Website counter

Minggu, 31 Maret 2013

Cuma Bonus

Baca : Yohanes 6 : 25 – 59
Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. (Yohanes 6 : 26)

Awal bulan September lalu saya donor darah di PMI. Karena tahun 2012 ini sudah tiga kali donor, saya dapat hadiah kaos. Saya pasang foto kaos itu di wall FB saya untuk memotivasi rekan-rekan saya untuk donor juga. Hasilnya beberapa rekan tertarik untuk donor karena pengen dapat kaos yang menurut mereka bagus. Padahal, kaos itu hanya bonus. Tujuan utama saya donor adalah agar badan sehat, menolong sesama, dan secara tidak langsung cek up kesehatan gratis.

Girls, apa sih tujuan utama kita jadi seorang Kristen? Apakah supaya diberkati Tuhan dengan kesehatan, kekayaan, pekerjaan, jodoh, dan berbagai hal lainnya? Apakah supaya hidup kita jauh lebih mudah dan orang melihat kita sebagai sosok yang baik karena kita Kristen? Tujuan utama kita jadi Kristen adalah mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (Matius 6 : 33). Setelah jadi Kristen, kita pun wajib memberitakan Injil (Matius 28 : 16 – 20). Sayangnya, ada sebagian orang justru lebih sibuk mengejar bonus yang Tuhan janjikan. Kita giat pelayanan, giat bekerja, giat ini giat itu demi memenuhi kebutuhan hidup, namun malas kalau disuruh menginjil. Malas untuk mempraktekkan kebenaran FirTu. Hasilnya, kita kecewa saat Tuhan tak berikan apa yang kita mau, sama seperti yang dialami orang banyak yang menemukan Yesus disebrang laut. Mereka mencari Yesus bukan karena telah melihat tanda-tanda, namun karena telah makan roti. Artinya mereka ikut Yesus karena hanya berharap berkat jasmani-Nya, namun tidak mempedulikan misi Yesus yang lebih besar yaitu memberikan hidup kekal kepada mereka. Saat Yesus tantang mereka percaya kepada-Nya dan hidup seturut kehendak-Nya, segera mereka meributkan silsilah-Nya. Ujung-ujungnya mereka mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia (ayat 66).

Yuk, koreksi diri, apakah selama ini aku hidup hanya untuk mengejar bonusnya Tuhan, atau aku hidup untuk mendapatkan hidup kekal di sorga dan membawa sebanyak mungkin orang ke sorga? Jangan sia-siakan hidup hanya untuk mengejar hal-hal yang duniawi. • Richard

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Spirit Next – Kamis, 21 Februari 2013

Modal $ 70

Baca: Matius 16 : 21 – 28
Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? (Matius 16 : 26)

Beberapa orang pernah memperingatkan Pat Robertson agar jangan terlalu berani menyuarakan pendiriannya sebagai orang Kristen, karena bisa-bisa ia kehilangan seluruh Christian Broadcasting Network (Jaringan Penyiaran Kristen yang dirintisnya, Red). Namun, ia menjawab, ″Saya memulainya dengan modal 70 dolar, dan sekarang di saku saya setidaknya ada 100 dolar, jadi saya pikir saya akan terus bersikap sama.″ Melalui jawabannya itu, sesungguhnya ia mengungkapkan cara pandangnya terhadap jaringan penyiaran seharga setengah miliar dolar yang didirikannya.

Hamba Tuhan, Kristus jauh lebih penting daripada segala pencapaian, reputasi, dan harta benda yang berhasil Anda kumpulkan sepanjang hidup. Puji Tuhan kalau sekarang keadaan gereja Anda sudah bagus, memiliki gedung gereja yang mampu menampung banyak jemaat, ada kendaraan buat mengantar jemput, masyarakat sekitar pun mendukung pelayanan Anda. Namun di satu sisi, tetapkah kita terus menyuarakan kebenaran firman Tuhan, sekalipun kita tahu resiko dari kita berani melakukannya adalah kita kehilangan segala kenyamanan kita? Bisa saja gereja kita akan ditutup paksa, kita akan dikucilkan oleh warga sekitar, atau saat ibadah jemaat kita diteror baik secara langsung maupun tak langsung. Tuhan Yesus jauh-jauh hari sudah tahu hal ini akan terjadi, sehingga Ia memberitahu kita, termasuk syarat-syarat mengikut Dia. Kalau kita lebih sayang kepada segala pencapaian kita di bumi dan berhenti mewartakan kebenaran, maka kita akan kehilangan nyawa. Buat apa kita berhasil di bumi, namun gagal di mata Tuhan dan ditolak?

Senyaman apapun keadaan kita hari ini dan berapapun fasilitas yang kita punya, Kristus adalah yang terutama dalam hidup kita. Tetap wartakan kebenaran firman sampai kapan pun dan jangan pernah kompromi dengan dunia yang membujuk, bahkan memaksa kita menurunkan standar iman. Lebih baik kita kehilangan nyawa atau kenyamanan kita di bumi namun mendapatkan sorga, daripada mendapatkan seluruh kenyamanan di bumi namun kehilangan nyawa. • Richard

Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Spirit Penuai – Kamis, 21 Februari 2013

Berduka karena Saul

Baca : I Samuel 15 : 1 – 35
"Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku." Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman. (I Samuel 15 : 11)

Beberapa minggu yang lalu saya menderita karena suatu keadaan di mana saya harus mendisiplin seseorang. Saya harus mengeluarkan orang ini dari group usher yang saya pimpin karena dia setengah hati dalam melayani dan berulang kali bertindak semaunya sendiri. Walaupun saya merasa sudah melakukan hal yang benar, dan dengan cara yang benar, saya masih berduka karena dia. Saya turut merasakan kesusahan akibat kesalahan yang dia perbuat.

Hamba Tuhan, konfrontasi memang sangat tidak menyenangkan dan kita sebisa mungkin tidak melakukan hal ini. Namun kalau keadaan memang mengharuskan kita konfrontasi, beranilah melakukan hal itu meski kita merasa sakit hati. Samuel merasa sakit hati saat Tuhan berbicara kepadanya perihal Saul yang tidak taat. Saul mendapat perintah dari Tuhan untuk membinasakan semua orang Amalek tanpa kecuali (ayat 3), namun Saul melaksanakan perintah itu setengah hati dengan menyelamatkan Agag dan segala ternak orang Amalek yang tambun. Karena ketidakpatuhannya ini Tuhan menyuruh Samuel berkata kepada Saul bahwa dia ditolak sebagai raja dan Tuhan sudah memberikan jabatan raja kepada orang lain yang lebih baik darinya. Samuel sakit hati karena ia sangat mengasihi Saul, dia sendiri yang mengurapi Saul, dan pasti sangat berharap Israel akan menjadi bangsa yang takut akan Tuhan dan disegani bangsa-bangsa lain. Namun yang terjadi Saul bertindak demi kepentingannya sendiri dan tak mau taat akan perintah Tuhan. Suka tidak suka, Samuel harus memberitakan kabar pemecatan ini kepada Saul.

Konfrontasi berisiko dan harus dilakukan hanya setelah kita mempersiapkan hati dengan saksama di hadapan Tuhan. Jangan ragu mendisiplin orang yang berulang kali diberi kesempatan untuk berubah namun tidak mau berubah. Memang kita akan turut merasakan derita disiplin yang kita lakukan, namun itulah tanda kita seorang gembala yang baik, gembala yang mau memukul dombanya yang bandel agar taat. • Richard


Catatan          : Renungan ini dimuat di Renungan Spirit Penuai – Sabtu, 16 Februari 2013