bayangkan orang yang diberi suntikan mati rasa oleh dokter sebelum dioperasi. Itu maksudnya supaya ketika dioperasi dia tidak akan merasa sakit. Misalnya kita menjalani cabut gigi di tempat dokter. Sebelum dicabut, dokter akan suntikan bius lokal agar kita tidak merasa sakit saat gigi dicabut, namun kita tetap sadar dan bisa mengamati aktifitas si dokter. Rasa sakit baru akan muncul saat efek obat bius sudah hilang.

Suntikan obat bius dalam dunia kedokteran sudah terbukti menolong banyak sekali nyawa, namun mati rasa dalam tubuh rohani akan mematikan diri sendiri. Yesus waktu ditanya para murid tentang apakah tanda kesudahan dunia dan tanda kedatangan-Nya, Yesus berikan banyak tanda. Salah satunya kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Bagaimana bisa mati rasa secara rohani? Karena dosa yang dilakukan terus menerus. Contohnya, beberapa orang jadi koruptor karena dari kecil sudah biasa mencuri, sudah biasa kita lihat orang tidak peduli sesamanya karena sudah sejak lama ia biasa tidak peduli akan hal-hal kecil seperti memberi sedekah untuk pengemis, atau menolong temannya yang jatuh dari sepeda.

Apakah kita masih hangat oleh kasih sehingga kita begitu mudah tersentuh melihat kesusahan orang lain dan langsung tergerak untuk membantu? Hati-hatilah kalau kita mulai masa bodoh dengan kesusahan orang lain dan hanya sibuk memikirkan kepentingan diri sendiri. Berbagai tanda kedatangan Yesus sudah digenapi, sehingga mari jaga hati tetap hangat oleh kasih sehingga banyak orang bisa kita tolong. Kasih kebanyakan orang di sekitar kita boleh dingin, namun jangan biarkan itu mempengaruhi kita untuk berhenti mengasihi satu sama lain. • Richard

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Wanita – Rabu, 10 April 2013
Pertanyaan    : Apakah hati saya masih hangat oleh kasih?
Aplikasi          : Jangan biarkan kasih kita dingin.
Doa                 : Tuhan, ajar aku menjaga hatiku tetap hangat oleh kasih. Amin.

Kamis, 31 Januari 2013

Pengelola yang Baik

Baca : Kejadian 30 : 25 – 43
Maka sangatlah bertambah-tambah harta Yakub, dan ia mempunyai banyak kambing domba, budak perempuan dan laki-laki, unta dan keledai. (Kejadian 30 : 43)

Seorang teman beberapa waktu lalu bercerita bahwa ia sedang prihatin dengan nasib salah seorang saudaranya. Saudaranya yang katakanlah namanya si A orangtuanya meninggal dunia karena mengalami kecelakaan saat naik mobil. Sebagai anak jelas ia mendapat bagian warisan yang cukup besar yaitu sebuah ruko dan uang tunai sekian ratus juta rupiah karena almarhum orangtuanya kaya. Dengan modal yang ada si A membuka rumah makan, namun baru jalan 3 bulan, tutup, dan berganti warnet. Usaha warnet juga gagal, sehingga 6 bulan kemudian berganti lagi menjadi usaha jual beli hp. Usaha terakhir pun gagal. Uang tabungan habis, dan kini ia menjadi penganggur yang melamar kerja ke sana ke mari namun belum ada hasil. Sedangkan ruko itu akan dia jual untuk menutup hutang.

Kisah seperti di atas sering kita baca dan lihat, entah dari internet, TV, atau terjadi di sekitar kita. Ada anak dapat warisan, namun tidak bisa mengelolanya. Dari situ kita bisa belajar bahwa modal berupa uang atau tanah yang besar tidak menjamin seseorang bisa langsung sukses. Kekayaan bukanlah modal terpenting, namun modal yang paling penting adalah karakter. Kita bisa belajar hal ini dari Yakub. Saat Yakub datang pada Laban, ia tak punya harta apapun. Untuk mendapatkan Rachel dan Lea, ia harus bekerja selama 14 tahun. Setelah itu ia baru memperoleh ternak setelah mengadakan perjanjian dengan Laban. Selama 6 tahun berikutnya Yakub bekerja keras dengan mengusahakan domba-domba Laban yang dipercayakan padanya sehingga hartanya makin bertambah dari waktu ke waktu. Ketekunan Yakub membuat Tuhan memberkati hidup-Nya.

WANITA, berapa pun berkat yang Tuhan percayakan pada kita saat ini, jadilah pengelola yang baik. Berkat sebanyak apapun akan ludes dalam waktu singkat kalau kita buruk mengelolanya. Namun berkat sekecil apapun pasti akan berlipat kalau kita mengelolanya dengan baik. • Richard T.G.R

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Wanita – Kamis, 10 Januari 2013
Pertanyaan    : Sudahkah saya menjadi pengelola yang baik?
Aplikasi          : Kelola dengan benar berkat apapun yang kita punya saat ini.
Doa                 : Tuhan, ajar saya untuk menjadi pengelola yang bijak atas harta yang telah Engkau percayakan. Amin.

Selasa, 27 November 2012

Yang Realistis Dulu

Baca : Yohanes 1 : 35 – 51
Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)." (Yohanes 1 : 41)

Beberapa waktu lalu, salah satu majalah di Paris, Perancis memberikan sebuah kuis berhadiah dengan pertanyaan seperti ini: "Seandainya suatu hari Museum Louvre terbakar hebat. Anda kebetulan sedang berada di sana dan punya kesempatan untuk menyelamatkan satu lukisan dari sekian banyak lukisan yang ada di situ. Lukisan manakah yang akan Anda selamatkan?" Dari puluhan ribu pembaca yang membalas pertanyaan itu, redaksi hanya memilih satu jawaban yang dianggap paling bagus, yang berasal dari seorang pelukis muda. Dia menjawab, lukisan yang paling dekat dengan pintu keluar yang akan diselamatkan. Menurut majalah tersebut, jawaban itu sangatlah tepat karena di dalam Museum Louvre terdapat banyak lukisan yang sangat berharga dan satu-satunya di dunia. Jadi, tentunya akan lebih baik langsung menyelamatkan lukisan yang dekat pintu, daripada sibuk mencari lukisan yang akan dibawa atau berlari mengambil lukisan langka yang terletak jauh di ujung lorong.

Kisah di atas memberikan satu pesan berharga, yaitu kalau kita ingin berhasil dalam hal apapun, kita bisa memulainya dari hal-hal paling dekat dan realistis. Misalnya kita ingin memenangkan satu jiwa baru untuk Tuhan. Kita bisa memulainya dari sanak keluarga kita yang belum mengenal Tuhan. Kita membuka usaha jual pulsa, kita mulai mencari pembeli dengan menawarkannya pada rekan-rekan kerja. Fokus pada target-target yang realistis dan sesuai kemampuan kita saat ini memungkinkan kita berhasil. Andreas memulai penginjilannya dengan mengajak Petrus. Filipus memulai penginjilannya dengan mengajak Natanael. Mereka kala itu belum tahu bagaimana cara menginjil, bagaimana cara berkhotbah, atau bagaimana cara mengajak orang, tapi mereka berhasil menginjil karena memulainya dari yang paling dekat, yaitu sanak saudara dan teman mereka.

Keberhasilan skala besar dalam bidang apapun dimulai dari keberhasilan demi keberhasilan kecil yang terus menerus kita usahakan. Perhatikan sekeliling kita dan mulailah dari yang terdekat untuk mulai berusaha. Jangan mengusahakan sesuatu yang jauh dari kemampuan, tapi mulailah dari sesuatu yang dekat dengan kita dan mampu kita dapatkan. • Richard T.G.R

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Spirit Next – Rabu, 31 Oktober 2012
Pertanyaan    : Keberhasilan seperti apa yang ingin saya raih saat ini?
Aplikasi          : Usahakan sesuatu yang sesuai kemampuan.
Doa                 : Tuhan, ajar kami memulai usaha kami dari yang paling dekat. Amin.

Kamis, 30 Agustus 2012

Excellence

Baca : Kisah Para Rasul 3 : 1 – 10
Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" (Kisah Para Rasul 3 : 6)

Excellence adalah sebuah tindakan yang lebih dari biasa. Bukan cuma penampilan yang dapat dilihat manusia, niat dalam hati dan pikiran manusia, tetapi suatu keutuhan yang lahir dari sikap hati, pikiran, kata-kata dan tindakan yang bersumber pada roh yang telah diperbaharui (Roma 12:2). Excellence berarti menjadi yang terbaik dari diri kita; menyelaraskan potensi dengan kinerja kita.

Ketika seorang laki-laki yang lumpuh sejak lahirnya meminta sedekah pada Petrus dan Yohanes yang datang ke Bait Allah, ia tidak mendapatkan sedekah yang ia mau. Petrus memberikan sesuatu yang lebih bernilai daripada sedekah yaitu kesembuhan. Petrus bisa memberikan kesembuhan pada si lumpuh selain karena kuasa Roh Kudus, juga karena mau melakukan satu tindakan yang lebih dari biasa. Kalau orang lain hanya bisa sekedar memberikan uang serelanya pada si lumpuh, ia berikan kesembuhan sehingga si lumpuh itu tak perlu mengemis lagi dan tak perlu tiap-tiap hari orang menggusungnya ke Bait Allah.

Lalu bagaimana caranya kita menjadi pribadi excellence yang memuliakan Tuhan sekaligus bisa memberikan sesuatu yang lebih baik kepada sesama? Lakukan dengan totalitas. Kita tidak hanya memberikan tanggung jawab dalam bertindak, namun juga dibarengin dengan sikap memberikan kualitas yang terbaik. Kalau orang lain bekerja hanya demi dapat gaji, kita harus bekerja lebih daripada itu yaitu untuk menolong sebanyak mungkin orang dan hasil pekerjaan kita memberikan manfaat maksimal pada orang yang menerimanya. Hasil terbaik hanya datang pada orang yang melakukan tindakan terbaik. Pilihlah hal-hal terbaik yang ingin kita raih saat ini dan tentukan prioritasnya sehingga perlahan tapi pasti kita akan menghasilkan berbagai tindakan terbaik. • Richard T.G.R

Catatan          : Renungan ini dimuat di RHK Aletea – Minggu, 12 Agustus 2012
Pertanyaan    : Sudahkah aku menjadi pribadi excellence?
Aplikasi          : Lakukan segala sesuatu dengan totalitas.
Doa                 : Tuhan, bantu kami untuk bisa melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati. Amin.