Website counter
Tampilkan postingan dengan label Adaptasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adaptasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Juni 2013

Belajar dari Masalah

Baca : Yohanes 21 : 15 – 19
Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku." (Yohanes 21 : 19)

Tanggal 8 September 1900 angin badai melanda Galveston, Texas, Amerika Serikat. Angin yang diperkirakan berkecepatan lebih dari 225 km/jam dan gelombang setinggi 4 meter menerjang daratan. Akibatnya lebih dari 6.000 orang tewas dan lebih dari 3.600 rumah rusak. Setelah bencana, penduduk Galveston membuat perubahan radikal. Mereka membangun dinding laut setinggi 5 meter dan sepanjang 4,8 km untuk melindungi wilayah mereka. Dengan rekayasa pegunungan pasir dan tanah, mereka juga menaikkan ketinggian seluruh kota beberapa meter. Sehingga, ketika badai dengan kekuatan yang sama melanda daratan itu beberapa tahun kemudian, hanya sedikit kerusakan yang terjadi.

Kalau saat ini Tuhan izinkan badai memporak-porandakan hidup Anda, apa yang Anda belajar dari kerusakan itu? Apakah Anda menyalahkan keadaan dan tetap tidak mau memperbaiki diri? Atau Anda belajar dari kerusakan itu dan memperbaiki diri serta meningkatkan kualitas diri agar kelak saat badai yang sama terjadi Anda tetap berdiri teguh? Pilihan kita dalam merespon kerusakan yang terjadi sangat menentukan apakah kita akan tetap berdiri teguh atau jatuh berulang kali untuk masalah yang sama. Petrus sengaja Tuhan berikan pertanyaan yang sama sampai tiga kali untuk meneguhkan imannya. Beberapa waktu sebelumnya Petrus baru saja mengalami badai yang membuatnya sangat terpukul yaitu ia mengingkari janjinya untuk tetap setia kepada Tuhan sampai tiga kali. Yesus sangat mengerti perasaan Petrus sehingga Ia kuatkan dia dan berikan kepercayaan lagi. Petrus mau belajar dari badai yang baru saja ia alami. Petrus tetap setia dan tidak mengingkari imannya. Bersyukurnya, Yesus masih memberi kesempatan dan kepercayaan kepada Petrus.

Belajarlah dari badai yang sebelumnya Anda alami dan lakukan perubahan positif, maka Anda akan semakin kuat dan tidak akan jatuh tergeletak saat dihantam badai yang sama. • Richard

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Spirit Motivator – Rabu, 26 Juni  2013
Pertanyaan    : Apakah saya mau belajar dari kesalahan?
Aplikasi          : Belajarlah dari “badai” sebelumnya yang kita alami.
Doa                 : Tuhan, ajar kami mau belajar dari kesalahan-kesalahan kami. Amin.

Jumat, 31 Mei 2013

Pengalaman Pribadi

Baca : Ayub 42 : 1 – 6
Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. (Ayub 42 : 5)

Seberapa kuat seseorang dapat mengingat sesuatu? Fakta berbicara bahwa rata-rata orang bisa mengingat sekitar : 10% saja dari apa yang ia baca. 20% saja dari apa yang dia dengar. 50% saja dari apa yang pernah didengar dan dilihatnya sendiri. 90% dari apa yang dialaminya sendiri. Pengalaman pribadi jauh lebih membekas daripada pengalaman orang lain yang kita dengar di radio, lihat di TV, atau baca di buku. Kita pun tentu masih ingat kejadian-kejadian tertentu di masa lalu yang sangat mengubah kehidupan kita.

Kisah Ayub menjadi inspirasi bagi banyak orang karena menceritakan pengalamannya berjumpa dengan Tuhan yang begitu dalam. Ayub kehilangan seluruh harta bendanya, kehilangan semua anaknya, dan terakhir kehilangan kesehatannya. Ayub yang harus kehilangan segala-galanya kini mengerti mengapa Tuhan melakukan hal itu pada dirinya. Ayub akhirnya menyesal dan mencabut perkataannya. Setelah itu Tuhan memberkati hidup Ayub dua kali lipat daripada keadaan dia sebelumnya. Kita sangat semangat kalau membaca kisah Ayub, namun maukah kita juga mengalami apa yang dialami Ayub? Maukah kita membiarkan Tuhan memproses kita sama sakitnya seperti yang Ayub rasakan agar rohani kita bertumbuh dan makin kenal Tuhan? Kita ingin merasakan sendiri bagaimana Tuhan bekerja melalui hidup kita. Namun, jarang ada orang yang mau. Sebagian orang inginnya hidup nyaman, dijauhkan dari penyakit berat, usaha jangan bangkrut, jangan sampai dipecat bos, keuangan oke, pelayanan oke, dan aneka hal baik lainnya.

Jika saat ini Tuhan ijinkan kita alami masalah berat seperti Ayub, tetaplah tabah dan tidak berpikir negatif pada Tuhan. Tuhan ijinkan kita alami penderitaan pasti dengan tujuan yang baik. Kelak saat kita dipulihkan, kondisi rohani kita jauh lebih kuat dan tahan uji. Kita mampu berbagi pengalaman hidup kita dan menguatkan saudara-saudara kita yang ditimpa kesusahan. Kita bisa dengan mudah tahu kebutuhan seseorang dalam hal tertentu karena kita pernah mengalaminya. Tuhan sedang bekerja secara pribadi dalam hidup kita, tetaplah semangat dan bersukacita. • Richard

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Pagi – Jumat, 24 Mei 2013
Pertanyaan    : Apakah saya orang yang tabah.
Aplikasi          : Tetap berpikir positif saat ditimpa musibah.
Doa                 : Tuhan, ajar saya selalu berpikir positif tentang-Mu. Amin.

Selasa, 30 April 2013

Hindari Para Pengeluh

Baca : I Korintus 15 : 33 – 34
Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. (I Korintus 15 : 33)

Pilihan Anda berkenaan kelompok teman akan menjadi faktor penentu kesuksesan atau kegagalan dalam hidup Anda. Suatu percakapan akan bertindak seperti penegasan bagi Anda sementara lawan bicara memberi makan Anda dengan padangan mereka yang positif atau negatif. Jika tidak ada orang yang diajak bicara, maka membacalah buku-buku yang positif. Isilah terus pikiran Anda dengan hal-hal positif.

Mengapa ada beberapa orang tidak suka melihat Anda bertumbuh dan melakukan satu tindakan yang lebih produktif daripada mereka? Karena saat Anda bertumbuh, mulai terlihat kekurangan mereka. Misalnya Anda tidak pernah curi waktu untuk bergosip saat jam kerja sedangkan beberapa rekan Anda suka bergosip, maka akan terlihat Anda lebih baik daripada mereka. Beberapa orang bahkan secara agresif akan menyerang Anda. Oleh karena itu hindari orang-orang yang suka mengeluh karena mereka akan melemahkan semangat Anda untuk menyelesaikan sisa hari ini dengan penuh kemenangan. Hindari teman-teman yang membuat diri Anda tidak maksimal dan kompromi dengan dosa. Firman Tuhan mengajar kita untuk memperhatikan pergaulan kita, karena itu akan sangat mempengaruhi pola pikir kita. Kalau selama ini kita lebih banyak mendengarkan omongan rekan kerja yang selalu negatif, kritikal kepada perusahaan namun dirinya sendiri tidak memberikan kontribusi terbaik, atau mengeluhkan ini dan itu tetapi tidak mau memperbaiki diri, mulailah jaga jarak.

Orang-orang yang suka mengeluh adalah bagian dari problem, dan suatu problem tidak pernah dipecahkan dengan mengeluh tentangnya. Siang ini, mari isi waktu istirahat kita dengan lebih suka bergaul dengan orang-orang yang optimis dan selalu bereaksi positif saat menghadapi problem. Jangan sia-siakan waktu Anda yang berharga untuk mendengarkan omongan orang-orang yang tidak bisa menikmati tantangan dan tidak mau fokus pada solusi. • Richard

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Siang – Kamis, 25 April 2013
Pertanyaan    : Omongan orang-orang positif atau negatif yang selama ini kita dengar?
Aplikasi          : Bergaulah dengan orang-orang yang optimis.
Doa                 : Tuhan, ajar kami memiliki pergaulan yang positif. Amin.

Pilihan Hidup

Baca : Ulangan 11 : 8 – 32
Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu pada hari ini berkat dan kutuk: (Ulangan 11 : 26)

Bagi kebanyakan orang, termasuk saya, menunggu adalah sesuatu yang membosankan, apalagi kalau kita menunggu sesuatu yang tidak pasti seperti menunggu panggilan dari satu perusahaan yang beberapa waktu lalu kita masuki surat lamaran kerja, atau kita menunggu kiriman barang dari saudara di luar negeri. Sekarang coba dibalik, kalau seseorang atau sesuatu menunggu kita, apa respon kita? salah satu sosok yang selalu menunggu kita adalah impian kita sendiri. Impian menunggu kita untuk ″dijemput″ dari dunia maya ke dunia nyata.

Tuhan selalu memberikan kita kebebasan untuk memilih. Saat kita bangun pagi, ada dua pilihan yaitu bangun dan melakukan aktifitas yang berguna, atau tidur lagi. Saat kita dimarahi seseorang, ada pilihan untuk kita balik memarahi, atau kita bersabar dan mencoba memahami kenapa orang itu marah. Dalam ikut Tuhan, Tuhan pun berikan pilihan, berkat dan kutuk. Berkat kalau kita sungguh-sungguh mau ikut Dia, apapun mimpi kita yang berkenan bagi-Nya pasti akan terwujud kalau kita hidup seturut perintah-Nya. Kutuk akan kita terima kalau kita hanya sekedar tahu firman-Nya, namun malas mempratekkannya. Jadi kalau saat ini kita menerima sesuatu yang buruk, jangan buru-buru menyalahkan Tuhan atau siapapun, namun koreksilah diri sendiri lebih dulu karena bisa saja kita mengalami sesuatu yang buruk karena kita memilih untuk lebih dulu melakukan sesuatu yang buruk.

Jangan pernah biarkan hari-hari Anda diisi dengan pilihan-pilihan yang tidak bermanfaat atau Anda malas menindaklanjuti mimpi menjadi kenyataan. Hidup Anda kemarin, hari ini, maupun esok bisa bermakna atau sia-sia, berdampak atau tidak, ditentukan dari pilihan-pilihan Anda sendiri dalam mengambil setiap keputusan. Jadi, pilihlah sesuatu yang menghasilkan berkat dan berkenan bagi Tuhan sehingga Anda pun akan menuai hasil yang terbaik. • Richard

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Wanita – Senin, 8 April 2013
Pertanyaan    : Apa yang selama ini saya pilih?
Aplikasi          : Pilihlah sesuatu yang menghasilkan berkat.
Doa                 : Tuhan, ajar aku gigih mewujudkan impianku menjadi kenyataan. Amin.

Kamis, 31 Januari 2013

Beradaptasi tanpa Kompromi

Baca : Yohanes 4 : 1 – 42
Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) (Yohanes 4 : 9)

Kalau kita amati pohon bambu, kita mungkin dibuat bertanya-tanya kenapa pohon ini bisa bertahan sekalipun ditimpa angin badai. Bicara masalah batang yang kuat, pohon jati jauh lebih kuat. Bicara masalah akar, akar pohon pinus jauh lebih dalam. Rahasia pohon bambu bisa bertahan adalah karena sikapnya lentur. Kemana angin bertiup, ia ikut. Namun tubuhnya tetap tertancap di tanah. Saat angin tidak bertiup ia akan berdiri tegak di tanah.

Apakah siang ini kita bimbang menghadapi satu masalah pelik? Jangan kaku, namun beradaptasilah tanpa kompromi dengan dosa. Sikap kita yang lentur akan memampukan kita bisa membawa diri dengan siapapun dan sanggup menyelesaikan masalah serumit apapun. Yesus adalah pribadi yang bisa beradaptasi dengan siapapun tanpa kompromi dengan dosa. Saat ia sampai di kota bernama Sikhar dan beristirahat sejenak di sumur, Yesus berani mendobrak adat orang Yahudi yang tidak bergaul dengan orang Samaria. Yesus tahu perempuan yang dihadapinya sudah gonta-ganti pasangan sampai lima kali, namun Yesus dengan ramah mau bicara padanya lalu menyampaikan kebenaran firman. Yesus memang benci dengan dosa, namun Ia mau mengasihi orang berdosa dan menuntunnya kembali ke jalan yang benar. Hasilnya, ada banyak orang Samaria percaya kepada-Nya.

Beradaptasi bukan plin-plan atau tak punya pendirian, tapi kita mampu bergaul dengan siapa pun sambil tetap menjaga diri dan iman. Kita tetap melakukan sesuatu yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan tanpa menghancurkan orang yang tidak setuju dengan kita. Beradaptasilah dengan keadaan apapun yang kita hadapi saat ini, maka kita akan menuai kemenangan. Lenturlah seperti pohon bambu sehingga kita tetap kuat dan sanggup menghadapi angin masalah. • Richard T.G.R

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Siang – Kamis, 24 Januari 2013
Pertanyaan    : Apakah saya mampu beradaptasi?
Aplikasi          : Beradaptasi bukan plin-plan atau tak punya pendirian.
Doa                 : Tuhan, bantu kami untuk lentur seperti pohon bambu. Amin.