Website counter

Jumat, 28 Desember 2012

Ethel Hatfield

Baca : Mazmur 92 : 13 – 16
Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya. (Mazmur 92 : 15 – 16)

Jika hari ini Anda merasa tidak mampu menjadi pejuang yang berkarakter karena faktor usia, mari kita belajar dari Ethel Hatfield yang ingin melayani Tuhan di sekolah minggu pada usia 76 tahun. Ketika ia menyampaikan niatnya kepada pendeta gerejanya, pendeta tersebut berkata ia sudah terlalu tua. Dengan sedih ia mengurungkan niatnya dan menekuni hobinya berkebun. Satu hari, seorang mahasiswa keturunan China lewat dekat rumahnya dan berhenti. Ia mengomentari keindahan bunga-bunga mawarnya. Saat berbincang itulah, Ethel menceritakan siapa Yesus. Dari satu mahasiswa, ia berhasil menginjili beberapa mahasiwa lainnya. Ketika ia meninggal dunia, ada sekitar 70 orang keturunan China yang sudah percaya menghadiri upacara pemakamannya. Seorang wanita tua mampu memenangkan puluhan jiwa di masa-masa terakhir hidupnya.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, usia bukan alasan atau halangan untuk kita melayani Tuhan. Memang betul ada beberapa tindakan yang sudah tidak bisa kita lakukan, namun tetap masih banyak tindakan yang bisa kita lakukan. Firman Tuhan berkata orang benar tetap berbuah dan segar walau mereka sudah tua. Berbuah dan segar di sini artinya kita tetap mampu memenangkan jiwa-jiwa baru dan memiliki kekuatan lebih untuk mengajak sebanyak mungkin orang mengenal Yesus. Tubuh jasmani kita memang akan memaksa kita untuk lebih banyak diam dan fokus pada kepentingan diri sendiri. Iblis pun tak pernah absen untuk membujuk kita agar jangan banyak tingkah atau celaka. Meski begitu, tetaplah kerjakan bagian kita sebagai murid Yesus. Kalau Tuhan gerakkan hati kita untuk melayani di bidang tertentu, pasti Ia berikan kita kemampuan dan kekuatan di situ.

Orang tua yang lebih banyak diam justru lebih mudah sakit-sakitan daripada orang tua yang tetap aktif bekerja. Aktif melayani di usia senja akan membuat tubuh kita lebih sehat dan tubuh rohani kita sehat dan semangat. Turuti panggilan Tuhan untuk melayani, berapa pun usia kita hari ini. • Richard T.G.R

Catatan          : Renungan ini dimuat di RHK Aletea – Jumat, 16 November 2012
Pertanyaan    : Apakah usia menjadi alasan kita untuk malas-malasan?
Aplikasi          : Selama masih bernafas kita masih bisa melayani Tuhan.
Doa                 : Tuhan, berikan aku kekuatan lebih untuk tetap mampu melayani-Mu. Amin.

Turuti Aturan Tuhan

Baca : Matius 7 : 24 – 27
Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. (Matius 7 : 24)

Seminggu yang lalu salah seorang rekan saya menderita batuk yang cukup parah sehingga saya kemudian menemaninya berobat ke dokter. Setelah diperiksa oleh dokter, ia menerima resep yang bisa ditukar obat di apotik. Ada tiga jenis obat yang ia terima. Dua jenis obat harus diminum tiga kali, sedangkan yang satu dimimun dua kali. Seminggu kemudian saya bertemu dia kembali, ternyata masih sakit. Saya lalu bertanya kok belum sembuh. Setelah mendengar penuturannya, saya akhirnya tahu ia ternyata tidak menuruti aturan pakai. Kadang ia minum obat, kadang tidak. Alasannya ia sibuk bekerja sehingga kadang lupa minum obat. Saya lalu menasehatinya agar teratur minum obat sesuai aturan agar lekas sembuh.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, sakit secara jasmani akan sembuh kalau kita mematuhi nasihat dokter untuk sementara makan makanan tertentu dan mengkonsumsi obat dengan benar. Memang penyakit kita bisa sembuh kalau kita bandel tidak minum obat sesuai aturan atau melanggar pantangan, namun memakan waktu lama. Untuk penyakit kelas berat, penyakit itu tidak akan sembuh bahkan makin parah kalau kita tidak taat aturan. Kerohanian kita pun sama. Tuhan sudah berikan resep sederhana melalui cerita dua macam dasar. Kalau kita ingin kuat secara rohani, lakukan setiap perkataan Tuhan. Sederhana, bukan? Tapi mengapa sebagian orang Kristen rohani sakit-sakitan dan tidak bertumbuh padahal mereka rajin ke gereja dan pelayanan? Karena mereka melakukan perkataan Tuhan dengan setengah hati atau pilih-pilih. Kalau firman Tuhan yang ia terima cocok dengan kemauan hatinya, maka ia lakukan. Namun kalau firman Tuhan itu menggusik kebiasaan dosanya atau membuatnya harus berkorban, tak mau dilakukan. Akibatnya mereka kerap lemah rohani, terlibat konflik di sana sini, dan tidak menjadi garam dan terang dunia.

Kepatuhan adalah harga mati untuk kita mampu menjadi pejuang yang berkarakter. Tuhan sudah berikan rahasia sederhana kita sehat rohani sehingga bisa menjadi pejuang yang berkarakter. Lakukan dengan patuh dan tidak pilih-pilih. • Richard T.G.R

Catatan          : Renungan ini dimuat di RHK Aletea – Selasa, 13 November 2012
Pertanyaan    : Apakah aku seseorang yang patuh kepada kebenaran firman Tuhan?
Aplikasi          : Lakukan kebenaran firman Tuhan tanpa pilih-pilih.
Doa                 : Tuhan, ajar aku mematuhi semua aturan-Mu. Amin.

Pejuang yang Berkarakter

Baca : Kejadian 18 : 16 – 33
Katanya: "Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu." (Kejadian 18 : 32)

India berada dibawah penjajahan Inggris sejak tahun 1858. Pada tahun 1919, Kongres Nasional India yang dipelopori Mahatma Gandhi memulai gerakan Hartal. Banyak tantangan yang harus dihadapi Gandhi yang memimpin rakyat India untuk menuntut kemerdekaan dengan jalan damai seperti penembakan terhadap ribuan rakyat India, dimasukkan dalam penjara, sampai rela berpuasa sampai 21 hari. Pemerintah Inggris di tahun 1930 pun pernah mengeluarkan peraturan garam yang untuk menekan perlawanan rakyat, namun hasilnya nihil karena Gandhi memelopori pembuatan garam sendiri di pantai Dandhi. Tanggal 15 Agustus 1947 merdeka. Setelah India merdeka, Gandhi kembali menjalankan aksi puasanya untuk mendamaikan perseteruan 2 kelompok agama. Meski berhasil, segala perjuangan Gandhi akhirnya harus berakhir karena ia ditembak mati oleh seseorang yang tidak setuju akan tindakannya yang dinilai terlalu membela umat Muslim.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, menjadi pejuang yang berkarakter tentu impian banyak orang. Kita bisa menjadi pejuang yang berkarakter di gereja, di tempat kerja, di keluarga, maupun di lingkungan sosial. Pada prakteknya sangat tidak gampang karena lebih banyak orang yang tidak berkarakter daripada orang yang berkarakter dan mau berjuang. Kita akan ditentang dan berusaha dijatuhkan saat berusaha berjuang membela kebenaran firman Tuhan. Meski begitu, tetap lakukan bagian kita dengan setia, masalah hasil biarlah itu menjadi bagian Tuhan. Saat Abraham tahu dari Tuhan bahwa Sodom dan Gomora akan dihukum karena sangat berat dosanya, Abraham berjuang sekuat tenaga agar Tuhan mengubah keputusannya. Dari lima puluh orang benar sampai sepuluh orang benar, Abraham terus berusaha. Hasilnya kedua kota ini tetap dimusnahkan karena tak ada sepuluh orang benar, namun Abraham sudah menjadi pejuang yang berkarakter dalam hal mengasihi orang benar.

Jika saat ini Anda sedang berjuang menjadi seseorang yang berkarakter dan menghadapi banyak tantangan, tetaplah lakukan bagian Anda seperti yang Abraham dan Gandhi lakukan. Jangan fokus pada hasilnya, namun nikmati proses Tuhan membentuk Anda menjadi pribadi yang berkarakter. • Richard T.G.R

Catatan          : Renungan ini dimuat di RHK Aletea – Kamis, 1 November 2012
Pertanyaan    : Apa yang sudah saya lakukan untuk menjadi pribadi yang berkarakter?
Aplikasi          : Lakukan bagian Anda dan jangan campuri bagiannya Tuhan.
Doa                 : Tuhan, kuatkan saya untuk terus menjadi pejuang yang berkarakter. Amin.