Website counter
Tampilkan postingan dengan label Care. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Care. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 November 2012

You're My King

Baca : Matius 26 : 47 – 56
Akan tetaspi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi." Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri. (Matius 26 : 56)

Pada akhir bulan Desember 2007, pangeran Harry, pewaris ketiga tahta Kerajaan Inggris, dikirim secara rahasia ke Afganistan. Di negara yang sedang dilanda perang itu, Harry bertugas sebagai personel kavaleri yang berjuang di garis depan. Ia membaur dengan ribuan tentara Inggris yang lain, dan ditempatkan di Provinsi Helmand, Afganistan Selatan. Ia mendapat perlakuan yang sama dalam pasukannya, sekalipun ia anak raja. Namun sayang, hanya dalam waktu 10 minggu ia ditarik pulang karena pers mengetahui keberadaannya dan pihak kerajaan cemas Harry menjadi sasaran serang,

Berbeda dengan Harry yang dikirim secara sembunyi-sembunyi. Yesus dikirim ke dunia, tepatnya Israel, secara terang-terangan. Ketika Yesus menginjil selama kurang lebih tiga setengah tahun, Ia dengan berani mengakui diri-Nya adalah Mesias. Sewaktu Yesus tahu sebentar lagi Dia akan mengalami siksaan, Bapa di sorga tidak menarik Dia pulang, namun justru membiarkan Yesus mengalami penyiksaan dan pembantaian yang sangat tragis. Harry datang ke Afganistan disertai ribuan tentara Inggris, Yesus di sertai 12 pasukan malaikat. Namun Yesus tak mau gunakan pasukan-Nya. Yesus memilih mati bagi kita semua karena Ia lahir ke dunia dengan misi menyelamatkan umat manusia.

Dari kedua kisah di atas, mari kita bertanya pada diri sendiri. Kalau Yesus dengan gagah berani mau mengakui Dia adalah anak Tuhan dan menebus dosa kita dengan kematian-Nya, apakah kita sebagai anak-anakNya juga terang-terangan mengakui Dia adalah Tuhan? Apakah tingkah laku kita menunjukkan kita menuruti apapun perintah-Nya, sekalipun harus menderita? Apakah kita tidak takut menghadapi orang-orang yang memusuhi seorang Kristen? Jangan pernah gentar menunjukkan diri kita adalah anak-Nya yang sejati dengan menghidupi firman-Nya dan mengakui secara terang-terangan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Anak Allah yang hidup. • Richard

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Spirit Girls – Rabu, 24 Oktober 2012
Pertanyaan    : Apakah saya takut menghadapi orang-orang yang memusuhi Kekristenan?
Aplikasi          : Jangan gentar mengakui Yesus adalah Tuhan.
Doa                 : Tuhan, tambahkan keberanian kami agar mengakui Engkau Tuhan kami dalam setiap tutur kata dan tindakan kami. Amin.

Rabu, 31 Oktober 2012

Menghitung Kembali

Baca : Yohanes 10 : 1 – 21
Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku (Yohanes 10 : 14)

Setiap kali saya pulang dari Semarang ke kampung halaman di Majenang, atau dari Majenang kembali ke Semarang, saya terbiasa menggunakan jasa sebuah bus Patas. Karena membutuhkan waktu kurang lebih delapan jam perjalanan, bus akan selalu berhenti di kota Buntu, Jawa Tengah, untuk makan gratis bagi para penumpang di satu restoran dan membuat kru bus bisa beristirahat sejenak. Setiap kali bus akan meninggalkan restoran, kondektur bus akan selalu menghitung lebih dahulu para penumpangnya, apakah semuanya sudah masuk atau ada yang tertinggal. Pernah ada kejadian tiga penumpang belum masuk, kondektur pun turun dan melalui pengeras suara di restoran diumumkan kembali bahwa tiga penumpang yang belum naik diharapkan segera naik.

Hamba Tuhan, sebagai gembala yang dipercaya Tuhan mengembala sejumlah jemaat, apakah kita memastikan kondisi setiap jemaat kita sehingga mereka semua tidak ada yang tertinggal dan semuanya bisa sampai ke sorga? Atau kita masa bodoh dan mementingkan kepentingan diri sendiri? Kita hanya peduli pada kuantitas jemaat, kita melakukan ini dan itu agar banyak orang masuk ke gereja kita sehingga pemasukan gereja meningkat dan otomatis taraf hidup kita meningkat. Namun kita tak pernah tahu bagaimana rohani masing-masing mereka, bagaimana kualitas iman mereka, tahan ujikah mereka menghadapi berbagai tantangan hidup. siapa yang sedang lemah, siapa yang sedang sakit, siapa yang bertalenta, dan lain-lain. Tuhan dengan sangat jelas berkata Ia mengenal domba-dombaNya sehingga domba-domba itu pun mengenal Dia. Bagaimana dengan kita? Seberapa dekat hubungan kita dengan mereka dan seberapa sering kita mengunjungi mereka? Jawaban jujur kita akan menentukan seberapa sehat domba-domba kita.

Belum terlambat untuk menjadi gembala yang bertanggung jawab. Mari kita menuntun dan memastikan setiap jemaat kita hidup sesuai firman Tuhan sehingga tak ada satu pun dari mereka tertinggal untuk masuk sorga. Gembala yang baik akan selalu memperhatikan kebutuhan domba-dombanya dan siap berkorban nyawa jika ada bahaya datang. Jadilah gembala seperti Yesus yang selalu menjaga dan memastikan kita baik-baik saja senantiasa. • Richard T.G.R

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Spirit Penuai – Selasa, 18 September 2012
Pertanyaan    : Apakah saya sudah menjadi pemimpin yang menjaga anak buahnya?
Aplikasi          : Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab.
Doa                 : Tuhan, sertai saya dalam memimpin orang-orang yang Engkau percayakan. Amin.

Kamis, 30 Agustus 2012

Belajar Memahami

Baca : Lukas 7 : 11 – 17
Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!" (Lukas 7 : 13)

Andy F.Noya adalah host acara Kick Andy yang menginspirasi jutaan orang Indonesia untuk tidak menyerah dengan keterbatasan mereka. Suatu kali di tengah kemacetan kota Jakarta, mobil Andy ditabrak motor dari belakang sampai penyok. Cukup alasan baginya untuk marah dan meminta ganti rugi. Tetapi begitu melihat yang menabrak adalah seorang anak yang memboncengkan ibunya yang sudah tua, hati Andy luluh. ″Saya ingat waktu Mama dituntut membayar ganti rugi kaca spion mobil yang saya pecahkan. Mama yang hanya tukang jahit harus mengangsur berbulan-bulan sampai lunas,″ kenang Andy. Latar belakang dan pengalaman hidupnya membuat Andy gampang memahami orang lain.

Saat membaca renungan ini, kita mungkin sedang marah dengan seseorang. Hal ini bisa terjadi karena kita merasa orang itu menyebalkan, susah dinasehati, dan merugikan diri kita. Kita merasa tidak enak hati dan terus memikirkan orang itu. Kita berhak komplain atas kelakuan seseorang yang di hati kita terasa kurang pas, namun pernahkah kita mencoba memahami mengapa orang itu melakukan tindakan itu? Misalnya orang itu pendiam dan kurang mau terbuka dengan kita, pernahkah kita mencoba mencari tahu mengapa orang itu bersikap demikian, atau kita mendiamkannya dan memberikan label dia orang sombong? Yesus adalah Tuhan yang sangat memahami keadaan setiap orang yang Ia temui. Contohnya, Ia membangkitkan seorang anak muda di Naim. Yesus tergerak oleh belas kasihan karena melihat ibu si anak seorang janda dan anak itu adalah anak satu-satunya.

Mari kita belajar memahami seperti Yesus. Jangan menilai seseorang dari apa yang nampak, namun nilai juga dari apa yang tidak nampak. Jangan menilai perbuatan jelek seseorang, namun cari tahu mengapa orang itu berbuat jelek. Saat kita mampu memahami keadaan orang lain, itu menandakan kita berbeda dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang hanya bisa menghakimi dosa orang lain. • Richard T.G.R

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Wanita – Minggu, 12 Agustus 2012
Pertanyaan    : Apakah aku bisa memahami perasaan orang lain?
Aplikasi          : Mari kita belajar memahami seperti Yesus.
Doa                 : Lembutkan hatiku Tuhan agar mampu memahami orang lain. Amin.

Sabtu, 31 Maret 2012

Bersikap Kritis

Baca : Yohanes 14 : 1 – 7
Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" (Yohanes 14 : 5)

Bersikap kritis, pada umumnya tidak disukai sebagian orang. Dalam kehidupan sehari-hari, sudah biasa kita temui orang-orang yang kritis banyak musuhnya. Mahasiswa yang kritis terhadap pemerintah dan demo, biasanya mau tak mau bentrok dengan aparat dan badannya babak belur karena berkelahi untuk mengungkapkan sikap kritis mereka. Tokoh-tokoh pejuang HAM dan keadilan pun dibenci sebagian orang karena mereka membuka mata umum bagaimana kejamnya tindakan kelompok-kelompok tertentu. Di jaman pemerintahan Orde Baru, orang-orang kritis bahkan langsung hilang bagai ditelan bumi kalau berani menyuarakan sesuatu yang bertentangan dengan pemerintah.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, apakah salah kita bersikap kritis? Tidak, justru Tuhan ingin kita bersikap kritis, karena itu menandakan kita ingin mengerti dan ingin terjadi satu perubahan yang positif. Bicara masalah kritis, kita bisa belajar dari Tomas. Saat Yesus menjelaskan rumah Bapa, Tomas dengan berani bertanya. Walaupun pertanyaannya terkesan meragukan ucapan Yesus, namun pertanyaannya menunjukkan ia ingin tahu dan Yesus akhirnya mengungkapkan hal yang sangat mendasar dalam iman Kristen. Jawaban Yesus atas pertanyaan Tomas menjadi dasar kita sebagai orang percaya bahwa Yesuslah jalan kebenaran, dan hidup.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, mari kita menjadi murid Yesus yang kritis karena dengan sikap ini iman kita akan bertumbuh. Kalau kita tidak mengerti khotbah pak pendeta, jangan malu bertanya setelah beliau berkhotbah. Jangan menjadi orang Kristen yang sok pintar, manggut-manggut seakan mengerti saat dijelaskan firman Tuhan, namun sesungguhnya nggak ngerti sama sekali. Jangan malu atau takut menjadi orang kritis. Orang bodoh malu bertanya sehingga bodoh untuk selamanya. Orang kritis bodoh untuk satu menit, namun untuk selanjutnya mengerti selamanya karena mau bertanya dan bertindak. • Richard T.G.R

Catatan          : Renungan ini dimuat di RHK Aletea – Rabu, 14 Maret 2012
Pertanyaan     : Apakah aku kritis?
Aplikasi          : Jangan takut menjadi kritis.
Doa                : Tuhan, bentuklah aku menjadi murid-Mu yang kritis. Amin.

Minggu, 01 Januari 2012

Puntung Rokok

Baca : Yakobus 3 : 1 – 12
Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. (Yakobus 3 : 5)

Pada tanggal 12 September 2011, lebih dari 100 orang tewas dan beberapa orang terluka akibat ledakan pipa minyak dan kebakaran di dekat depo milik Kenya Pipeline Co. di Ibu Kota Kenya, Nairobi. Polisi dan tentara menutup daerah tersebut saat pemadan kebakaran selama berjam-jam berusaha memadamkan api dengan bahan kimia. Selesai memadamkan api dan memeriksa saksi mata, laporan tim investigasi menyebutkan ledakan itu disebabkan oleh puntung rokok yang dilemparkan ke got yang penuh dengan minyak.

Girls, sebuah puntung rokok bisa meledakan sebuah depo dan menewaskan ratusan orang disekitarnya. Kecil namun dampaknya sangat mematikan, baik untuk kesehatan maupun untuk hal-hal lain. Itulah puntung rokok. Sama seperti puntung rokok yang bila tidak dimatikan dan dibuang pada tempatnya bisa sangat menghancurkan, perkataan kita pun bisa melukai dan membinasakan orang lain jika kita tidak hati-hati dalam menggunakan lidah. Mungkin kita dengan keras membantah dan berkata aku tidak pernah membunuh orang lain, aku tidak pernah melukai orang lain. Memang betul kita tidak melukai secara fisik, namun secara psikis kita bisa melukai bahkan membunuh lawan bicara kita yang bisa berupa sahabat, teman, atau sekedar kenalan, saat kita mengeluarkan kata-kata yang kasar, kotor, atau melecehkan. Kata-kata tersebut bisa membuat lawan bicara kita rendah diri, marah-marah, atau membuat dia melakukan satu tindakan jahat.

Lidah memang kecil dan tak bertulang, namun bisa menghasilkan banyak perkara besar, baik secara positif maupun negatif. Lidah bisa mengeluarkan perkataan berdasarkan isi hati kita. Oleh karena itu mari kita jaga hati agar tetap murni dan bersih, sehingga perkataan yang keluar melalui lidah kita adalah perkataan yang memberkati dan membuat semangat setiap orang yang mendengarnya. Mintalah penyertaan Tuhan agar Ia selalu mengingatkan kita agar hati-hati dalam berbicara. • Richard T.G.R

Catatan           : Renungan ini dimuat di Renungan Spirit Girls – Rabu, 18 January 2012
Pertanyaan      : Apakah lidahku mengeluarkan perkataan positif?
Aplikasi           : Jaga hati agar tetap murni dan bersih.
Doa                 : Tuhan, tolong selalu ingatkan aku agar hati-hati dalam berbicara. Amin.

Minggu, 31 Juli 2011

Berharga di Mata Tuhan

Baca : Lukas 19 : 1 – 10
Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Lukas 19 : 10

Beberapa waktu lalu seorang sahabat yang bekerja sebagai agen asuransi menawari saya untuk ikut asuransi. Dia lalu menjelaskan berbagai keuntungan saya ikut asuransi dan menjelaskan secara detail kelebihan maupun kekurangan produknya. Jujur, saya ingin ikut asuransi, namun berhubung penghasilan belum mencukupi untuk rutin membayar premi yang ditawarkan, saya menolak secara halus. Saya butuh asuransi karena saya mengasihi nyawa saya dan keluarga saya. Oleh karena itu dengan adanya asuransi, paling tidak hidup keluarga saya lebih terproteksi jika saya mengalami suatu musibah.

Saya menulis masalah asuransi bukan untuk beriklan, namun mengajak kita sama-sama merenung kenapa sebagian kita mau ikut asuransi Sederhana, karena kita menghargai nyawa kita. Memang betul nyawa tak dapat dinilai dengan uang, namun paling tidak kita mendapat kompensasi jika mengalami musibah atau kematian. Nyawa manusia sangat berharga, oleh karena itu Tuhan rela turun ke dunia untuk menebusnya. Kalau asuransi hanya mampu memproteksi hidup kita di bumi, Tuhan memberikan lebih daripada itu. Tuhan berikan janji keselamatan masuk surga kepada kita yang percaya dan mau mengikut Dia. Setiap nyawa manusia berharga di mata Allah, salah satunya Zakheus. Secara hitung-hitungan dunia, Zakheus sesungguhnya tak pantas menerima pengampunan. Zakheus patut dibenci dan dikucilkan, namun Yesus sengaja menyapa dan datang ke rumahnya agar Zakheus menerima pengampunan. Yesus tahu dalam hati kecil Zakheus dia butuh pengampunan.

Di sekitar kita masih banyak orang yang belum kenal Tuhan dan butuh pengampunan. Dari penampilan luar memang mereka kelihatan baik-baik saja, cukup harta, cukup sandang, pangan, dan papan, tetapi mereka butuh Tuhan. Sebagai murid Yesus, mari kita hampiri mereka dan ajak mereka mengenal Tuhan. Kita menjadi murid Yesus bukan hanya sekedar untuk memenuhi bangku gereja, namun untuk mencari dan menyelamatkan saudara-saudara kita yang hilang. • Richard T.G.R

Pertanyaan    : Apakah aku menghargai nyawa sesamaku?
Aplikasi        : Ajak sebanyak mungkin orang menggenal Tuhan.
Doa              : Tuhan, ajar aku peduli dengan nyawa saudara-saudaraku. Amin.

Bertindak untuk Menolong

Baca : Matius 8 : 14 – 17
Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangunlah dan melayani Dia. Matius 8 : 15

Tutupnya belasan industri besar sektor perkayuan setelah penertiban pembalakan ilegal kayu di Kalimantan Barat membuat ekonomi para pekerjanya terpuruk. Hal ini membuat seorang bernama Abas yang bekerja sebagai konsultan di sebuah perusahaan di Sungai Abawang prihatin, dan memutuskan memberikan bantuan. Pada tahun 2005 ia keluar dari pekerjaannya dan menekuni budidaya holtikultura. Ia menyewa sebuah lahan yang tak produktif untuk bercocok tanam. Awal mula mencoba tidaklah mudah. Pertama, karena belum ada satu orang pun di daerahnya yang menanam sayur sebab sayuran masih mengandalkan pasokan dari Pulau Jawa. Kedua, sayur yang ia tanam sering dicuri.

Abas maklum ada warga yang mencuri sayurnya karena banyak yang menganggur. Saat panen, ia justru membagikan sayur itu kepada mereka. Langkah ini membuat warga senang dan malah saling mengingatkan untuk tidak mencuri. Abas lalu mengajak mereka belajar holtikultura, sehingga orang-orang inilah yang menjadi generasi pertama dari sektor kayu yang menjadi petani. Enam tahun kemudian, keberhasilan Abas memberdayakan para penggangur dari sektor kayu ini dijadikan model pembangunan sektor pertanian di Kabupaten Kubu Raya. Mulai Maret 2011 Abas menjadi duta untuk setiap kecamatan Kubu Raya. Selain menggerakan roda perekonomian masyarakat, upaya yang dipelopori Abas juga membuat pasokan sayur di Pontianak stabil. (Sumber : Harian Kompas – Senin, 2 Mei 2011).

Yesus mengajarkan kepada kita untuk peduli dan mengambil tindakan saat melihat ada satu masalah atau kesulitan yang terjadi di sekitar kita. Hal ini Yesus tunjukkan dengan menolong sebanyak mungkin orang, salah satunya mertua Petrus. Tanpa perlu Yesus turun tangan, sebetulnya mertua Petrus bisa sembuh sendiri karena hanya sakit demam. Namun Yesus tahu orang menderita sakit demam itu tidak nyaman, sehingga Ia segera memberikan kesembuhan. Di ayat selanjutnya (ayat 16) Ia menyembuhkan banyak orang.

Mau peduli dan mengambil tindakan menuntut pengorbanan baik secara materi, tenaga, waktu, maupun pikiran. Apakah kita menjadi seorang murid yang peduli atau kita menjadi murid yang lebih suka berdiam diri dan menuding pihak lain untuk ambil tindakan? Segeralah bertindak untuk membuat keadaan menjadi lebih baik, sekecil apapun potensi kita. Karena sekecil apapun tindakan, itu pasti akan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi orang-orang yang kita bantu. • Richard T.G.R

Pertanyaan    : Apakah aku seorang murid yang peduli?
Aplikasi        : Jadilah murid yang mau peduli.
Doa              : Tuhan, ajar aku untuk peduli satu sama lain. Amin.

Senin, 28 Februari 2011

Pribadi yang Peduli

Baca : Lukas 15 : 1 – 7
Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lukas 15 : 1

Apa yang terpikir dalam benak Anda saat melihat ada seorang gembel tua tidur di sebuah pos polisi di waktu malam saat berhenti di perempatan lampu merah? Apa yang Anda rasakan ketika melihat beberapa tunawisma tidur di emper-emper toko saat hujan deras? Apa yang Anda rasakan melihat anak-anak kecil mengamen sambil mengemis-ngemis di tengah panas terik, sedangkan Anda berada dalam mobil yang ber-ac atau naik sepeda motor? Apa yang Anda rasakan saat melihat seorang pemulung di temani seorang anaknya mengais-ngais tong sampah dengan garpunya, sambil berharap menemukan satu atau dua kardus bekas atau botol air mineral bekas? Kalau Anda menganggap itu bukan urusan Anda dan sudah biasa orang miskin ada dimana-mana, mari kita belajar dari Bunda Theresa.

Bunda Theresa bukanlah siapa-siapa dan bukan orang kaya. Namun dunia hari ini tetap mengenang beliau sebagai seorang biarawati yang sangat di segani semua kalangan karena tindakannya yaitu mau peduli dengan orang miskin dan orang sakit yang "berceceran" di jalan-jalan Kalkuta. Bunda Theresa tak peduli apakah orang itu berdosa atau tidak, Kristen atau Hindu, hampir mati atau masih disembuhkan, yang dia peduli adalah orang itu bisa sembuh dan memiliki hidup yang layak. Kalau pun mati, dia mati dengan cara yang terhormat. Bunda Theresa mengajarkan kepada kita agar jangan pernah melihat penampilan atau menghitung untung rugi saat menolong sesama, karena Tuhan pun tak jaim atau menghitung untung rugi saat menerima kita sebagai anak-Nya dan mengampuni segala kesalahan kita.

Yesus sewaktu menginjil kesana kemari mendapat julukan sahabat orang berdosa, dan dengan senang hati Yesus menerima julukan itu. Dalam beberapa kesempatan Yesus menegor mereka yang rajin ibadah namun tidak peduli dengan nasib orang berdosa. Yesus sengaja menceritakan beberapa perumpamaan untuk membuat mereka sadar dan mau peduli.

Ringkasnya : Sebagai murid Yesus masa kini, mari kita menjadi murid-Nya yang mau peduli. Diri kita adalah perpanjangan tangan Tuhan untuk menolong orang-orang yang kekurangan itu. Kita mungkin tak bisa melakukan tindakan besar seperti Yesus dan Bunda Theresa, namun kita bisa memulainya dengan mau peduli nasib satu dua orang. Murid Yesus yang sejati mengasihi semua orang tanpa melihat penampilan. Buktikan kita adalah murid-Nya dengan memberikan apa yang mampu kita berikan kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan pertolongan. • Richard T.G.R

Pertanyaan     : Seberapa pedulikah aku dengan orang-orang di sekitarku?
Aplikasi          : Jadilah pribadi yang mau peduli.
Doa                 : Tuhan, ajar aku untuk memiliki hati yang mau peduli kepada sesama. Amin.